Kacamata Hati

Share Button

Dalam artikel ini akan disampaikan hal yang – mungkin – berbeda menurut kebanyakan orang. Berbagai tulisan yang dirangkai oleh beberapa penulis banyak disinggung masalah ‘hati’, namun kata ‘hati’ tersebut sangat jarang sekali disandingkan dengan kata ‘kacamata’ melainkan lebih banyak disandingkan dengan kata ‘mata’. Sehingga dari tulisan yang mereka buat jadilah istilah ‘mata hati’. Mata hati yang mengandung arti kekuatan dan unsur inti dari hati. Kekuatan untuk mengambil keputusan dengan mempertimbangkannya melalui hati. Mungkin juga mata hati dapat diartikan sebagai kekuatansupranatural. Dikatakan supranatural karena mungkin keputusan yang akan diambil mengenai sesuatu secara murni (natural) diambil dari ‘lubuk’ hati yang terdalam.

Sangat berbeda, baik secara lafadz maupun makna. Dalam artikel ini bahasan yang akan diambil tentang ‘kacamata hati’. Sungguh!.,sangat berbeda dengan ‘mata hati’ seperti yang dikemukakan di atas dan yang diketahui oleh kebanyakan orang. ‘Kacamata’ disini lebih bersifat memperbaiki, mengarahkan, dan membuat terang. Tidak rabun.

Seperti kita ketahui bahwa kebanyakan orang yang menggunakan kacamata adalah mereka yang mengalami masalah dalam penglihatan. Mereka tidak mampu melihat dengan jelas suatu benda yang ada di depan meraka. Entah itu dalam jarak dekat maupun jauh. Entah itu benda kecil maupu besar. Entah itu berwarna terang maupu gelap. Mereka memerlukan kacamata tersebut karena ingin melihat lebih jelas suatu benda. Melihat lebih jelas bentuk, ukuran, warna, macam dan lain sebagainya. Melihat dengan jelas sama seperti apa yang dilihat oleh orang-orang yang normal. Ada lagi yang menggunakan kacamata dikarenakan mata mereka sudah mulai tua (katarak) yang dimana gangguan ini lebih banyak dialami oleh orang-orang yang sudah sepuh. Namun, selain itu semua ada pula orang-orang yang menggunakan kacamata bukan karena mengalami masalah dalam penglihatan. Mata mereka normal, dapat fokus pada suatu objek baik dari jarak dekat maupun jauh, bahkan mereka dapat melihat dengan jeli dan jelas noda kecil hitam yang menempel pada baju putih nan bersih. Ya!., merekalah orang-orang yang terbawa arus trend dan mode. Mereka menggunakan kacamata bukan karena penglihatan mereka terganggu, melainkan karena sytle, ingin keren, ingin dilihat berbeda, ingin tampak seperti pria macodan wanita trendy lagi imut. Tetapi dalam artikel ini tidak akan dibahas mengenai ‘kacamata’ yang dipakai oleh mereka yang hanya ingin terlihat stylist, maco, trendy, karena korban trend dan mode. Melainkan akan dibahas mengenai ‘kacamata’ yang lebih bersifat memperbaiki, mengarahkan, dan membuat terang.

Kata kedua dari judul artikel ini adalah ‘hati’. Banyak definisi dari ‘hati’ yang dikemukakan oleh beberapa penulis, baik itu ‘hati’ dalam arti anatomi medis maupun ‘hati’ dalam arti psikis. Jika ditilik dari segi anatomi, hati merupakan salah satu organ penting dalam tubuh, baik itu manusia maupun hewan, kira-kira terletak di bawah rusuk dan di atas perut. Beratnya berkisar antara 1200 – 1600 gram. Memiliki banyak fungsi, salah satunya sebagai detoksifikasi yaitu membersihkan dan membuang zat-zat yang berbahaya dari dalam tubuh. Hati menerima aliran darah sekitar 1500 ml permenit. Besarnya hati kurang lebih seperti bola rugby, bola yang digunakan oleh para atlet rugby di Amerika. Itulah sedikit gambaran tentang hati dilihat dari anatomi (ilmu tentang bagian-bagian tubuh).

Namun, jika ditilik dari makna kiasan, kata ‘hati’ mengandung banyak sekali penafsiran. Tergantung dari sudut mana mereka memandang. Termasuk dari sudut mana mereka menilai. Tergantung pula dari siapa yang menyikapinya. ‘Hati’ dalam bahasa arab semakna dengan Qolb, antara lain memiliki arti berubah-ubah, bolak-balik, maju-mundur. ‘Hati’ terkadang disamaartikan juga dengan lathifah. Sesuatu yang sangat halus. Sesuatu yang sangat lembut. Sesuatu yang tak berupa dan tak dapat diraba namun dapat dirasakan. Hati yang karenanya keadaan seseorang menjadi senang, jiwa menjadi tenang, raut wajah menjadi riang. Hati yang karenanya pula keadaan seorang hanya menjadi pasrah, jiwa menjadi gelisah, raut wajah pun menjadi susah. Ya, itulah ‘hati’, susah ditebak jika dilihat dari makna kiasannya.

Lalu sebenarnya apa kaitan antara kacamata dan hati?. Kacamata yang ‘hanya’ berfungsi untuk mengarahkan, memperbaiki, dan membuat terang dikaitkan dengan hati yang notabane­-nya ‘sesuatu’ yang tidak jelas dan susah ditebak jika dilihat dari makna kiasan. Sulit memang dikaitkan tetapi secara jujur, keduanya sangat bisa dan sangat besar keterkaitannya.

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap manusia pastilah memiliki hati, karena hati merupakan salah satu organ penopang tubuh. Tanpa adanya hati seseorang tidak akan bisa hidup, kecuali bagi mereka yang oleh-Nya diizinkan untuk hidup. Tanpa adanya hati proses detoksifikasi dalam tubuh manusia tidak akan berjalan lancar, kecuali yang oleh-Nya diizinkan untuk itu (detoksifikasi). Dengan kata lain peranan hati dalam tubuh manusia sangatlah besar. Penting dan berpengaruh. Perspektif ini jika kita lihat dari makna hati sebenarnya. Demikian pula jika dilihat dari perspektif  kiasan, hati pun memiliki peranan yang sangat besar. Penting dan berpengaruh. Karena dengan hati perilaku seseorang dapat menjadi baik bak malaikat atau bahkan dapat melebihinya, dan dengan hati pula perilaku seseorang dapat menjadi buruk nan hina bak binatang atau bahkan lebih rendah darinya. Itulah hati jika dilihat dari perspektif lain.

Sudah menjadi kodrat manusia dan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh-Nya bahwa hati manusia dapat terkena dan terjangkit suatu ‘penyakit’. Bahkan dapat pula bersemayam didalamnya suatu ‘penyakit’ dalam waktu yang lama. Entah‘penyakit’ itu menimpa hati dalam makna sebenarnya atau ‘hati’ dalam makna kiasan. Khusus dalam makna kiasan, ‘penyakit’ yang menimpa hati seorang manusia lebih dikenal dengan ‘penyakit hati’. ‘Penyakit hati’ yang ada di dalam diri manusia sangatlah bermacam-macam dan sesuai kadarnya masing-masing. Ada manusia yang sekali waktu memiliki beberapa penyakit hati, waktu yang lain berjubel iri, dengki, hasad, hasud, sombong, dan lain sebagainya. Itulah sebagian penyakit hati diantara sekian banyak penyakit hati. Manusia yang sudah terinfeksi penyakit hati akan melakukan apa saja untuk memuaskan penyakit hatinya. Dengan cara dan dengan jalan apapun. Kepada siapa dan dimanapun. Pada saat bagaimana dan di waktu kapanpun. Seseorang yang terjangkit dalam hatinya penyakit iri dan dengki atas kekayaan dan keberhasilan orang lain akan berusaha dengan cara dan jalan apapun untuk mengurangi kekayaan dan menjatuhkan keberhasilan orang tersebut. Ia tidak pandang bulu kepada siapa-pun ‘pembalasan’ itu akan ia lakukan. Ia, akan menggunakan berbagai cara, taktik, metode, dan ‘jalan keluar lainnya’ untuk terus menjatuhkan orang tersebut. Ia pun tidak akan memperdulikan tempat dan waktu. Di matanya sesuatu yang salah dan dilarang akan dianggap benar dan diperbolehkan. Sifat setan telah terjangkit dan bersemayam di dalam hatinya. Bahkan ia tidak segan-segan untuk membinasakan kekayaan dan ‘membunuh’ keberhasilan jika cara-cara terbaik yang ia rencanakan gagal dilakukan. Karena nafsu telah menguasainya. Itulah manusia jika sudah terkangkit dan terkena penyakit hati. Kedudukannya seperti binatang atau bahkan jauh berada di bawah derajat mereka.

Namun, meskipun demikian ada penawar yang sangat mujarab yang diberikan oleh Allah SWT untuk menetralisir ‘penyakit setan’ tersebut. Penawar itu adalah akal. Ya!!!. Akal. Allah SWT memberikan kelebihan akal kepada manusia yang dengannya membedakan ia dengan malaikat dan juga binatang. Allah SWT mengangkat derajat manusia melebihi malaikat karena adanya akal. Dan merendahkan derajat manusia melebihi binatang karena adanya nafsu. “Innanafsa al-Ammaarotu bissu’i”. Sesungguhnya nafsu menyuruh (condong) kepada keburukan. Marilah jaga akal kita. Janganlah akal dikuasai oleh nafsu. Tetapi haruslah nafsu dikuasai oleh akal. Sehingga dengan begitu semuanya akan terarah.

Dari apa yang telah disampaikan di atas, lalu apa sebenarnya kaitannya dengan ‘kacamata’?. Kembali kepada fungsi utama ‘kacamata’: ‘kacamata’ berfungsi dan lebih bersifat memperbaiki, mengarahkan, dan membuat terang. Hati manusia yang sedang dikuasai oleh ‘penyakit’ dan ‘nafsu setan’ yang notabane-­nyasedang rusak, tidak terarah (kalut), dan rabun dapat dinetralisir dan diobati dengan menggunakan ‘kacamata’. Segeralah menggunakan ‘kacamata’ ini jika penyakit hati akan menghampiri. Perintahkanlah kepada akal untuk memasang ‘kacamata’ dengan baik pada hati yang sedang rabun dan kotor. Perintahkanlah pula kepada akal untuk mengemudikan hati yang rabun lagi kotor tersebut dengan ‘kacamata’ terbaik yang ia punya. Gunakanlah ‘kacamata hati’ di saat hati sudah mulai rabun, mulai berdebu, dan mulai kotor agar semuanya terlihat jelas dan indah. ‘Kacamata’ tersebut adalah iman. Iman yang telah Alloh SWT berikan kepada setiap muslim yang menyatakan bahwa yang haqq adalah haqq dan yang bathil adalah bathil.

  Ketahuilah bahwa iman juga bisa bertambah atau berkurang, maka sebuah keniscayaan bagi orang yang beriman untuk selalu bertawakkal kepada Alloh. Agar semoga Alloh selalu memberikan kita kekuatan menggerakkan kacamata iman, mampu bersukur ketika mendapat nikmat, tabah dan sabar ketika mendapat cobaan. Akal hanya mampu memberikan pertimbangan, segalanya dari Alloh. Masalah hati bukan masalah sepele, detik ini terobati beberapa detik kemudian bisa kambuh lagi. Tiada daya (menolak kemaksiatan) dan upaya (melaksanakan ketaatan) kecuali atas izin Alloh (IR)

Comments

comments

Share Button

You may also like...