NGAJI BA’DA SUBUH : BERAKHLAK DAN BERTASAWUF DENGAN WAHABI

Share Button

                Ngaji subuh (ba’da Subuh.red) sebagai kegiatan wajib setelah sekolah diniyah, merupakan wadah penggemblengan santri tentang akhlak dan permasalahan-permasalahan terkini baik mencakup akidah, tasawuf, akhlak dsb. Tasawuf sendiri, merupakan ilmu yang membahas perkara-perkara yang bertalian dengan akhlak dan tazkiyat an-nafs (kebersihan hati/jiwa)yaitu, cara-cara ikhlas, khusyuk, tawadhu’, muroqobah, mujahadah, sabar, cinta, ridho, tawakkal, dan perkara hati lainnya.Sedangkan, akhlak merupakan tata karma (budi pekerti) baik yang telah diajarkan Rosululloh SAW kepada umatnya. Hal tersebut, karena Rosululloh SAW tidak diutus di dunia ini melainkanuntuk menyempurnakan akhlak yang mulia.Ilmu akidah juga merupakan ilmu yang sangat penting karena berhubungan dengan diterima atau tertolaknya suatu amal ibadah manusia kepada Allah SWT, seperti kufur, iman, dsb.

                Ketiga kategori fan ilmu tersebut (ilmu akhlak, tasawuf, dan akidah.red) telah tercakup yang langsung diberikan dan diajarkan oleh Dewan Masyayikh dalam pengajian ba’da Subuh. Tentunya dengan kitab yang berbeda. Kitab pertama adalah Al-Majalis As-Saniyah syarah dari kitab hadits Arba’in Nawawiyah. Kitab kedua,syarh Risalah Al-Mu’awwanah. Selanjutnya, kitab ketiga (terbaru) membahas seputar akidah dari golongan Wahabi dalam Al-Masaailu fil ihdzaari ‘ala al-Wahabiyyah.

Kitab Pertama dan Kedua

Kitab hadits al-Majaalisu al-Saniyahyaitu, syarah dari kitab hadits Arba’in Nawawiyah. Kitab Arba’in Nawawi sendiri berisi lebih dari 40 hadits baik yang shahih maupun yang dho’if. Diantara kumpulan hadits ini, dibahas masalah niat, akidah, tasawwuf, bid’ah, bangunan Islam, amaliyah-amaliyah dsb. Kemudian diberi  penjelasan (syarah) oleh As-Syaikh al-Imam Ajl Abi Nasir Muhammad ibn Abdurrahman a-Hamdani dengan nama kitab al-Majaalisu al-Saniyah.

Kitab kedua yang membahas ilmu tasawwuf  yaitu,syarh Risalah Al-Mu’awwanah wal Mudhoharoh wal Muwazaroh. Ta’lif oleh al-Arif Billah as-Sayyid as-Syarif Abdulloh ibn ‘Alawi Muhammad al-Haddad al-Husaini. Beliau mengawali pembahasan dengan merendahkan diri akan ketiadaan ilmu kecuali apa yang diberikan Allah SWT kepadanya. Beliau mengutip firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 32 : “Jawab mereka (Malaikat ): “ Maha Suci Engkau tidak adalah pengetahuan kami melainkan apa-apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”.  Pada bahasan selanjutnya yaitu, menjelaskan masalah taqwa ( takut kepada Allah SWT), masalah dunia dsb. Pada intinya membahas bagaimana cara orang Muslim yang mengharapkan untukmencari jalan menuju akhirat (mendekatkan diri kepada AllahSWT).

Kitab Ketiga

                Kitab selanjutnya yaituAl-Masaailu fil Ikhdzaari ‘ala Al-Wahabiyah. Kitab inisedikit berbeda dengan kedua kitab tersebut. Dalam Al-Masaailu fil Ikhdzaari ‘ala Al-Wahabiyahmembahas persoalan tentang akidah kelompok sempalan dan berjaya di negara asal mereka(Arab Saudi) yang bernama Wahabi. Kelompok ini sangat getol menentang tentang akidah, fiqh dan amaliyah-amaliyahUlama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja). Jika ada yang tidak sejalan dengan pemahaman mereka, maka kaum sawah (Salafi-Wahabi) ini tak segan-segan untuk mendebat, membid’ah-bid’ahkanbahkan lebih ekstrem lagi yakni mengkafirkan sesama muslim.Na’udzu billah. Seperti dalam masalah tawassul,tabarruk (ngalap barokah), maulid Nabi, kumpulan majelis dzikir (tahlilan, istighosah, do’a berjamaah), ziarah kubur, taqlid imam madzhab, dsb.Akan tetapi, satu kelemahan kaum sawah ini yang utama adalah menolak ajaran tasawuf (ihsan/ma’rifat).

Kata wahabi adalah bentuk nisbat terhadap pendiri kelompok ini, yaitu Muhammad Ibnu Abdul Wahhab yang lahir di Uyainah, Najd, Saudi Arabia tahun 1115 Hijriah (1703 Masehi) dan wafat tahun 1206 Hijriah ( 1792 Masehi). Abdul Wahhab ini adalah penerus paham Ibnu Taimiyah(KH. Munzir Tamam, M.A.:2011). Ibnu Taimiyah al-Harrani sendiri banyak ditentang oleh ulama’ yang sezaman dengannya. Salah satu akidah yang ditentang para Ulama’ adalah masalah jism. “ Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Zat Allah Yang Maha Suci memiliki tubuh dan tidak mustahil Allah membutuhkan bagian yang lain dari Zat-Nya” (Imam Taqiyuddin Ali Abdul Kafi as-Subki dalamkitab ad-DUrroh al-Mudhi’ah). Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani, dalam kitab ad-Durar al-Kaminah, jilid 1 halaman 154 berkata: ”Ibnu Taimiyah menyampaikan ayat tentang istiwa’, lalu berkata : ‘Allah bersemayam di atas Arsy-Nya seperti bersemayamnya aku di atas kursi ini’. Seketika, masyarakat berlarian kea rah Ibnu Taimiyah, berusaha menurunkannya dari atas kursi. Sebagian ada yang memukulinya dan melemparinya dengan sandal.”  

                Itu sekelumit pengantar tentang pendiri Salafi-Wahabi beserta gurunya. Tak lain menimbulkan gesekan-gesekan di masyarakat dan kegelisahan bagi Ulama’ Ahlus Sunnah di zamannya ataupun masa sekarang. Kegelisahan-kegelisahan serta ancaman serangan paham kaum sawah ini sudah dirasakan oleh Ulama’ kontemporer  saat ini,seperti dalam pendapat Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al- Hasani. Beliau berkata: ”Kita benar-benar telah ditimpa bencana dengan sekelompok orang yang kerjanya hanya menyebarkan tuduhan kafir dan syirik…”.Selain itu, Prof. Dr. Muhammad al-Ghazali, da’i internasional di Timur Tengah asal Mesir juga berpendapat. Beliau berkata :” Maaf, mereka hanya menjadi bencana bagi sunnah dan fitnah bagi Islam secara keseluruhan. Pada kenyataannya, sesungguhnya penyakit-penyakit jiwa ada pada mereka yang sangat fanatik itu…”

Mungkin kegelisahan itu hinggappula kepada dewan Masyayikh kita,sehingga terwujud kitab Al-Masaailu fil Ikhdzaari ‘ala Al-Wahabiyah.Hadirnya Kitab (baru) ini mungkin sudah diistikharahkan oleh Masyayikh agar para santri terhindar dari paham nyeleneh ini yang tidak sejalan dengan ulama’ Aswaja. Seperti keterangan di atas karena seorang Guru,sudah berpengalaman banyak mengenai mana ilmu yang sesuai dengan kebutuhan santri. Kita hanya bisa menyerahkan semua kepada Guru.

Hal ini, sesuai dengan perkataan Syeikh Az Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Beliau berkata:” Sebaiknya, orang yang mencari ilmu itu janganlah memilih bermacam-macam ilmu atas pilihannya sendiri, tetapi serahkanlah semua itu pada guru. Karena seorang guru adalah sudah berpengalaman banyak mengenai memilih ilmu, disamping sudah mengetahui, mana ilmu yang baik sesuai dengan akal dan tqabiat(watak orang tersebut). (maksudnya, seorang guru itu sudah bisa mengira-ngirakan terhadap muridnya. Misalnya, si Fulan itu cocoknya belajar tentang fikh, tetapi kalau si fulan yang ini pantas belajar tentang Hadits, dst.)”.  

Akhirnya, mangga kita selami kata demi kata, kalimat demi kalimat pada tiga jenis kitab pengajiansubuh ini. Untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti kita dengan mempelajari dan mengamalkan kitab pertama dan kedua. Serta menyikapi kaum Sawah yang anti tasawwuf (satu kelemahan kaum ini yang utama adalah menolak ajaran tasawuf) dengan sangat arif dan memberikan dalilnya pada mereka (Salafi-Wahabi). Tidak usah jauh-jauh, kebolehan tasawuf bisa kita ambilkan hujjah dari kitab Syarh Majalisus saniyah pada hadits kedua tentang Iman, Insan( ma’rifat ) dan Ihsan. Sehingga, kita bisa berakhlak dan (mencontohkan) tasawuf dengan mereka (Wahabi ).

Comments

comments

Share Button

You may also like...