INDAHNYA SIKAP TAWADHU’

Share Button

tawadlu

Di awal tulisan ini, penulis mengajak para pembaca untuk memperbaiki dan mengaktualkan iman dan takwa kepada Allah Swt. Caranya, selalu mengendalikan seluruh aktivitas hidup dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar syari’at agama. Pengendalian aktivitas hidup dengan syari’at agama ini dirasakan semakin penting karena dalam realitas kehidupan manusia, semakin hari semakin banyak menghadapi tantangan dan godaan yang sering melalaikan mereka dari ajaran-ajaran Tuhannya, yaitu ajaran Islam. Keberhasilan seseorang untuk mengendalikan hidup berdasarkan syariat Islam, dengan nilai-nilai akhlak al-karimah, akan terasa indah dan nikmat dalam kehidupan ini.

Dalam kehidupan ini, dapat dicapai keindahan dan kenikmatan dalam banyak hal; indah dalam perkataan, indah dalam bersikap, dan indah dalam berperilaku. Sinyalemen ini dapat dipahami dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud. Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat seberkas kesombongan. Berkata seseorang, ‘Sesungguhnya seseorang itu cinta kepada pakaian bagus dan sandal bagus.’ Lalu Rasulullah Saw. berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu Jamil (bagus) dan mencintai hal-hal yang bagus, (dan) kesombongan (itu pada hakekatnya) adalah menyombongi Allah Yang Haq dan meremehkan manusia’” (H.R. Muslim).

Oleh karena itu, perkataan yang indah adalah perkataan yang tiada mengandung kesombongan, kecongkakan, hujatan, ejekan, dan caci maki. Pakaian yang indah adalah pakaian yang tidak disertai niat dan maksud keangkuhan, kebanggaan, dan meremehkan, merendahkan, serta mengungguli orang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw. tentang larangan berpakaian dengan motif kesombongan, “Allah tidak akan melihat pada hari kiamat terhadap seseorang yang menarik sarungnya untuk kesombongan” (H.R. Bukhari muslim). Sikap dan perilaku yang indah adalah sikap dan perilaku yang tidak didasari kesombongan, perasaan berkuasa, lebih kuat, dan meghinakan orang lain. Allah memerintahkan, “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai” (Q.S. Luqman: 19). Orang yang bersikap dan berlagak sombong akan dimurkai Allah Swt. di hari pembalasan nanti. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang membesarkan (membanggakan) dirinya dan berlagak sombong ketika ia berjalan, niscaya ia nanti akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan mendapatkan kemurkaan” (H.R. Bukhari).

Sombong hanya milik Allah

Kesombongan merupakan hal yang negatif dan harus dijauhi. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh…..” (Q.S. Luqman: 18). Hanya Allah-lah yang berhak menyandang kesombongan, karena termasuk di antara sifat-sifat-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi riwayat Imam Muslim disebutkan, “Al-izzu izari wal kibriyaa’u ridaa’i, faman naaza’ani fii wahidin minhuma faqad ‘adzdzabtuhu (Kekuatan itu sarung-Ku, sedangkan kebesaran/kesombongan itu adalah selendang-Ku. Maka barangsiapa yang memisahkan dari-Ku salah satu di antara keduanya maka Aku akan menyiksanya).”

Memang seorang muslim diperintahkan untuk meneladani sifat-sifat Allah, akan tetapi ketika dia muslim meneladani sifat Al-Kibriya’ (Keangkuhan/kesombongan), ia harus ingat bahwa sifat itu tidak akan disandang oleh Tuhan kecuali dalam konteks ancaman terhadap para pembangkang, atau terhadap orang yang merasa dirinya superior. Ketika Rasulullah Saw. melihat seseorang yang berjalan angkuh di medan perang, beliau bersabda, “Innaha lamasyatun yakrahuha Allahu illa fi hadzal maqami (Itu adalah cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali dalam kondisi semacam ini).”

Seseorang yang berusaha meneladani sifat Al-Kibriya’ tidak akan meneladaninya kecuali terhadap manusia-manusia yang angkuh. Dalam konteks ini ditemukan riwayat yang menyatakan, “At-takabburu ‘alal mutakabbiri shadaqatun (Bersikap angkuh terhadap orang angkuh yang adalah sedekah).” Ketika seorang muslim berusaha meneladani kekuatan dan kebesaran Ilahi, harus diingat bahwa sebagai makhluk ia terdiri dari jasad dan ruh, sehingga keduanya harus sama-sama kuat. Kekuatan dan kebesaran itu mesti diarahkan untuk menopang yang salah maupun yang sewenang-wenang. Karena ketika Al-Qur’an mengulang-ulang kebesaran Allah, Al-Qur’an juga menegaskan, “ Seseungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang angkuh lagi membanggakan diri” (Q.S. Luqman: 18).

Indahnya Tawadhu’

Betapa indah sikap dan perilaku seorang pemimpin yang berkuasa lagi penyayang. Betapa indah seorang kaya raya yang dermawan dan penuh kasih sayang. Betapa indah orang miskin yang lapang dada, bersyukur lagi ridha. Betapa indah orang tua yang lemah lembut dan pemuda yan giat dan sopan. Betapa indah orang bodoh yang sabar dan orang pandai lagi berilmu yang tawadhu’ (rendah hati).

Sayyidina Ali ra. pernah berkata, “Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah, dan jadilah manusia yang paling jelek dalam pandangan diri sendiri, serta jadilah manusia biasa di hadapan orang lain” (Nashaihul Ibad).

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany berkata: “Apabila engkau bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau memandangnya lebih utama daripada kamu, dan engkau mengatakan, “Mungkin dia lebih baik di sisi Allah dan lebih tinggi derajatnya di sisi-Nya daripada aku”. Apabila dia lebih kecil, hendaklah engkau mengatakan, ”Orang ini tidak pernah berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku telah berbuat dosa, maka tidak ragu lagi bahwa dia lebih baik daripada aku”. Dan apabila keadaan orang yang kamu lihat itu lebih tua, hendaklah engkau berkata, “Orang itu telah beribadah kepada Allah sebelum aku beribadah”. Apabila orang yang kamu pandang kelihata ‘alim, hendaknya engkau mengatakan, “Orang itu telah diberi anugerah yang belum aku dapatkan dan ia telah mengetahui apa yang belum kuketahui serta mengamalkan ilmunya.” Apabila yang kamu pandang itu kelihatan bodoh, hendaklah kamu mengatakan, “Orang itu durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sementara aku berbuat dosa padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa aku diakhiri, atau dengan apa dia diakhiri, apakah husnul khatimah atau su’ul khatimah.” Dan apabila orang yang engkau lihat itu kafir, hendaklah engkau mengatakan (pada dirimu), “Aku tidak tahu, mungkin aku (nantinya) menjadi kafir sehingga aku berakhir dengan amal yang jelek. Sedangkan orang itu menjadi beriman dan akan berakhir dengan amal baik.”

Di antara teladan yang indah, dapat diperoleh dari sabda dan perilaku para nabi alaihis salam, wali-wali Allah dan orang-orang saleh yang selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tentunya akhlak yang paling mulia adalah yang dimiliki Rasulullah Saw., karena telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung” (Q.S. Al-Qalam: 4).

 

Oleh: Ust. Drs. Murtadho Amin

*Penulis adalah Staf Pengajar MMH-PPMH dan dosen UNISMA Malang.

Comments

comments

Share Button

You may also like...