Mendekatkan Diri Kepada Allah

Share Button

taqarrub

“Apabila manusia ditimpa kesusahan ia memohon kepada Kami saat berbaring, atau saat berdiri, tetapi ketika Kami hilangkan kesusahan itu dari dirinya, ia berlalu begitu saja (tidak mau bersyukur), seolah-olah tidak pernah memohon kepada Kami sehubungan dengan kesusahan yang menimpa dia. Demikianlah percontohan orang-orang yang keterlaluan  dengan apa yang diperbuat”. (Yunus: 12).

            Sudah menjadi sunatullah, hidup di dunia ini selalu diwarnai oleh suka dan duka yang datang silih berganti. Tak ada kegembiraan yang abadi sebagaimana kesedian pun tak ada yang kekal. Pada saat kegembiraan datang, dunia ini terlihat cerah, segala langkah akan membawa keberuntungan dan nasib mujur. Tapi sebaliknya bila kesedihan datang, dunia ini terasa demikian sempit dan kelabu, segala daya dan upaya akan berakhir pada jalan buntu yang membuat dada terasa sesak dan pikiran kusut. Oleh karena itulah harus disadari oleh manusia bahwa suka dan duka itu adalah merupakan batu ujian sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran: “Kami menguji kamu dengan derita dan gembira, dan kepada Kami jualah kamu akan dikembalikan”(Al Anbiya’: 35).

            Setiap orang ingin hidup senang, uang banyak, harta bertumpuk, dan segala kebutuhan terpenuhi. Tapi perlu diingat, bahwa tidak semua hal akan menjadi lebih baik dengan hidup senang atau berkecukupan. Sebab dalam kenyataan justru tidak sedikit orang menjadi rusak lantaran hidup senang atau berkecukupan, demikian juga sebaliknya. Ada orang yang pada mulanya hidup sengsara, tidak berharta, tidak berpangkat, namun kesengsaraan itu membuatnya besifat santun, sabar, dan hormat kepada siapa saja, tidak pernah sombong  sebagaimana ia tidak pernah merendahkan orang lain, ibadahnya teratur dan kerjanya tekun.

Namun ketika ia diuji menjadi orang kaya, terpandang, dan dihormati orang, maka tabiatnya berubah dan sifatnya cenderung berganti. Hidupnya cenderung boros, sifatnya angkuh, ketekunan beribadahnya berkurang, sifat santunya hilang berganti dengan kebiasaan buruk yang menjurus ke arah durhaka dan maksiat, tingkah lakunya penuh kepalsuan dan citra hidupnya penuh dengan pesona kemunafikan. Inilah contoh hidup senang yang menyesatkan. Contoh orang yang tidak lulus dalam ujian senang.

Sementara itu ada pula yang hidup serba kecukupan, ditambah dengan sekian banyak sifat-sifat baik dan terpuji, orangnya dermawan dan tekun beribadah, namun ketika musibah datang dan merubah nasibnya menjadi orang melarat serta hidup sengsara, rupanya  tidak tahan menerima kanyataan, perutnya yang selalu kenyang dengan lezatnya bermacam-macam makanan, kini tidak sanggup lagi menahan lapar. Penderitaannya sedemikian menyiksa dan membuatnya hilang keseimbangan, segala usahanya gagal, pikirannya kacau penuh kekecewaan, wajahnya muram dan senyumnya hilang. Ibadahnya berantakan dan cahaya imannya padam. Akibatnya ia terjerumus masuk ke dalam perangkap syaitan, lupa arti halal dan haram, ia berbuat serong, dan terlibat kejahatan-kejahatan lain yang sesat dan terkutuk. Inilah contoh orang yang gagal diuji dengan hidup sengsara.

Kesedihan pada umumnya akan mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah, semakin mendalam kesedihan, semakin kuat pula hasrat seseorang untuk mengaduh kepada Allah, maklumlah sebab dia butuh sekali pertolongan Allah maka ia mendekatkan diri memohon pertolongan-Nya. Manakala seorang hamba Allah diuji oleh Allah, maka mula-mula dia akan melepaskan dirinya dari ujian atau cobaan yang menyusahkannya itu. Jika tidak berhasil, maka ia akan meminta pertolongan kepada orang-orang lain seperti para penguasa, orang-orang kaya atau hartawan. Jika ia sakit, maka ia akan meminta pertolongan kepada dokter atau para normal, jika hal inipun tidak berhasil, maka ia akan kembali menghadapkan wajahnya kepada Allah Swt. untuk memohon dan meratap kepada-Nya. Tabiat manusia pada umumnya, selagi ia masih dapat menolong dirinya, ia tidak akan meminta pertolongan kepada orang lain, dan selagi pertolongan lain masih ia dapatkan, maka ia tidak meminta pertolongan kepada Allah, baru setelah semua yang diandalakannya dapat menolong dirinya tidak mampu memenuhi harapannya ia akan meratap pada Allah Swt. untuk memohon pertolongan-Nya.

Orang yang kuat imannya ia mempunyai kemampuaan untuk menguasai dirinya. Disaat gembira, ia dapat mengendalikan kegembiraannya itu serta menjuruskan ke arah hidup gembira yang baik. Bila ia menjadi orang kaya, maka imannya akan membentuk dirinya menjadi orang dermawan yang santun terhadap penderitaan orang lain, bila pada gilirannya mengalami penderitaaan, ia pun akan dapat bertahan (istiqimah) untuk tidak bergeser dari garis yang ditentukan  oleh-Nya. Kesengsaraan yang menimpanya tidaklah membuat dirinya luntur sebagai orang yang baik. Bahkan penderitaan itu akan mendorongnya untuk lebih mendekatkan diri kepada yang menguji yaitu Allah Swt. Karena imannya yang kuat itu maka jadilah ia orang yang sabar, bukankah orang yang sabar itu dicintai Allah. Jadi apa perlunya kita bercemas-cemas karena memperpanjang pikiran dan menggantungkan harapan kepada sesama makhluk, sedangkan mereka pun sama sekali tidak dapat menolak kemudharatan yang menimpa diri mereka sendiri. Cukuplah kepada Allah kembalinya segala tumpuhan hati, harapan dan segala urusan, karena Dia-lah penguasa segala-galanya dan penentu segenap kejadian. Tiada sesuatu pun di jagat semesta ini yang bergerak tanpa izin-Nya karena tiada daya  dan upaya tanpa kekuatan-Nya. Demikianlah dengan iman yang kuat, segala persoalan akan mendatangkan kebaikan, walhasil sekiranya sikap kita sesuai dengan keinginan Allah, maka apapun yang terjadi pasti akan menguntungkan bagi dunia dan akhirat kita. Sebaliknya bila menghadapinya tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan-Nya, niscaya dunia ini akan memperbudak dan menyengsarakan kita.

Akan tetapi lain dengan orang yang imannya tidak istiqomah bila doanya telah dikabulkan, kesedihannya telah berlalu dan hidupnya kembali senang seperti sediakala, beban berat sudah tidak ada, penderitaan pun sudah berlalu dan kebutuhan akan pertolongan  juga sudah tidak begitu mendesak sedikit demi sedikit dia sudah mulai menjauh dari Allah Swt. tidak mau mendekat-dekat lagi, memang tidak salah bila keinginnan mendekatkan diri kepada Allah karena adanya musibah dan kesusahan akan tetapi juga tidak tepat bila kedekatan kita kepada Allah hanya karena kita mendapat musibah dan sedangkan dalam kesusahan, sebab Rasulullah Saw. justru menganjurkan sebaliknya, sesuai dengan sabda Beliau: “Dekatkanlah dirimu kepda Allah di saat kamu dalam keadaan senang, niscaya Allah akan mendekat (menolong) kepadamu di saat kamu dalam kesusahan”(HR. Muslim).

Rasulullah Saw. adalah orang yang sangat kuat beribadah, malam-malamnya dihabiskannya untuk shalat sunnah, dzikir bahkan di sela-sela shalat dan dzikirnya acap kali terdengar isak tangisnya disertai doa untuk keselamatan umatnya, melihat keadaan Rasulullah yang demikian itu, istri beliau Siti Aisyah r.a pernah memberanikan diri bertanya tentang kesedihan apa yang dirasakannya, serta kekurangan apa lagi yang dimintanya. Bukankah Rasulullah Saw. hidup dalam kedamaian, kedudukan tertinggi sebagai pemimpin  umat, sebagai Nabi dan utusan Allah telah dianugerahkan padanya? Bahkan di akhirat dijamin surga? Mendengar pertanyan seperti itu Rasulullah Saw. tersenyum sambil menjawab: “Bukankah aku ini sepantasnya hamba yang harus banyak bersyukur.”

Dari jawaban ini kita jadi tahu mengapa Rasulullah Saw. demikian kuat beribadah, tekun berdzikir dan shalat malam, tidak lain adalah untuk mensyukuri kenikmatan yang diterimanya, bukan lantaran sedang mengalami kesusahan. Oleh karena itu Rasulullah Saw. mendekatkan diri di saat gembira, maka Allah pun cepat menolongnya tatkala mengalami kesulitan, ini penting diresapkan sebab kebanyakan orang yang justru bersikap sebaliknya, yaitu mau mendekatkan diri kepada Allah menakala ada kesulitan yang menimpanya, maka dari itu, wajarlah kalau Allah Swt. tidak cepat menolongnya bilamana ia terkena musibah.

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Isnan Alami S. Ag

 

 

* Penulis adalah Staf Setda Pemkot Malang  

 

Comments

comments

Share Button

You may also like...