Pekan Maulidur Rasul, Ada apa di Gading Pesantren?

Share Button

Pekan maulid

Malang, (08/01) Senin tanggal 9 Rabiul Awal, pada tahun tragedi pasukan bergajah, di tengah kabilah besar Bani Hasyim di kota Mekkah. Membuka kembali sejarah saat manusia paling manusia Sayyidul Mursaliin, Rosulullah S.a.w dilahirkan. Seorang hamba paling menghamba di hadapan tuhannya ,  sebagai utusan terakhir. Terlahir dari rahim sosok mulia sayyidatina Aminah dan sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib.

Setelah kelahirannya, ibunya mengirim utusan ke kakeknya untuk member kabar gembira kelahiran cucunya tersebut. Kakeknya memboyong dengan suka cita dan membawa rosulullah tersebut masuk Ka’bah, berdoa dan bersyukur kepada Allah. Kemudian dia memberinya nama Muhammad.[1]

Wajar dan sepatutnya umat islam di bumi merayakan maulid nabi Muhammad SAW, tak terkecuali pondok gading. Dua hari sudah berlangsung beberapa agenda yang dijadwalkan akan berlangsung selama sepekan. Mulai dari pembukaan, bazaar kitab dan buku, musabaqoh puisi, cerita monolog sejarah nabi, madding santri dan sholawat.

Pembukaan pekan maulid tak luput dari kehadiran masyayikh Gading pesantren. Beberapa dari sekian pesan disampaikan oleh (Romo Kyai Ahmad Arif dan Romo Kyai M. Baidhowi Muslich) untuk tidak hanya perayaan maulid di rayakan semeriah mungkin, namun momentum perubahan dan pembenahan akhlaq, ibadah dan semangat ngaji sebagai sosok santri. Menghadirkan allah dan rosul dalam hati, dengan melanggengkan sholawat layaknya tercantum dalam kitab riyadus shalihin.

Bab Keutamaan Shalawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً … (الأحزاب: ٥٦)

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang       beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 56)

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawatkepadaku 1 kali, maka Allah bershalawatatasnya 10 kali.” (H.R. Muslim)[2]
Ditutup dengan himbauan masyayikh, “Tak ada hari esok lebih baik dari hari kemarin. Zaman jahiliyah modern telah tiba dengan tanda bermunculannya fitnah fitnah di masyarakat ,tak terkecuali di Malang. Kota tempat singgah para pelajar, pengusaha industri, dan tujuan pariwisata. Tak dapat dipungkiri pengaruh modernisasi semakin cepat terasa berupa perang informasi di era digital. Tengoklah dan tirulah akhlaq nabi untuk perbaiki diri dan dzikir sebagai banteng diri.”

Wallahu alam bissawab

 

 

 

 

 

 

[1] Thabaqut ibnu Sa’ad, 1/63 dalam Ar Rohiqul Makhtum. Syaikh Safiyyurrahman Al Mubarakfuri

[2]Kitab Riyadus salihin karangan  Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawy ad-Dimasyqy

Oleh : Staff LP3MH

 

Comments

comments

Share Button

You may also like...