Sejarah dan Hakekat Ibadah Haji

Share Button

haji“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Bayt (Baitullah); Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

(Q.S. Ali Imran : 97)

 

Perkataan haji adalah bahasa Arab. Ketika diindonesiakan, maka istilah tersebut menjadi kabur. Kebanyakan orang memaknai haji dengan pergi ke Mekkah di Arab Saudi. Makna yang agung dan luas itu diasumsikan sebagai perjalanan dimensi lahiriyah menuju ke Mekkah, Arab Saudi. Padahal, istilah haji merujuk kepada tindak lanjut ayat yang disebut tadi.

Istilah Haji merujuk kata “hijjul bayti“. Dalam hal ini penulis menterjemahkan sebagai berkunjung ke bayt (rumah). Hajji, hijju atau hujja adalah sama, yakni bermakna ziarah atau berkunjung. Salah satu makna lain adalah “dabbara laylan” (tadabbur atau merenung di malam hari). Rumah yang Allah perintahkan untuk dikunjungi adalah rumah dimensi bathiniyah. Mengapa? Karena rumah itu memang untuk manusia, bukan untuk makhluk lain. Karena pula, bahwa rumah itu penuh berkah dan terdapat banyak petunjuk bagi semesta alam. Artinya, di dalam rumah itu terdapat banyak pemahaman tentang alam semesta bagi akal yang sadar. Akal yang sadar adalah akal yang sudah berkunjung ke bayt (rumah). Karena itu, ia akan dilimpahkan beraneka macam ilmu yang menjadi pemandu bagi akal pikirannya. Kesadaran itulah yang membawanya mampu menyaksikan segala sesuatu dengan cara pandang bathiniyah.

Akal manusia sangatlah terbatas. Tetapi, ketika akal memasuki dimensi akhiratnya melalui pengertian rumah tadi, maka akal seolah mendapat suntikan daya sehingga diperluas daya tampungnya. Ibarat hardisk computer, memorinya di upgrade kembali. Karena itu, pandangan menjadi luas. Geraknya akan menjadikan berkah. Dimana keberkahannya? Keberkahan berada pada geraknya yang terarah dan tidak terpengaruh oleh dunia penampakan yang masuk melalui panca indera. Ia selalu wukuf (berhenti) dari hal-hal yang membuatnya tidak berkah sehingga menjerumuskannya.

Ibadah haji merupakan improvisasi sejarah Nabi Ibrahim dalam mencari hakekat sesembahan yang benar. Sebagai manusia biasa, Nabi Ibrahim juga menempuh proses yang panjang sebelum ia diangkat menjadi seorang Nabi. Al-Quran dengan jelas merinci perjalanan Nabi Ibrahim dalam proses pencariannya untuk mencapai kebenaran sejati dan agama yang lurus(QS. Al-An’am : 75-79).

Dalam pencarian, Nabi Ibrahim telah melewati berbagai macam eksperimen yang panjang. Barangkali kita pun tidak bisa terima begitu saja, ketika dikatakan bahwa seorang Nabi diangkat begitu saja oleh Allah menjadi seorang Nabi. Asumsi itu mengesampingkan proses-proses kemanusiaan secara wajar. Dalam pandangan manusia biasa yang mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan kematian, setiap Nabi tetaplah mengalami hal-hal yang juga dialami oleh manusia biasa. Beliau tidak secara tiba-tiba (sim salabim) menjadi seorang Nabi.

Dalam ayat tersebut hanya diceritakan rangkuman dari sebuah perjalanan panjang Nabi Ibrahim. Ketika malam gelap, ia melihat bintang dan disembahnya bintang sebagai proses awal eksperimentasi. Barangkali proses ini tidak semalam atau dua malam, tetapi ia berjalan dalam kurun waktu tertentu hingga ia menemukan jawaban bahwa bintang tidak patut untuk disembah. Begitupun bulan dan matahari, proses eksperimental untuk sampai  pada kesadaran yang murni dan lurus tidaklah sebentar.

Ketika kesadaran murni muncul, ia pegang erat-erat hingga menjadi spirit bagi dirinya untuk melakukan perlawanan bagi lingkungan sekitarnya yang kaku, mandek dan terikat oleh pandangan-pandangan paganism (keberhalaan). Sebelum itu, secara individual Nabi Ibrahim juga mengalami perjuangan yang hebat dalam menghadapi dan melepaskan kungkungan nafsu. Memurnikan panca indera dari pola pikir yang diselubungi hawa nafsu tidaklah mudah. Diri akan mengalami goncangan yang begitu dahsyat, karena akal telah menerima atau menyaksikan suatu kebenaran yang suci. Hal ini juga terjadi pada Nabi Muhammad saw ketika menerima wahyu pertama di gua hira. Beliau mengalami demam yang begitu hebat. Mengapa? Karena sesuatu yang disaksikannya sangat-sangat berbeda dari pandangannya selama ini. Apa yang terjadi setelah itu?

Kebenaran wahyu suci yang diterima oleh Nabi Ibrahim as atau Nabi Muhammad saw tidaklah mudah untuk disampaikan kepada semua orang pada zaman itu. Mengapa? Karena setiap orang sama sekali tidak percaya bahwa Ibrahim atau Muhammad adalah seorang Nabi. Karena itu, beliau mengalami tentangan yang hebat. Bahkan tentangan yang paling hebat justru selalu datang dari keluarganya sendiri. Azar, seorang pembuat patung paling handal dan sangat dihormati oleh raja Namrudz, adalah bapak Nabi Ibrahim. Spirit wahyu yang dipegang oleh Nabi Ibrahim as harus menghadapi tentangan yang tidak jauh dari dirinya, yakni bapaknya sendiri. Abu Jahal dan Abu Lahab, keduanya adalah paman Nabi Muhammad saw. Spirit wahyu yang dipegang oleh Nabi Muhammad saw harus menghadapi tentangan yang berada di lingkungan keluarganya sendiri.

Penelahaan terhadap sejarah secara proporsional sesuai dengan ukuran-ukuran akal murni akan membuat kita termotivasi untuk bisa memahami segala fenomena yang terjadi ketika seseorang bereksperimen dalam mencari kebenaran sejati. Goncangan-goncangan kejiwaan tak luput juga mewarnai perjalanan seseorang untuk melepaskan segala macam kungkungan hawa nafsunya. Setiap orang akan selalu dituntut untuk bisa mempertanggung jawabkan nafas kehidupannya di dunia.

Ibadah haji yang dilaksanakan di Mekkah saat ini adalah simbolisasi dari sejarah perjalanan Nabi Ibrahim as. Jutaan manusia dari berbagai pelosok negeri melakukan sebuah ritual ribuan tahun umurnya. Kalau kita hitung kurun waktu sejak zaman Nabi Ibrahim as sebagai Nabi yang keenam, terdapat 18 Nabi yang terlewati ketika Nabi Muhammad mengadopsi ritual ibadah haji sehingga menjadi rukun Islam yang kelima. Nabi Muhammad saw mengadopsi sebuah ritual tua yang hampir saja usang. Kenapa usang? Karena ritual itu pada zaman Nabi Muhammad saw sudah banyak mengalami penyimpangan-penyimpangan karena pengaruh paganisme masyarakat Arab pada saat itu.

Thawaf, Sa’i, Tahallul, Wukuf, Jumroh, Mabit di Muzdalifah dan Mina yang kita sebut sebagai rukun dan wajib haji adalah rangkaian perjalanan tauhid Nabi Ibrahim as. Rangkaian ibadah itu merupakan simbolisasi yang mengandung makna-makna yang harus bisa dicerap oleh orang yang menuanaikan haji. Barangkali, untuk lebih detilnya lagi kita akan kaji makna-makna ritual itu di lain kesempatan. Untuk saat ini, yang perlu kita cermati adalah salah satu rukun haji yang langsung mendapatkan legitimasi Nabi Muhammad saw, yakni wukuf di Arafah. Sabda Nabi saw;  “Haji adalah wukuf di Arafah”

Rukun dari sekian banyak rukun haji, yang paling utama adalah wukuf di Arafah. Wukuf bermakna berhenti. Berasal dari kata kerja waqafa-yaqifu artinya berhenti atau berdiam. Secara harfiah, pelaksanaan wukuf berada di padang Arafah, yakni salah satu daerah di seputar Mekkah. Secara maknawi, wukuf berarti menghentikan gerak jasad dan kesibukan akal untuk mengenal Allah. Arafah secara harfiah bermakna ma’rifah, yakni mengenal. Ia berasal dari kata kerja ‘arafa-ya’rifu yang artinya mengenal.

Mengapa kesibukan akal harus diberhentikan? Karena pada akallah dunia penampakan itu berpusat. Indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba, semuanya berpusat pada akal. Partikel-partikel dunia masuk melalui panca indera tersebut. Partikel-partikel dunia itulah yang membuat segala macam keramaian di dunia. Ia harus dikembalikan pada fitrahnya dengan cara menutup semua lobang panca indera melalui wukuf. Menghentikan gerak akal sementara waktu bertujuan untuk menenangkannya. Akal yang tenang akan tunduk pada jiwa yang tenang. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang bisa kembali kepada Tuhannya. Ke arah sanalah agama mengajarkan para pemeluknya agar senantiasa mencapai satu titik ketenangan yang bisa membawa dirinya kepada hakekat kejadian awal. Kejadian awal manusia adalah ikrarnya dalam mengenal Tuhan. “alastu birabbikum, qooluu balaa syahidnaa”, bukankah Aku ini Tuhan kalian, mereka berkata; “ya kami telah bersaksi”.

Akal yang tenang akan selalu tunduk pada jiwa yang tenang. Akal yang tenang akan mendapatkan suntikan energi, sehingga daya tampungnya menjadi lebih luas. Tajam pandangan terhadap tanda-tanda alam. Kepekaan kecerdasannya akan selalu membawa kemaslahatan bagi lingkungan dan alam semesta. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS. Al-Fajr : 27-30).

Gerak akal yang muncul dari panca indera, menjadikannya terbebani oleh persoalan-persoalan dunia. Dunia telah menarik fungsi akal dan mengikat kuat manusia sehingga ia menjadi bodoh, lemah dan terpuruk. Belenggu dunia telah membawa akal sehingga ia tidak mampu berpikir untuk soal-soal yang sangat sederhana. Akal telah terpenjara oleh penampakan panca indera. Sifat-sifat buruk yang muncul dan menjadi penyakit hati berasal dari dunia penampakan yang masuk dari panca indera. Kebencian, kedengkian, iri hati, sombong, riya, sum’ah, buruk sangka, sakit hati, dan penyakit-penyakit lainnya telah menjerumuskan manusia menjadi makhluk yang sangat kerdil dan terhina. Saat itulah manusia telah menjadi bodoh.

Belenggu dunia yang mengikat kuat akal pikiran manusia adalah berhala yang nyata. Ia bukan berada di luar diri, tetapi di dalam diri. Ia membentuk sebuah gambar yang membuat manusia menjadi senang ataupun susah. Gambar-gambar yang muncul di dalam bayangan akal pikiran telah membelenggu dan menjadi penghalang bagi manusia untuk menuju Tuhannya. Melepaskan belenggu-belenggu itu, sama sakitnya seperti mencabut kuku dari jari jemari. Laa Ilaaha illa Anta, Subhaanaka innii kuntu minadzdzoolimiin…

 

Dakwah Rasulullah pada Musim Haji

Dakwah Rasulullah pada musim haji tahun kesebelas nubuwah membawa titik terang arah dakwah selanjutnya. Dari enam orang inilah kemudian Islam menyebar di Madinah dan menjadi kota yang siap menerima kepemimpinan Islam.

Pada musim haji tahun kesebelas dari nubuwah, tepatnya pada bulan Juli tahun 620 M, dakwah Islam memperoleh benih-benih yang baik, dan secepat itu pula tumbuh menjadi pohon yang  rindang. Di bawah lindungannya, orang-orang Muslim bisa melepaskan diri dari lembaran-lembaran kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang telah berjalan beberapa tahun.

Ada satu langkah bijaksana yang dilakukan Rasulullah saw dalam menghadapi tindakan penduduk Makkah yang selalu mendustakan dan menghalang-halangi orang yang mengikuti jalan Allah, yaitu beliau menemui berbagai kabilah pada malam hari, sehingga tak seorang pun dari orang-orang musyrik Makkah yang bisa menghalang-halanginya.

Suatu malam dengan ditemani Abu Bakar dan Ali, beliau keluar dan melewati perkampungan Dzuhl dan Syaiban bin Tsa’labah. Beliau menyampaikan Islam kepada mereka. Abu Bakar dan seseorang dari Dzuhl mengadakan perdebatan yang cukup seru. Adapun Bani Syaiban memberikan jawaban yang tuntas, namun mereka masih menunda untuk menerima Islam.

Kemudian Rasulullah saw melewati Aqabah di Mina. Di sana beliau mendengar beberapa orang yang sedang berbincang. Maka beliau mendekati mereka. Ternyata mereka adalah enam orang pemuda Yastrib (setelah Rasulullah hijrah diubah menjadi Madinah), yang semuanya berasal dari Khazraj, yaitu:
1.    As’ad bin Zurarah, dari Bani An-Najjar
2.    Auf bin Al-Harits bin Rifa’ah bin Afra, dari Bani An-Najjar
3.    Rafi’ bin Malik bin Al-Ajlan, dari Bani Zuraiq
4.    Quthbah bin Amir bin Hadidah, dari Bani Salamah
5.    Uqbah bin Amir bin Nabi, dari Bani Ubaid bin Ka’b
6.    Jabir bin Abdullah bin Ri’ab, dari Bani Ubaid bin Ghanm

Untung mereka pernah mendengar dari sekutu-sekutu mereka dari kalangan Yahudi Madinah, bahwa ada seorang nabi yang diutus pada masa ini, yang akan muncul dan mereka akan mengikutinya, sehingga mereka bisa memerangi Khazraj seperti peperangan yang menghancur leburkan kaum Ad dan Iram.“Siapakah kalian ini?” tanya beliau setelah saling bertemu muka dengan mereka.“Kami orang-orang dari Khazraj,” jawab mereka.“Sekutu orang-orang Yahudi?” tanya beliau. “Benar,” jawab mereka. “Maukah kalian persilahkan kami duduk-duduk agar bisa berbincang-bincang dengan kalian?” “Baiklah.”

Mereka pun duduk-duduk bersama beliau, lalu beliau menjelaskan hakikat Islam dan dakwahnya, mengajak mereka kepada Allah dan membacakan Al Qur’an. Mereka berkata, “Demi Allah, kalian tahu sendiri bahwa memang dia benar-benar seorang nabi seperti apa yang dikatakan orang-orang Yahudi. Janganlah mereka mendahului kalian. Oleh karena itu segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam!”

Mereka ini termasuk pemuda-pemuda Yastrib yang cerdas. Setiap terjadi peperangan antarpenduduk siap meluluhlantakkan, yang saat itu pun baranya masih tetap menyala. Maka mereka berharap dakwah beliau ini bisa menjadi sebab untuk meredakan peperangan. Mereka berkata, “Kami tidak akan membiarkan kaum kami dan kaum lain terus bermusuhan dan berbuat jahat. Semoga Allah menyatukan mereka dengan engkau. Kami akan menawarkan agama yang telah kami peluk ini. Jika Allah menyatukan mereka, maka tidak ada orang yang lebih mulia selain daripada diri engkau.”

Sekembalinya ke Madinah, mereka membawa risalah Islam dan menyebarkannya di sana. Sehingga tidak ada satu rumah pun di Madinah melainkan sudah menyebut nama Rasulullah saw.

Enam orang ini pada musim haji berikutnya, tahun keduabelas nubuwah, kembali ke Makkah dengan membawa enam tokoh Madinah lainnya. Total mereka sekarang berjumlah 12 orang. Kemudian terjadilah Baiat Aqabah Pertama. Saat mereka hendak kembali ke Madinah, Rasulullah menyertakan bersama 12 orang itu salah satu sahabat terbaik, Mush’ab bin Umair.

Demikianlah Rasulullah Saw berhasil menggunakan momentum haji untuk dakwah Islam kepada kabilah-kabilah Arab. Haji bukanlah sekedar ibadah ritual, tetapi haji dapat berdimensi dakwah, politik dan ekonomi. Saat ini ketiga dimensi itu seolah sirna dalam pelaksanaan ibadah haji sehingga seolah ibadah haji hanya menjadi ritual tahunan.

Kedepan semoga momentum haji dapat menjadi sarana untuk menyatukan umat Islam, baik secara politik maupun ekonomi.

Wallahu a’lam

 Oleh: Dr. H. Habib Ismail Fajrie Alatas*

* Penulis adalah Peraih Gelar Doktor di Michigan University A.S

Comments

comments

Share Button

You may also like...