Alaa Tandzuru

Share Button

Proses-Kelahiran-Bayi

Berbagai peristiwa atau kejadian yang ada di muka bumi ini, sejatiya memberikan hikmah dan pelajaran terutama yang menggunakan akal fikirannya dengan sebaik mungkin. Diantara peristiwa yang selalu dan pasti dialami umat manusia. Setiap manusia pasti mengalami dua peristiwa kelahiran dan kematian, dimana dua peristiwa ini memberikan hikmah luar biasa. Dalam sebuah syair diterangkan ada sebuah pemandangan atau peristiwa menarik dalam umumnya peristiwa kelahiran dan kematian.
Saat bayi lahir umumnya tangannya dalam posisi menggenggam, sedangkan pada peristiwa kematian, umumnya tangannya membuka. Sebuah peristiwa umum yang mungkin jarang diamati. Dua peristiwa bertolak belakang. Digambarkan dalam dengan indah dalam syair berikut :

Wafii qobdii fi tifli ‘inda wiladati

“Dan dalam genggaman tanganmu pada saat kelahiranmu”
Dalilun alal hirsyil murakkabi fil hayi
“Menjadi petunjuk bawa manusia mumnya memiliki sifat tamak dan rakus”
Wafi bastiha indal mamati bisyaratun
Alaa tandzuru, wa qod khorojtu ila syaiin

Sedangka pada posisi tangan terbuka ketika meninggal, menjadi pertanda bagi yang hidup
“Lihatlah tanganku aku telah kelar dari dunia ini tanpa membawa apapun”

Fenomena ini, memberikan gambaran bahwa adanya sifat tamak yang ingin menggenggam, menguasai memiliki apa yang ada didunia baik berupa harta, kedudukan, jabatan. Manusia memiliki keinginan sangat kuat pada hal bersifat duniawi merupakan sifat bawaan sejak lahir.
Secara umum, manusia diberikan rasa cinta pada kemewahan dunia oleh Alah SWT, hal ini dengan tegas dinyatakan oleh Allah SWT d surat Ali Imron :14
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(14)

Seperti yang dijelaskan pada surat ali imron ini, secara umum manusia memang senang dengan kenikmatan dunia. Meliputi pasangan, keturunan, harta benda, kendaraan serta hewan ternak dan sebagainya. Ketika manusia memiliki sifat tamak dan rakus, ini merupakan level yang berbahaya. Semua itu dapat menjerumuskan manusia pada perbuatan nista.

Rosulullah, Hadist shohih riwayat Imam At Tirmidzi mengingatkan tentang bahaya dari sifat tamak
“Tidaklah lebih bahaya (kerusakan) saat dua ekor serigala yang sedang lapar keduanya dilepaskan di kandang kambing, daripada kerusakan akibat sifat tamak, rakus pada kekayaan, kemulyaan, kemegahan pada agamanya.”

Ketika seseorang melakukan segala cara untuk menggapai kenikmatan dunia, maka sangat mungkin dia akan melakukan perbuatan dzalim. Misalnya mencari harta yang harom, yang mempengaruhi ibadah perbuatannya tidak diterima oleh Allah SWT. Manakala orang tamak telah meraih kedudukan, maka ia akan mengenggamnya seorang diri tanpa mau dibagi dengan yang lain. Maka muncullah sifat bakhil yang tak kalah berbahaya bagi agamanya.
Menghindari dan menjauhi adanya sifat tamak dan rakus, salah satu caranya dengan menyadari bahwa yang ada didunia ini tidak kekal selamanya. Akan ditinggalkan kala kita menghadap Allah SWT. Seperti digambarkan pada syair tadi. Ketika kita mati dan meninggalkan dunia ini kita tak akan membawa apapun, kekayaan kedudukan yang telah kita perjuangkan selama hidup didunia.

Ingatlah ,Segala sesuatu selain allah adalah batal batil
Yang menjadikannya ada hanya Allah
Setiap kenikmatan pasti akan sirna, akan hilang, akan ditingalkan
Setiap manusia dihari kiamat akan diketahui segala perbuatan langkah dan kelakuannya selama didunia ( Gubahan Syair Labid bin Rabiah )

Ketika sudah dihadapkan pada keadilan Allah SWT maka semua perbuatan manusia akan diketahui dan terbuka dihadapan Allah SWT. Dan ini tentu menjadi peringatan, renungan bagi kita semua, pada saat diberikan catatan amal kita tidak ada dosa, tidak ada kemaksiatan kedzaliman, namun hanya ada alam kebaikan yang digoreskan tinta emas. Diselamatkan oleh allah, dari sifat tamak dan rakus pada kenikmatan dunia. Dan saat kita menghadap Allah dengan khusnul khatimah yang bisa kita petik buahnya kelak dihari kiamat…

*Disarikan dari Khutbah Jumat oleh Ustadz Fathur Rozi (4 Desember 2016, PPMH Gading Malang)
Penulis : Hafidz Abdurrahman

Comments

comments

Share Button

You may also like...