Khusnudzon itu Indah

Share Button

Senja kala itu, sewaktu kang Jono singgah di sebuah musholla kecil untuk menunaikan sholat maghrib. Sayup-sayup adzan yang berkumandang di musholla itu sangat memekikkan telinga orang yang mendengar. Adzan yang sedari tadi terdengar cempreng dan terbata-bata, kini mulai melirih hingga akhirnya berhenti.
“Oh sungguh menyayat hati suara muadzin itu, mana pemudannya,” gumam hati kang Jono.
Sehabis mengambil air wudhu, kang Jono ikut sholat berjama’ah di musholla tersebut. Ternyata si imam justru usianya jauh lebih tua dari sang muadzin tadi. Oh, lagi-lagi hati kang Jono mulai berprasangka. Kang Jono mulai gusar ketika imam membaca surah al- Fatihah.
“Masya’allah imam ini banyak sekali makhroj huruf yang tak dilafalkan dengan benar dan tepat, bacaan beliau sungguh tak enak didengar telinga,” gerutu hati kang Jono.
Yah, layaknya orang Jawa tulen yang tak bisa melafalkan ‘ain yang seharusnya dibaca alamin, tapi berubah menjadi ngalamin.
***
Selesai sholat, untuk kesekian kalinya kang Jono menggerutu, “Yok opo imam iki maeng, mocone nggak fasih blas, akeh makhroj sing nggak pas.”
Kang Jono teringat pelajaran fiqh ketika ia ngaji kepada salah satu ustadz, bahwa dalam kitab fathul mu’in dijelaskan, tidak boleh menambah atau mengurangi lafadz atau huruf yang ada dalam surah al-Fatihah ketika sholat. Apabila kurang satu huruf saja akibatnya sholat seorang musholli menjadi tidak sah.
“Jika kasusnya demikian, entah sudah berapa huruf yang dibaca pak tua tadi yang tak ditepati hak haknya, banyak huruf yang terlewati,” gerutu kang Jono.
Sambil memasang tali sepatu, di depan musholla kang Jono berprasangka lagi, ” waduh yok opo imam mau iku mocone, lha lek ngene iki mboh sah mboh nggak iki sholate wong sak mushola maeng nek imame koyo ngono.”
Bersamaan dengan itu, Pak tua yang menjadi imam tadi, terlihat sedang menuntun sepedah anginnya untuk pulang ke rumah. Hingga pak tua sampai di depan kang Jono seraya berucap, “Mas-mas sampeyan iki kok repot, urusan sah enggake lak opo jare seng kuoso, lha gusti Allah wae nggak repot kok sampeyan repot dhewe” sambil berlalu pak tua.
***
Kang Jono yang hanya bisa terpaku dan termangu dengan rasa malu yang amat sangat. Bagaimana bisa beliau tadi tau ganjalan hati kang Jono, sedang kang Jono tak sepatah katapun mengungkapkannya. Jika sudah demikian, mana yang harus didahulukan, apakah yang bacaannya fasih namun hatinya lalai, atau yang hatinya bersih dan dekat denganNYA hingga tau akan hal-hal yang samar. Kang Jono hanya tertunduk lesu sambil menyesali prasangka hatinya, menapa ia keburu nafsu seakan-akan ia lebih pandai dan lebih tau masalah hukum fiqh. Dalam pekat malam kang Jono termangu merasa malu, sungguh malu karena tak berbaik sangka.
“Ooooooh, sungguh sulit menjaga hati ini Gusti,” gumam kang Jono. (M.Gober-i3)
*Malang, 19 November 2012*

Comments

comments

Share Button

You may also like...