MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Share Button

kh-abdurrahman-yahya_pp-miftahul-huda_mursyid-thariqah-qn2Jika Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Maha Besar Subhanahu wa Ta’ala, ‘Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Wahai pencari kebaikan, kemarilah!

(HR. Bukhari dan Muslim).

 

 

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. akan datang bulan yang penuh rahmat dan ampunan, akan datang tamu agung nan suci. Walau begitu banyak yang menyambutnya dengan suka cita namun tak sedikit pula yang mengeluh. Tidak akan ada lagi warung yang buka di siang hari, waktu akan berjalan dengan lamban dan begitu terik dan tidak akan ada penghilang dahaga pada saat panas membakar tenggorokan. Tiba-tiba ada begitu banyak kebiasaan kita yang berubah. Bagi mereka yang memang sudah menunggu datangnya bulan “pahala berlipat” ini, tentunya sudah tidak sabar untuk tenggelam dalam cinta dan kasih Allah yang memang semakin terasa di bulan Ramadhan.

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnyalah kita menyambut bulan yang penuh dengan pahala berlipat ini dengan penuh rasa gembira dan bahagia, layaknya kita menyambut tamu istimewa yang sudah lama kita nantikan. Memang, amat tepat jika kita menyerupakan antara Ramadhan dan tamu. Sifat serupa antar keduanya adalah dalam hal kemuliaannya.

Tamu, menurut anjuran Rasulullah SAW, harus dimuliakan. Bahkan beliau menegaskan bahwa salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir adalah memuliakan tamu.  Demikian pula dengan bulan Ramadhan. Anjuran untuk memuliakannya lebih daripada anjuran memuliakan tamu. Sejumlah ayat, sederet hadits, dan sekian kitab disusun untuk membahas bulan Ramadhan dengan segala keutamaannya.

 

Menyambut Bulan Ramadhan

Kehadiran Ramadhan mendapat tempat tersendiri dan sambutan khusus oleh para ulama’ salaf, sehingga sudah sejak bulan Rajab disyariatkan untuk berdo’a, ”Allohumma baarik lanaa fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan” (Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami di bulan Ramadhan). Rasulullah SAW telah bersabda “Barangsiapa yang senang dengan kehadiran Ramadhan maka Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

Apa saja upaya yang bagus dilakukan untuk menumbuhkan rasa senang akan kehadiran Ramadhan? Jawabannya tentu beragam. Namun secara umum ada dua persiapan menyambut Ramadhan, yaitu persiapan fisik (lahir) dan persiapan non-fisik (batin).

 

Persiapan Fisik

Persiapan secara fisik yang patut dilakukan menghadapi puasa di antaranya adalah membersihkan pakaian, tempat, anggota badan, dan juga merencanakan menu yang sederhana dengan kandungan gizi yang mencukupi dan menjaga kesehatan badan. Karena itu, patut dilakukan pembersihan rumah dan tempat ibadah sebelum puasa. Begitu pula menjaga kesuciannya, jika diperlukan hendaknya mempersiapkan bekal selama bulan Ramadhan dengan makanan yang mampu menjaga kekuatan fisik selama menjalankan puasa.

 

Persiapan Non-Fisik

Adapun persiapan non-fisik (mental) yang mendesak untuk dilakukan adalah mempelajari dan memahami aturan puasa Ramadhan. Orang yang akan berpuasa seyogyanya mengetahui arti puasa (menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai matahari terbenam), mengetahui hakikat puasa (meningkatkan kualitas ketakwaan), mengetahui awal bulan Ramadhan (dengan rukyat atau hisab), mengetahui syarat wajib puasa (berakal, baligh, dan kuat berpuasa), mengetahui syarat sah puasa (Islam, mumayyiz, dan suci), mengetahui fardhu puasa (niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa), mengetahui hal-hal yang membatalkan puasa (makan, minum, muntah disengaja, bersetubuh, keluar darah haid/nifas, gila, keluar mani disengaja, dan lain-lain), mengetahui sebab-sebab boleh berbuka puasa (sakit, bepergian, tidak kuat berpuasa), mengetahui kesunahan dalam berpuasa (menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan lain-lain), mengetahui hikmah puasa (antara lain wujud syukur, mendidik kejujuran, percaya diri, belas kasih kepada sesama, kesehatan badan), dan mengetahui problematika sekitar puasa (antara lain lailatul Qadar, cara i’tikaf, cara menghidupkan malam Ramadhan, cara mengqadla puasa, cara menggantikan puasa orang lain, dan lain-lain).

 

Mengisi Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk meraih pahala yang berlipat, namun perlu kita ingat juga bahwa jika kita melakukan kemaksiatan maka dosanya akan berlipat pula, maka dari itu jangan sampai kita melewatkan bulan mulia ini dengan begitu saja, menyamakannya dengan bulan lain. eman!

Dalam bulan Ramadhan, sebaiknya kita menghindari segala bentuk kemaksiatan, mulai yang terkecil yang mungkin sudah dianggap hal yang sudah membudaya, seperti ghibah (gosip). Kita harus mampu mengurangi berkata yang tidak penting, membiasakan diri tidak banyak bicara, dan berkata yang benar atau diam (fal yaqul khoiron aw li yashmut). Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan palsu, maka Allah tidak membutuhkan puasanya (yang hanya)  meninggalkan makan dan minumnya.” (HR.Bukhari). Rasulullah juga bersabda, “Bukanlah puasa itu sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi puasa itu menahan diri dari perkataan kotor dan perbuatan keji.” (HR. Ibnu Majah). Kita harus mampu membersihkan pikiran dan hati kita dari pikiran negatif (su’udlon). Mencoba menjauhi segala macam penyakit hati; marah, dendam, iri, dengki, riya’, ujub dan penyakit hati lainnya. Dalam Irsyadul Ibad karya Syaikh Zainuddin Ibnu Abdul Aziz Al-Malybary, Rasulullah bersabda, “Lima macam perkara yang membatalkan (pahala) puasa seseorang dan merusakkan (pahala) wudlu: berdusta, ghibah, mengadu domba, melihat wanita dengan syahwat dan sumpah palsu. (HR. Al-Azdi dan Addailami).

Bulan Ramadhan adalah bulan berlimpah pahala yang berlipat, oleh karena itu kita juga disunnahkan untuk memperbanyak sedekah sesuai kemampuan kita dengan ikhlas, tidak harus dengan materi namun bisa juga sedekah dengan non-materi misalnya membahagiakan orang lain tanpa membuat yang lain terganggu.  Seperti firman Allah dalam surat al-Baqarah: 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir berisi seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  Rasulullah bersabda: “Wahai manusia! Barang siapa diantaramu memberi makan untuk berbuka kepada kaum mukmin yang melaksanakan puasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan diberi ampunan atas dosa-dosanya.”

Dalam kitab Tanbihul Ghofilin diterangkan tentang kesunnahan melakukan shalat tarawih. Mereka bertanya kepada Umar RA: “Ya amirul mu’minin, mana dasarnya tuan menyelenggarakan shalat tarawih?” Ia menjawab: Aku mendengar hadits dari Ali ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “bahwasannya di sekeliling arasy terdapat hadrotul qudsi dari kumpulkan para malaikat yang tidak terhitung besar jumlahnya bersama beribadah tidak henti-hentinya di tempat itu, lalu jika malam Ramadhan mereka mohon diizinkan oleh Allah untuk turun ke Bumi bersama-sama melakukan ibadah shalat dengan para manusia setiap malam. Maka barang siapa yang bersentuhan dengan mereka, akan menjadi bahagia hidupnya dan tidak menderita selamanya.”

Umar bin Khatab RA berkata: “Setelah kami mendengar hadits tersebut kami berhak melakukan itu.”  Lalu ia mengumpulkan jamaah kemudian melakukan shalat tarawih secara berjamaah. Demikianlah kebijakan Umar bin Khattab dalam menyemarakkan suasana bulan Ramadhan dan berkatalah beliau : “Inilah sebaik-baik bid’ah.” Tapi ingat! Shalat lail (tahajjud) yang dijalankan Nabi dengan persyaratannya setelah tidur dan tengah malam tetap lebih utama dari shalat tarawih yang telah kamu sekalian lakukan ini (maka shalat lail juga jangan ditinggalkan).

Kita sekalian tidak mampu mencontoh Rasulullah SAW, yang mana Rasulullah didalam menjalankan shalat dari lamanya sampai bengkak kedua telapak kakinya, maka dengan mengikuti tarawih 20 rakaat seperti yang telah dicontohkan oleh sahabat Umar inipun berarti kita mengikuti anjuran dari Rasulullah SAW Sebagaimana sabda nabi SAW: “Ikutilah olehmu sekalian dua orang sepeninggalku yaitu sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hal yang mungkin dilupakan adalah, hendaknya kita tidak menjadikan puasa sebagai halangan untuk melakukan aktifitas alias bermalas-malasan, karena justru kita harus termotivasi melakukan kewajiban kita (belajar atau bekerja) dengan niatan ibadah supaya mendapatkan pahala berlipat. Bulan suci ini juga hendaknya kita isi dengan memperbanyak membaca ayat al-Qur’an, atau tadarrus al-Qur’an, dalam sebuah hadits disebutkan ”Dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah diantara semua orang, lebih-lebih di bulan Ramadhan saat dimana beliau bertemu malaikat Jibril. Setiap malam malaikat Jibril datang menemui Nabi SAW untuk tadarrus al-Qur’an. Sungguh, saat bertemu malaikat Jibril Rasulullah SAW lebih pemurah melebihi angin yang terlepas” (HR. Bukhari Muslim), bahkan jika mampu sebaiknya kita mampu menghatamkan al-Qur’an dalam bulan Ramadhan ini karena sudah tidak diragukan lagi balasannya.

 

Sukses di Bulan Ramadhan

Ramadhan tahun ini memang seharusnya lebih baik dari tahun kemarin, harus lebih sukses, dan lebih bermakna. Agar dapat mewujudkannya, para ulama salaf berpendapat, paling tidak ada empat unsur yang harus terpenuhi. antara lain :

  1. Diperlukan bekal yang memadai berupa pengetahuan (al ilmu qobla bad-ihi), sebagai persiapan puasa Ramadhan (sebagaimana keterangan tentang persiapan fisik dan non fisik diatas) amat berpengaruh pada kualitas puasa seseorang.
  2. Memasuki awal Ramadhan dengan niatan yang benar (an-niyatu fi mabdaihi), yaitu semata karena Allah SWT. Niat sangat menentukan status puasa; sah atau tidak, diterima atau ditolak, berpahala besar atau kecil. Niat sanggup mendorong pelakunya untuk jujur, sportif dan berdampak signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut imam Maliki, Niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari, pada umumnya dilakukan setelah shalat sunnah tarawih.
  3. Kontinuitas (keajegan) untuk tetap berpuasa dalam kondisi yang benar menurut syariat (al-istiqomatu fi wasathihi). Bahkan, keajegan inilah pos yang paling mungkin untuk mengumpulkan pahala, manfaat, hikmah yang sebanyak-banyaknya. Niat yang baik harus dibarengi dengan bukti riil (nyata) selama proses berpuasa.
  4. Sabar, sebagai sikap penentu hasil akhir dan kesiapan kita menerima seluruh hasil usaha yang diupayakan selama bulan Ramadhan (ash-shobru fi akhirihi). Tidak ada yang berani menjamin bahwa puasa selama sebulan penuh mesti diterima. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyarankan sikap khouf (khawatir) dan raja’ (berharap) pada saat berbuka; diterima atau tidak puasa yang telah kita lakukan? Apapun hasilnya kita harus pasrahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa setelah kita berusaha dengan optimal.

Sebagai penutup, semoga Allah memberikan kita keikhlasan, kekuatan lahir dan batin dalam mempersiapkan diri dan menjalankan puasa Ramadhan supaya kita mampu meraih kesuksesan berpuasa Ramadhan. senantiasa diberi kekuatan iman serta dijauhkan dari larangan-Nya. amin.

Oleh : KH. Abdurrahman Yahya *

*Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading Kasri Malang.

Comments

comments

Share Button

You may also like...