KONSEP QONAAH DAN ETOS KERJA

Share Button

etos

 

 

Sungguh berbahagia orang yang berserah diri, dan diberi rizqi sekedar mencukupi kebutuhan dan Allah memberikan sifat Qona’ah terhadap anugrah tersebut. ( HR. Imam Muslim ).

 

 

 

Menurut kamus bahasa Arab, kata qonaah mempunyai banyak makna, yaitu

1. Rela atas pemberian yang diterimanya walaupunn jumlahnya sedikit.

2. Puas atas pemberian yang diterimanya sehingga menimbulkan berterimakasih dan ketenangan hati

3. Mematuhi taqdir yang diterimanya, tidak menolaknya

4. Meningkatkan manfaat dari pemberian yang diterimanya

5. Mohon fadilah untuk manfaat yang lebih besar.

6. Memohon sesuatu dengan tawadlu, dengan sabar walaupun belum terkabul

7. Yaqin akan manfaat karunia yang diterima.

Cara memahami qonaah

Agar supaya sifat qonaah tidak disalah fahamkan, maka perlu mengetahui prinsip-prinsip dari ajaran qonaah tersebut.

(1) Qonaaah termasuk salah satu ajaran akhlaq mulia, yang termasuk inti dari ajaran Islam. Sabda nabi, ” Saya diutus oleh Allah hanya sematamata untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Oleh karena itulah, maka ajaran qonaah harus difahami dengan semangat dan jiwa yang sama dengan ajaran akhlaq mulia yang lain, seperti ihlas, iffah (menjaga kehormatan dan harga diri), hidup sederhana, dermawan, kasih sayang dan lain sebagainya. Islam memahami ajaran qonaah tidak boleh bertentangan dengan ajaran akhlak mulia lainnya.

(2) Ajaran akhlak mulia bertentangan (berlawanan) dengan akhlak tercela. Oleh karena itu dalam memahami ajaran qonaah tidak boleh tercampur dengan akhlak tercela seperti sikap putus asa, penakut, malas berusaha, tidak berkemajuan dan lain sebagainya. Qonaah yang benar akan mempunyai natijah (hasil) yang baik dan positif. Sebaliknya jika qonaah disalahgunakan atau disalahfahamkan maka ia akan menghasilkan yang buruk dan negatif. Natijah (hasil) dari qonaah yang benar antara lain, pertama ketenangan jiwa, tidak resah gelisah atas karunia uang diterimanya. Sebagaimana firman Allah : ” Semua mahluk hidup itu pasti akan diberi rizqi oleh Allah.” (QS. Hud ; 6 ). Kedua, tidak serakah seperti pepatah jawa ” Diberi hati merogoh rempelo “. Ketiga, tidak putus asa dalam berusaha mendapatkan kemajuan dan perbaikan. Keempat, tidak malas dalam bekerja.

Qonaah dan Amal Saleh

Kondisi obyektif dati umat Islam Indonesia pada khususnya, dalam posisi tertinggal pada segala bidang, baik dekonomi, teknologi, kebudayaan maupun etos kerja. Maka janagan sammpai umat Islam menyalah fahamkan qonaah yang mengakibatkan, kemiskinan, kebodohan, kelemahan dan keterbelakangan yang mendekatkan pada kekufuran. Konsep qonaah yang benar harus digalakkan di masyarakat untuk memberantas keserakahan, kikir, keresahan dan kegelisahan yang tampaknya makin merajalela di masyarakat kita. Hal yang demikian itu semakin menambah keburukan dan kehancuran umat Islam Indonesia. Konsep qonaah yang benar, memuat dimensi-dimensi amal saleh yang memompa semangat etos kerja masyarakat muslim. Pertama, Islam memandang bahwa mencari nafkah yang halal, dipandang sebagai amal saleh. Bahkan, termasuk amal saleh yang utama yang wajib dilakukan seseorang yaitu untuk menebus dosa.

Rasulullah pernah bersabda bahwa ada dosa yang tidak dapat ditebus dengan seluruh amal saleh apapun kecuali dengan kepayahan mencari nafkah yang halal. Artinya, ketika seseorang bekerja keras dan mengalami kesusahan dan kepayahan, tetapi tetap disertai perasaan sabar, ihlas dan tawakkal, maka kepayahan itu menjadi penebus dosa yang tidak bisa ditebus dengan amal lain, seperti dzikir, istighfar dan tahajjud. Kedua, Islam tidak mengukur dari halus dan kasarnya jenis pekerjaan, tetapi dilihat dari halal dan haramnya. Ketika Rasulullah pulang dari perang-ketika itu perang tidak jadi, karena musuh tidak datang-di tengah perjalanan seorang sahabat berbama Sa’ad al-Anshori, datang kepada Rosulullah. Dia mengeluh dan memperlihatkan telapak tangannaya yang pecah-pecah. Ketika Rasulullah bertanya, “Mengapa ?”. Sa’as menjawab, ” Saya ini bekerja mencari nafkah yang halal buat keluarga dengan membelah batu, kemudian batu itu kami jual. Setiap hari saya bekerja seperti itu”. Kemudian Nabi mengambil tangannya dan menciumnya seraya bersabda, ” Tangan seperti inilah yang kelak akan dicintai Allah”. Ketiga, Islam memandang pekerjaan yang dapat menghasilkan uang dan uang itu dapat mendatangkan manfaat bagi orang lainmerupakan pekerjaan yang mulia. Dalam sebuah hadis-yang maknanya kira-kira demikian- disebutkan ” Siapa yang mempunyai tanggungan yang banyak dan dia mempunyai hati yuang tulus terhadap kaum muslimin, maka dia akan bersamaku”. Dalam mencontohkan kata ‘bersamaku’, Nabi memberi isyarat dengan jari telunjuknyayang didekatkan dengan kedua jari di sampingnya. Ini membuktikan bahwa orang itu begitu dekat denagn Rasulullah.

Kenyataan lain di masyarakat menyebutkan, ada segolongan orang yang hidupnya sibuk berjuang di jalan Allah. Misalnya, dengan berangkat perang fisabilillah, mengajarkan ilmu agama, belajar kilmu agama atau menghafalkan al-Qur’an, sehingga mereka tidak sempat mencari rizqi. Mereka hidup sederhana dan termasuk orang yang miskin harta, tetapi mereka tetap menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta kepada orang lain. Orang lain beranggapan mereka kaya atau berkecukupan. Orang-orang yang demikiaan perlu dibantu dengan harta sodaqah. Sebagaimana firman Allah : ” Sodaqah itu untuk orang-orang yang berjuang dijalan Allah, yang tidak memungkinkan mereka bekerja di muka bumi. Orang-orang yang tidak mengerti mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga kehormatan harga dirinya. Kamu dapat mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya. Mereka tidak meminta-minta kepada orang lain dengan cara mengemis”.(QS. Al-Baqoroh; 273)

Tauladan qonaah di zaman Nabi

(1) Dalam perang Tabuk, tentara Islam dipimpin oleh Ubadah bin Shomit melawan tentara Romawi timur pimpinan Mugaugis. Pihak Romawi memancing emosi tentara Islam yang menyebabkan harta perhiasan di beberapa tempatyang dilalui tentara Islam. Tetapi karena tentara Islam bersifat qonaah dan sederhana maka mereka tidak tertipu dengan pancingan kemewahan harta dunia tersebut. Dan itulah yang menjadi salah satu faktor kemenangan tentara Islam tersebut.

(2) Sahabat Muadz bin Jabal adalah seorang yang hidup dengan qonaah dan sederhana. Tetapi telapak tangannya kasar akibat dari bekerja keras dalam setiap harinya. Nabi memujinya dan mencium keningnya ketika beliau mengetahui telapak tangan Muadz kasar.

(3) Sahabat Hakim bin Hizam pada suatu ketika pernah meminta sesuatu kapada Nabi. Setelah diberi, sahabat tersebut minta lagi dan diberi lagi. Lalu Rasulullah bersabda : ” Hai Hakim ketahuilah bahwa harta itu manis. Siapa yang mengambilnya dengan jiwa dermawan maka harta tersebut akan menjadi barokah. Dan siapa yang mengambilnya dengan serakah maka harta tersebut tidak baraokah. ” Dalam hadis lain disebutkan; ” Siapa yang minta sesuatu kepada orang lain dengan mengambil bagian yang banyak, maka dia meminta bara api, maka terserah dia apakah ingin mengambil sedikit atau mengambil banyak”.

(4) Sahabat Amier bin Taghlib menyaksikan Nabi SAW. membagikan mambagikan harta kepada sebagian sahabat dan tidak membagikannya kepada sebagian yang lain. Nabi menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak diberi harta tersebut adalah orang-orang yang lebih dicintai oleh nabi, karena mereka adalah golongan orang yang qonaah. Akhirnya, Qonaah termasuk perjuangan terhadap nafsu diri sendiri, bukan untuk mengurangi jasa baik orang lain. Qonaah untuk memberantas keserakahan terhadap tipu daya kehidupan duniawi. Dan bukan untuk melemahkan berusaha mendapatkan fadlilah karunia Allah. Wallahua’lam bis showab.

 

Oleh : Drs. Maksum Oemar

 

Penulis adalah dosen STAIN Malang dan IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Comments

comments

Share Button

You may also like...