RAMADHAN DAN KONSUMERISME

Share Button

konsumRamadhan dan konsumerisme, dua kata yang pada dasarnya jauh berbeda namun kenyataannya tidak demikian. Ramadhan adalah bulan puasa, bulan pengendalian hawa nafsu, baik itu makan, minum, dan kebutuhan biologis. Sementara, konsumerisme merupakan budaya konsumtif, mengkonsumsi sesuatu yang padahal bukan kebutuhan pokok. Idealnya momen bulan suci ini bisa menurunkan tingkat konsumerisme umat Islam. Namun, fakta di negeri kita menunjukkan bahwa kehutuhan berbelanja pada saat bulan puasa meningkat tajam.

Seorang tetangga yang tinggal di desa, pada saat selain bulan puasa biasanya mengeluarkan dana sebesar Rp 200.000, ketika memasuki bulan puasa dia harus merogoh koceknya dua kali lipat. Mengapa hal itu bisa terjadi? Ternyata, uang yang sebenarnya bisa ditabung itu dia belanjakan untuk makanan-makanan pelengkap buka puasa dan makan sahur, atau yang biasanya dimakan seusai shalat tarawih.  Berarti, secara kebiasaan puasa yang dijalankan pada bulan Ramadhan masih sebatas tidak makan dan minum di siang hari saja. Ketika malam hari, kebutuhannya justru meningkat tajam, seakan- akan waktu yang semestinya sangat baik untuk mendekatkan diri kepada Sang Penguasa ternyata dijadikan sebagai ajang balas dendam. Padahal, orang yang suka memenuhi kebutuhan perutnya melebihi batas, akan dibenci Allah Swt. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw., “Tiada orang yang lebih dibenci oleh Allah dibandingkan orang yang suka memenuhi perutnya, sekalipun makanan yang halal” (Durratun Nasihin)

Menurut KH. Drs. Imam Ghazali Said, MA, dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, pembahasan tentang puasa bisa didekati dari tiga pendekatan. Pertama, dari haqiqah lughawiyyah (secara etimologis), puasa bermakna mengekang diri (al-imsak) atau mengekang dalam artian umum. Mengekang apa saja. Orang yang mengekang diri untuk tidak tidur malam hari, bisa disebut puasa dari tidur. Tidak ngomong bisa disebut puasa bicara, dan seterusnya. Kedua,  dari haqiqah syar’iyyah (secara definisi syariat) sebagaimana yang dirumuskan oleh kalangan ahli fikih, yaitu mengekang diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa, sejak dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Ketiga, dari haqiqah ‘urfiyyah, atau secara kebiasaan. Pada titik ini, puasa tidak dikaitkan dengan agama tetapi disebut kebiasaan orang saja. Dengan demikian puasa yang dijalankan dengan masih gemar meningkatkan budaya konsumerisme, berkutat pada level haqiqah ‘urfiyyah, bukan level haqiqah syar’iyyah.

Salah satu faedah puasa ialah menyehatkan badan. Rasulullah Saw. bersabda: “Berpuasalah, maka kamu akan sehat” (H.R Ibnu Sina dan Abu Nu’aim). Menurut para dokter, setiap organ tubuh membutuhkan istirahat sejenak dari sekian tahun digunakan. Puasa yang dijalankan orang beriman tiap bulan Ramadhan memberikan kesempatan istirahat kepada lambung  atau perut. Sebagian dari mereka bahkan ada yang berpendapat bahwa puasa menyelamatkan manusia dari segala macam penyakit masa kini dan yang menular. Nah, jika setelah berbuka masih juga mengkonsumsi makanan lain secara berlebihan, ini artinya  tidak memberi waktu istirahat untuk perut, malah menembah beban perut untuk kerja ekstra keras. Menurut Imam Ghazali (dalam Sayyid Muhammad Alwi bin Abbas Al-Maliki: 57), hendaknya kita tidak makan terlalu banyak ketika berbuka, sebab hali ini memberatkan lambung atau perut dan menambah syahwat, supaya kita tidak kehilangan rahasia puasa.

 

Larangan Makan Berlebihan

Allah menuntut manusia agar memakan makanan yang sifatnya halal dan thayyib. Dalam surat A-baqarah ayat 168 disebutkan, “Wahai seluruh manusia, makanlah yang halal lagi baik (thayyib) dari apa saja yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sdesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Menurut Dr. M. Qurais Shihab, pakar tafsir terkemuka, kata thayyib dari segi bahasa berarti lezat, baik, sehat, menentreramkan, dan paling utama. Dapat juga dikatakan bahwa kata thayyib dalam makanan adalah mekanan yang sehat, proporsional, dan aman. Orang yang memakan makanan tertentu yang halal tetapi berlebihan, maka dia tidak bersikap proporsional.

Al-Qur’an dalam uraiannya tentang makan menekankan perlunya sikap proporsional. Allah berfirman, “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang terhadap orang yang berlebih-lebihan” (Q.S. Al-A’raf: 31). Rasulullah menjelaskan, “Termasuk berlebih-lebihan (bila) Anda makan apa yang Anda tidak ingini.” Dalam hadits lain beliau mengingatkan, “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perut, cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus (memenuhkan perut), maka hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan” (H.R Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi melalui sahabat Nabi Miqdam bin Ma’di Karib).

 

Larangan Menyakiti Tetangga

Salah satu dampak negatif  makan secara berlebihan adalah bisa memicu kecemburuan sosial, terutama dari tetangga dekat. Orang yang berbuat demikian mengabaikan kondisi tetangganya atau sesamanya yang menderita karena kekurangan makanan. Ini jelas merupakan perbuatan yang mengganggu dan menyakiti hati tetangga. Rasulullah menegaskan, “Demi Allah, seseorang belum dikatakan bneriman. Demi Allah, seseorang belum dikatakan beriman. Lalu ditanyakan: “Ya Rasulallah, siapakan yang dikatakan belum beriman?” Jawab Rasulullah” “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan perbuatannya” (H.R Bukhari dan Muslim dari Abi  Hurairah). Bahkan dalam riwayat lain diterangkan bahwa orang seperti itu terancam tidak masuk surga. Nabi bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari gangguan perbuatannya” (H.R Muslim dari Abi Hurairah).

Puasa, selain memiliki nuansa individual untuk dirinya pribadi, juga memiliki makna sosial. Artinya dalam puasa tersirat nilai solidaritas sosial. Seseorang yang yang berpuasa dan merasa dirinya lapar mestinya memiliki simpati tinggi terhadap orang launyang juga lapar. Lapar itu jelas tidak enak dan tidak nyaman. Maka dari itu, orang yang berpuasa sebisa mungkin membebaskan orang lain dari bahaya kelaparan. Kalau orang berpuasa di siang hari namun di malam harinya makan sekenyang-kenyangnya dan berlebih-lebihan, berarti masih belum memiliki solidaritas terhadap sesamanya yang kelaparan dan menyakitinya.

Ada juga budaya yang cukup memprihatinkan dari lalangan konglomerat, yaitu berpuasa tetapi dengan tingkat pamer yang tinngi. Misalnya dengan berbuka puasa di gedung-gedung mewah atau hotel berbintang. Hal ini dikhawatiekan terjadi syaqq qulubil fuqara’ atau membuat hati orang-orang miskin trenyuh. Mereka seringkali tidak menemukan apa yang mesti mereka makan. Sementara, orang lain begitu enak dan nikmat menu makannya. Pada titik ini, menurut K.H. Imam Ghazali Said, M.A., sesungguhnya sudah tidak ada solidaritas sosial lagi. Mestinya yang ditampakkan bukan itu, tetapi bagaimana orang kaya atau konglomerat bisa memberikan perhatian serius kepada orang miskin di bulan puasa ini.

 

Solusi

Agar tidak terjebak dalam budaya konsumerisme, maka perlu diupayakan dalam bulan Ramadhan ini beberapa hal di antaranya:

  1. Memberi Buka Orang Miskin

Cukup menggembirakan bahwa dalam bulan puasa banyak kalangan atas atau elit sudi menyisihkan uang pribadinya untuk disumbangkan ke masjid-masjid. Para pengelola atau takmir masjid kemudian membagikannya kepada fakir miskin dalam bentuk sajian buka puasa atau takjil. Hal seperti ini sepetinya membuat kalangan tertentu untuk menaikkan anggaran belanjanya di bulan suci, namun jelas bukan sikap konsumerisme melainkan sikap solidaritas sosial terhadap sesama. Budaya seperti ini bernilai ganda, yaitu menggembirakan kaum lemah dan menambah pahala untuk dirinya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa memberi buka orang berpuasa di bulan Ramadhan dari usaha yang halal, maka malaikat memberikan shalawat (memohonkan amunan dari Allah) kepadanya di setiap malamnya. Orang tersebut juga disalami oleh Malaikat Jibril di Lailatil Qadar…….” (H.R. Abu Ya’la dan Ashabus Sunan Al-Arba’ah dan Ibnu Hibban). Di samping itu orang yang memberi buka puasa tidak akan berkurang sedikit pun pahala puasanya. Nabi Saw. menandaskan, “Barangsiapa memberi buka orang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala sebesar pahala (memberi buka puasa), tanpa berkurang sedikit pun pahala puasanya” (H.R. At-Tirmidzi).

  1. Memperbanyak Sedekah

Ada fenomena cukuop menarik di sebuah sekolah Islam di Malang. Pengelola sekolah mendidik siswanya untuk gemar memberikan sedekah tiap hari Jum’at untuk kemudian disumbangkan ke panti asuhan. Di bulan puasa, kegiatan tersebut lebih ditingkatkan lagi. Tidak hanya tiap Jum’at, tetapi setiap hari mereka menyisihkan sebagian uang jajannya untuk kepentingan kaum lemah. Menjelang hari raya Idul Fitri, mereka diajak berkinjung ke panti asuhan untuk melihat sendiri betapa menderuitanya anak-anak seusia mereka. Didikan seperti ini sangat positif, mengingat anak sejak kecil sudah ditanamkan gemar bersedekah dan memiliki kepedulian sosial terhadap sesamanya.

Junjungan kita sekaligus pimpinan kita Nabi Muhammad Saw. telah memberikan contoh yang baik. Beliau, setiap bulan Ramadhan merupakan orang yang paling dermawan. Hal itu diceritakan Ibnu Abbas dalam riwayatnya,  “Rasulullah Saw. adalah orang paling dermawan di bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril. Beliau ditemui Jibril setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an………..” (Muttafaq Alaih).

Bersedekah memang merupakan tindakan mengeluarkan sesuatu yang dimiliki, tetapi perlu diyakini bahwa hal itu merupakan kemuliaan di mata manusia, lebih-lebih lagi di mata Allah Swt. Yang Maha Dermawan.

 

Oleh: Muhammad Ato’illah, S.Pd

 

*Penulis adalah staf pengajar SMP Islam Sabilillah Malang.   

Comments

comments

Share Button

You may also like...