REFLEKSI TAHUN BARU  HIJRIYAH

Share Button

hijriyahSebentar lagi seluruh umat Islam di penjuru dunia akan mengakhiri tahun 1426 H dan menuju tahun 1427 H. Ketika banyak orang yang sibuk dengan urusan duniawi, maka tidak ada salahnya jika kita melakukan “kalkulasi” amal ibadah kita selama satu tahun kemarin. Berapa banyak amal sholeh yang kita lakukan sekaligus dosa kita? Apakah kita sudah menjadi hamba Allah yang sesungguhnya, sejauh mana kita melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba Allah? Sangat tepat bila tahun baru ini kita jadikan momentum untuk kembali mengingat sejarah kehidupan kita yang telah berlalu sekaligus mempersiapkan tahapan masa-masa mendatang yang akan kita lalui. Sebagai pemilik sah tahun baru Hijriyah, umat Islam hendaklah menyambut hari esok dengan hari yang lebih baik dengan penuh kebahagiaan dan kemenangan. Semua itu hanya dapat kita peroleh manakala dalam kehidupan ini kita berpijak dan berlandaskan pada jiwa taqwallah.

Mensyukuri Nikmat Allah

Salah satu nikmat Allah yang besar bagi kita dan wajib kita syukuri adalah nikmat umur, sebab dengan umur inilah kita dapat merasakan hidup dan segala pemberian-Nya. Hari demi hari, bulan demi bulan, akhirnya tahun demi tahun kenikmatan Allah makin nyata kita rasakan.

Sumber kehidupan telah disediakan Allah untuk semua makhluk-Nya. Udara segar bisa dihirup, air bersih dapat diminum, bahan-bahan pakaian telah tersedia, bumi rata untuk tempat tinggal, angin ditiupkan, hujan diturunkan, dan segala tanaman ditumbuhkan. Matahari dipancarkan, bulan dicahayakan, lautan dibentangkan dan sungai-sungai dialirkan. Semua itu adalah nikmat Allah untuk kita umat manusia. Tujuan pemberian nikmat itu tiada lain agar dipergunakan sebagai bekal, sarana dalam mengabdi dan beribadah kepada Allah.

Allah berfirman dalam surat Ibrahim: 32-34 “Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian sebab air itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan menjadi rizki untukmu. Dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di  dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai, matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu siang dan malam. Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluan) dari segala yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tidak akan mampu, sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan telah mengingkari (nikmat Allah).”

Lebih-lebih bagi kita yang sempat menikmati hidup di zaman ini dengan ditemukannya berbagai produk ilmu pengetahuan dan teknologi, hidup ini terasa sangat nikmat. Namun kita tidak boleh lengah atau lupa, sebagai orang yang beriman kita harus sadar bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah kekal, masih ada kehidupan yang lebih nikmat dan kekal abadi yaitu kehidupan di akhirat.

Jika kita diberi kesempatan hidup di dunia, maka sebenarnya tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah. Semua fasilitas duniawi yang ada telah Allah sediakan adalah untuk bekal kita beribadah kepada-Nya, meningkatkan taqwa kepada Allah, dengan taqwa ini selanjutnya digunakan sebagai bekal untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih tinggi dan sempurna di akhirat, yaitu kehidupan di surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah: 197 “Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa.”

Memanfaatkan Waktu dan Umur

Berbahagialah mereka yang telah memperoleh nikmat umur yang panjang dan dapat menggunakan umurnya dengan berbagai amal sholeh, sebab orang yang demikian dikategorikan oleh Rasulullah sebagai orang yang paling baik, dan sebaliknya, celakalah mereka yang diberi panjang umur akan tetapi umurnya digunakan untuk berbuat maksiat dan tidak digunakan untuk beribadah. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi dan Hakim “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan bagus amalnya, Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan banyak amal kejelekannya“. Kita menyadari bahwa umur adalah rahasia Ilahi, tidak tahu kapan umur akan berakhir sampai orang itu meninggal dunia. Yang kita ketahui hanyalah kenyataan bahwa jika seseorang meninggal dunia, berarti telah sampailah ajalnya. Dia tidak akan mendapatkan tambahan umur, meskipun satu detik saja.

Allah berfirman: “Maka apabila telah tiba waktu (ajal)nya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak dapat mengajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34) Oleh karena itu marilah kita selalu melakukan introspeksi diri. Apa saja yang sudah kita lakukan selama hidup kita, apakah sudah memenuhi kriteria sebagai hamba Allah yang benar-benar bertaqwa, serta apa yang akan kita lakukan di esok hari dan masa mendatang untuk mengisi umur kita. Selama malaikat Izrail belum datang dan mencabut nyawa dari jasmani maka masih ada kesempatan bagi kita untuk memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat dengan taubat nasuhah. Kita masih meiliki kesempatan untuk mengisi waktu kita dengan berbagai amal kebaikan yang nantinya akan diperhitungkan di hari kiamat kelak dan akan menguntungkan kita, sedangkan kita yang berbuat maksiat maka akan merugikan kita sendiri. Allah berfirman “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka akan bermanfaat bagi dirinya, dan barangsipa yang berbuat kejelekan maka akan merugikan pelakunya. Dan Tuhanmu tidak akan berbuat dzalim kepada hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46).

Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Iman

Di awal bulan Muharram ini, sebaiknya kita melakukan pembaharuan iman dan taqwa kepada Allah SWT, sehingga pada hari-hari selanjutnya kita akan senantiasa mempertebal iman kita dan meningkatkan amal sholeh. Salah satu caranya adalah dengan melakukan renungan dan menganalisa setiap kejadian yang ada di sekitar kita dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.

Di dalam Al-Qur’an perintah iman selalu dibarengkan dengan melakukan amal sholeh, bahkan persyaratan orang masuk surga adalah harus beriman dan beramal sholeh. Allah berfirman “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh ke dalam surga- surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.” Dengan melakukan amal sholeh, seseorang akan dapat menambah keimanannya dan sebaliknya jika seseorang melakukan kemaksiatan maka imannya akan berkurang.

Oleh karena itu, hendaknya kita selalu melakukan introspeksi dengan amal perbuatan yang telah kita lakukan dan berusaha untuk memperbaikinya dengan memperbanyak amal sholeh dan meningkatkan kadar keimanan kita kepada Allah SWT, dn hendaknya kita selalu memohon kepada Allah agar kita mampu malakuakn semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya sehingga kita menjadi hamba Allah yang khusnul khotimah. Amin.

 

Disampaikan ketika tahun baru 1427 H.

Oleh : KH. M. Baidlowi Muslich*

*Penulis adalah Kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang dan ketua MUI Kota Malang.

Comments

comments

Share Button

You may also like...