KURANG OLAHRAGA

Share Button

Hari ini cak Mono sedang kebagian tugas menjaga poliklinik menemani dokter Zainal. Poliklinik milik pondok pesantren itu sudah dibangun sejak lama di sana untuk melayani pengobatan santri dan warga kampung sekitar. Cak Mono tidak tahu apa-apa masalah ilmu kesehatan apalagi pengobatan. Di sana dia hanya membantu agar dokter Zainal tidak harus melakukan segala hal sendirian.

Ketika menjelang waktu dhuhur, dokter Zainal tiba-tiba ingin pergi ke toilet memenuhi panggilan alam. Toilet di poliklinik tersebut hanya menyediakan urinal tanpa kamar mandi dan – maaf – kakus, sehingga dokter Zainal terpaksa harus pergi ke toilet terdekat – toilet pondok pesantren.

“Cak, saya tinggal ke toilet dulu ya. Sampeyan jangan ke mana-mana,” katanya pada cak Mono, “paling cuma lima belas menit.”

“Siap, pak dokter,” jawabnya dengan suara lantang khas pejuang zaman Agresi Militer Belanda tidak ingin mengecewakan dokter Zainal. Sebenarnya jauh di dasar hatinya cak Mono berharap agar tidak ada seorang pasien pun yang datang sebelum dokter Zainal kembali dari menunaikan tugas biologisnya.

Namun, seperti kebanyakan kisah di televisi, Tuhan berkehendak lain. Seorang pasien datang segera setelah dokter Zainal hilang dari pandangan.

“Assalamu ‘alaikum,” sang pasien mengucapkan salam ketika memasuki ruangan.

“Wa ‘alaikum salam,” jawab cak Mono. Kali ini suaranya terdengar hampa. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya dia basa-basi.

“Begini mas, sudah dua hari ini badan saya pegal-pegal. Saya setiap ngajar di sekolah jadi kurang semangat,” kata pasien tersebut yang ternyata adalah sorang guru sekolahan.

Cak Mono bingung. Dia tidak ingin membuat pasiennya lama menunggu. Tetapi jelas dia juga tidak bisa memberikan diagnosis palsu. Sayangnya dia tidak sempat buka facebook untuk update status

“Silakan duduk pak di sini,” cak Mono mempersilakan pasien duduk di kursi pasien. Dia terus memutar otaknya mencoba mencari solusi. Sambil mengulur waktu, dia mengambil stetoskop dari lemari. Dia memperhatikan dengan seksama di bagian yang seharusnya dia pasang di kedua telinganya, mencoba mencari tulisan huruf L dan R. Karena dia tidak temukan, akhirnya dia mengenakannya dengan asal.

“Permisi pak ya,” kata cak Mono memberikan gestur dia akan menempelkan ujung lain dari stetoskop ke dada sang pasien. Cak Mono tidak tahu apa gunanya melakukan itu – hanya formalitas. Sang pasien menurut. Tiba-tiba ide jenius mampir di kepala cak Mono. Katakan saja sang pasien sedang kurang berolahraga. Bukankah kebanyakan orang seperti itu? Dengan begitu dia tak perlu memberikan obat apapun kepada pasien – daripada salah obat. Sarankan saja supaya sang pasien lebih rajin berolahraga.

Cak Mono menarik ujung stetoskop dari tubuh sang pasien seraya berkata, “Mmm… berdasarkan analisa saya,” nada suaranya dibuat lebih rendah dari biasanya, “bapak ini nampaknya kurang rajin berolahraga.”

“Masa sih, mas?” sang pasien setengah tidak percaya.

“Ya, mungkin bapak ini terlalu berkonsentrasi pada kegiatan belajar mengajar bapak,” jawab cak Mono.

“Tapi,” sang pasien menyangkal, “saya kan guru olahraga.”

Comments

comments

Share Button

You may also like...