JIHAD ATAU TERORISME ?

Share Button

jihad” Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad lebih besar”(Al-Hadits)

Kata ‘terorisme’ yang muncul sejak akhir abad ke-18, kini berada pada puncak popularitasnya, yaitu ketika televisi di seluruh dunia mengulang-ulang penayangan aksi teror pembumihangusan gedung WTC dan Pentagon pada tanggal 11 September 2001. Dengan adanya aksi tersebut, opini yang gegap gempita disuarakan oleh berbagai kalangan, baik muslim maupun  nonmuslim, yaitu untuk menentang terhadap aksi terorisme. Namun umat islam dihadapkan pada keadaan dilematis terhadap pengertian  jihad

Banyak kalangan muslim yang berusaha membangun opini bahwa aksi itu merupakan aksi yang terkutuk, yang sebenarnya sudah direkayasa oleh Badan Intelijen Israel, Mossad, atau direkayasa oleh Amerika sendiri. Untuk menyikapi kejadian tersebut, perlu adanya pengertian yang jelas antara Jihad dan ‘Terorisme’.

Pengertian Jihad

Apakah sebenarnya yang disebut sebagai aksi jihad fi sabilillah (perang)? Kitab Kifayatul Akhyar menjelaskan kata jihad fi sabilillah (perang) merupakan berperang melawan musuh atau orang kafir yang menyerang dan hukumnya fardhu kifayah. Allah SWT menjelaskan di dalam surat An-Nisa’ ayat 95 yang artinya: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.” Dengan demikian, hukum perang tidak sampai fardhu ain, sebab kalau setiap orang diwajibkan perang maka kegiatan dan usaha-usaha sosial (yang lain) menjadi sepi sehingga perekonomian macet. Keadaan tersebut akan dapat merugikan dan meruntuhkan negara. Fardhu kifayah dalam perang ada dua arti (1) sejumlah orang maju berperang, mereka berjumlah banyak (yang cukup) disebabkan kalau kurang menjadi lemah, (2) Imam (pemimpin) sendiri menyerang atau mengirim beberapa tentara. Kalau mereka menolak maka berdosa.

Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani di dalam kitab Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani (terbitan al-Maktabah asy-Sya’biyyah, Beirut,1988)  menyatakan: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan keterangan kepada kita bahwa ada dua bentuk jihad, yaitu jihad lahir dan jihad batin.” Jihad batin adalah jihad melawan diri sendiri, hawa nafsu, tabiat, dan setan. Sementara itu, jihad lahir adalah jihad memerangi orang-orang kafir yang menentang kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bersabar dalam menghadapi perang, tombak, dan anak panah mereka; baik dengan membunuh ataupun terbunuh.

Tentang banyaknya perang yang harus dilakukan, ada perbedaan pendapat. Sebagian Mujahid berpendapat: “Paling sedikit sekali dalam setahun sebab nabi tidak pernah sunyi berperang setiap tahunnya.”  Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun” (Q.S. At-Taubah:126). Berdasarkan penjelasan tersebut, kewajiban berperang itu dilakukan berulang-ulang, paling tidak sekali dalam satu tahun, sebagaimana puasa dan zakat. Tetapi, jika keadaan mengharuskan, maka dua kali atau lebih dalam setahunnya harus dilaksanakan, sebab merupakan suatu kewajiban.

Selain itu, syarat wajib perang ada 7 yaitu (1) Islam: Orang kafir tidak mempunyai kewajiban perang; (2) Baligh: Anak kecil tidak diwajibkan berperang; (3) Berakal: Anak kecil tidak diwajibkan berperang dan juga orang-orang gila, sebab keduanya lemah akalnya, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 91; (4) Merdeka: Budak tidak diwajibkan perang, sebab perang harus dengan harta dan tenaga, sedang budak tidak mempunyai hak harta sesuai firman Allah di dalam surat At-Taubah ayat 41; (5) Laki-laki: Perempuan tidak mempunyai kewajiban perang sebagaimana firman Allah dalam surat An-Anfal ayat 65; (6) Sehat: Orang yang berperang harus sehat. Tidak berdosa atas orang yang sakit, buta, luka-luka berat, dan cacat-cacat lain sehingga tidak sanggup untuk berperang, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Fath:17; (7) Kuat berperang: Orang miskin yang tidak mempunyai bekal nafkah untuk dirinya dan keluarganya tidak wajib berperang. Dalam perang yang jauh, orang yang tidak mempunyai kendaraan untuk sampai ke medan perang tidak wajib berperang (berbeda dengan sistem militer sekarang, mereka berperang karena tugas, fasilitas telah tersedia), sebagaimana firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 91.

Mengenang Perang di Bulan Maret 

Serangan Umum 1 Maret 1949

Menurut buku-buku teks sejarah yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Orde Baru, serangan umum tersebut diprakarsai Letkol Soeharto. Akan tetapi, kontroversi muncul ketika harian Surya Merdeka (Terbit di Semarang, edisi 15 Oktober 1985) memuat wawancara dengan KPH Soedarisman Poerwokoesoemo, mantan Wali Kota Yogyakarta (1947-1966). Soedarisman mempertanyakan, dari manakah gagasan serangan itu berasal? Apakah dari Soeharto, dari Bambang Soegeng, yang menjadi atasan Soeharto, Sudirman, Nasution, ataukah dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX ?

Setelah kekuasaan Orde Baru pudar, kritikan semakin kuat bahwa penulisan teks sejarah tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan kategori hagiografi artinya penulisan karya untuk pengkultusan peranan seorang tokoh. Paparan versi Soeharto di dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, otobiografi Soeharto yang dipaparkan kepada G. Dwipayana dan Ramadhan KH (PT Citra Lamtoro Gung Persada, Jakarta 1988) didukung oleh Djatikusumo, komandan sektor 041 yang membawahi Yogyakarta Utara dan timur sampai batas Magelang dan Surakarta. Ia menamakan Soeharto sebagai “arsitek” serangan itu. Djatikusumo mempertanyakan: “Bagaimana mungkin Sultan Hamengku Buwono IX bisa merancang serangan itu, dari mana dan kapan beliau belajar ketentaraan?” (majalah Editor, 21 Maret 1992).

Hal itu merupakan reaksi Djatikusumo terhadap paparan wartawan dan politisi Manai Sophiaan dalam bukunya, Apa Yang Masih Teringat, yang mengutip keterangan penulis Belanda Dr. L De Jong dalam bukunya, Het Koninkrijk der Nederlanden in de Twede Waterdoorlog, seperti dimuat dalam Editor, Februari 1949.

Buku Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta: Latar Belakang dan Pengaruhnya yang diarsipkan oleh Seskoad dan diterbitkan oleh PT Cipta Lantoro Gung Persada tahun 1989 menyebutkan, Sri Sultan HB IX dan Letkol Soeharto sama-sama mendengar pemancar radio luar negeri dan mengikuti perdebatan di Dewan Keamanan tentang masalah Indonesia bahwa, baik Letkol Soeharto maupun Sri Sultan IX, keduanya perpendapat bahwa sidang Dewan Keamanan PBB merupakan kesempatan  baik untuk menaklukkan Belanda (hal.195-196). Tapi tidak dicantumkan bahwa Letkol Soeharto diminta berjumpa dengan Sri Sultan HB IX dalam persiapan Serangan Umum 1 maret seperi diceritakan oleh adik beliau GBPH Prabuningrat.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemrakarsa Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dari berbagai sumber di atas, tampaklah dengan jelas bahwa peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pemrakarsa serangan tersebut.

Yogyakarta pada 1 Maret 1949

Serangan umum tersebut dilakukan dengan perencanaan dan persiapan yang matang. Pos Komando ditempatkan di desa Muto. Untuk memudahkan koordinasi penyerangan , dibentuk sektor-sektor. Sektor Barat dipimpin oleh Mayor Ventje Sumual, sektor Selatan dan Timur dipimpin oleh Major Sardjono, Sektor Utara dipimpin oleh Mayor Kusno. Untuk sektor Kota sendiri ditunjuk Letnan Amir  Murtono dan Letnan Marsoedi. Dalam serangan umum yang akan dilaksanakan, SWK 101 yang berada di dalam kota Yogyakarta akan ditugasi untuk mengkoordinasi keperluan pasukan WK III, termasuk pembekalan.

Baik insiden Komaroedin dan insiden Giwangan, tampaknya tidak membuat Belanda bersikap waspada terhadap datangnya serangan yang lebih besar. Ini dapat dijelaskan dengan alasan sebagai berikut. Pertama, sejak Belanda menduduki Yogya, telah muncul kabar yang menyebutkan serangan besar-besaran. Kedua, Belanda sendiri pada umumnya meremehkan kekuatan tentara Republik, yang mereka anggap sebagai  “sekumpulan preman.”

Oleh karena itu, suatu kejutan kalau pagi hari pada tanggal 1 Maret 1949 kurang lebih pukul 06.00 sewaktu sirene berbunyi sebagai tanda jam malam telah berakhir, serangan umum dilancarkan dari segala penjuru. Banyak tentara Belanda yang begitu terbangun, telah merasa terkepung dari segala arah. Sekitar pukul 10.00 Belanda mengadakan pengintaian dari udara dengan pesawat Auster (Capung). Pukul 11.00 bantuan dari Magelang tiba di Yogyakarta setelah berhasil mengatasi hambatan yang dilakukan oleh Peleton I dan II Kompi Mastono dan kesatuan Brigif 9 di beberapa jalan sepanjang Magelang -Yogyakarta. Menjelang pukul 13.00 pasukan gerilya TNI mulai bergerak meninggalkan Yogyakarta, sedangkan pasukan Belanda berusaha mencegah pasukan gerilya meninggalkan kota Yogya.

  1. Serangan Tujuh Jam bulan Maret 1949 di Malang

Setelah hampir empat tahun, ribuan pejuang bergerilya di pinggir- pinggir kota, maka kota Malang akhirnya dapat direbut kembali. Peristiwa terjadi pada bulan Maret 1949, setelah melalui pertempuran sengit selama 7 jam. Ada satu hal yang patut diketahui bangsa Indonesia, terutama warga kota Malang, bahwa operasi perebutan kembali kota dingin ini dilancarkan dari sebuah pesantren, yaitu Pondok Gading yang diasuh KyaiYahya dan berlokasi di Gadingkasri, menurut Sullam Syamsun disebabkan karena posisi yang strategis dan dukungan dari pengasuh dan masyarakat sekitarnya. Pertimbangan lain, menurut Alm. H.M.Dahlan karena pondok Gading oleh IVG (Badan Intelejen Belanda saat itu) dikatagorikan sebagai Netral Zone, yakni daerah yang dianggap bebas dari upaya-upaya Belanda.

Dari contoh di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa pengertian jihad juga termasuk dalam berperang melawan penjajah yang menjajah suatu negara. Hal ini disebabkan karena adanya kaul berbunyi Hubbul Wathon Minal Iman  yang artinya mencintai negara merupakan sebagian dari iman. Sebagai contoh: perang melawan penjajah Belanda yang telah menguasai Indonesia selama kurang lebih dua setengah abad, perang melawan penjajah Portugis, perang melawan penjajah Inggris. Peperangan  melawan penjajah baik itu merebut maupun mempertahankan kemerdekaan di dalamnya terdapat para ulama’ yang sangat berperan.

 

Pengertian Terorisme

Fenomena WTC daan Pentagon mencengengkan sebagian kalangan. Tapi ia tidak mencengengkan bagi kaum mukminin yang akrab dengan Al Qur’an. Allah yang Maha Tahu telah menyibak rahasia kedengkian dan dendam kesumat kaum Nasrani, Musrikin, dan terutama Yahudi terhadap Islam dan muslimin. Sebagaimana telah dijelaskan di dalam Al Quran. “Tidak akan pernah ridha kepada engkau ( Muhammad saw) mereka orang Yahudi daan nasrani, hingga engkau mengikuti agama mereka” ( QS.Al Baqarah, 2:12).

Sedangkan definisi terorisme di dalam  Oxford Advanced Lerner’s Dictonary of Current English mengertikan kata terror sebagai great fear (rasa takut yang luar biasa). Terrorism diartikan sebagai use of violance and intimidation,especially for purposes (penggunaan kekerasan dann intimidasi,utamanya bagi tujuan-tujuan politik); dan terrorist diartikan dengan supporter of terrorism atau participant in terrorism.

Definisi terorisme sampai kini masih terus diperdebatkan, namun agaknya “kambing hitam” terorisme telah disepakati jauh-jauh oleh mayoritas pengamat dan politisi barat bahwa terorisme seakan secara “genetic” berasal dari komunitas Islam, khususnya Timur Tengah. Ungkapan Daniel Pipe memperjelas Hal ini, yaitu Timur tengah memiliki kepentingan yang khusus terhadap terorisme.

Sementara itu, definisi tertorisme yang digunakan oleh FBI (Federal Bureau of Investigatiaon) Amerika yang dinyatakan  James M.Poland terorisme adalah pembunuhan dan yang dilakukan dengan sadar, terencana dan sistematis, penciptaan situasi kacau, dan pengancaman terhadap orang yang tidak berdosa, untuk menciptakan rasa takut dan ketertindasan dalam rangka mendapat keuntungan taktik dan polotik, umumnya untuk mempengaruhi masyarakat umum ( Lihat ” Definition” pada http://www.terorism.com). Jika mereka konsisten dwngan definisi ini maka tak ayal Israel dan Zionisme adalah biangterorisme dunia. Kekejian tujuan Israel dan zionisme  telah dinyatakan dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 78-79. Maka Israel dan Zionisme sesungguhnya bukanlah musuh Islam semata. Ia adalah semua agama dan kemanusian sedunia. Untuk bisa terhindar daan mengalahkan mereka kita harus kembali kepada Al Quran surat Ali Imran ayat 120 yang berbunyi ” …jika kalian bersabar dan bertaqwa, tidaak mencelakakan kalian sedikitpun tipu daya mereka…”

Dengan demikian dapat disimpulkan antara kewajiban jihad dengan menghindari ‘praktek’ terorisme (Zionisme) yang ternyata merugikan umat islam sendiri, umat islam harus mencari bentuk jihad batin dalam menghadapi opini internasional supaya konsep Islam Rahmatal lil Alamin selalu menggema di dunia .

 

Oleh: M. Misbahul Munir

Penulis adalah aktivis Forum Kajian Islam Sastra (FORKIS) UM dan Redaksi

Comments

comments

Share Button

You may also like...