Bahagia Sejati dari Perjuangan Tanpa Henti

Share Button

 bha

“Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta, tapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”

(al Hadits)

 

Sebagian besar orang berfikir bahagia itu ada pada kekayaan. Dengan kekayaan orang bisa terpenuhi hasratnya dengan mudah. Dengan kekayaan pula orang lain memandang hormat dia, kesalahan yang ia buat dengan mudah dimaafkan orang.

Pendapat ini, kita memaklumi, tidak sepenuhnya benar. Karena berapa banyak orang tidak bahagia meskipun kekayaannya melimpah. Meskipun kelihatannya kehidupannya penuh tawa, tapi siapa yang tahu kalau dalam hatinya pahit dan tidak tenang.

Bisa jadi pendapat seperti ini dilontarkan oleh orang yang kehidupannya tidak beruntung karena miskin. Setiap kali kebutuhan yang semestinya harus dia penuhi sekarang, harus tertunda kerena tak ada biaya. Dan lagi orang miskin menurut sebagian orang adalah hina. Kemudian dia putuskan saja; bahagia ada pada kekayaan.

Hal ini hampir sama dengan orang sakit. Dia pasti berpendapat bahagia itu akan terwujud kalau badan sehat. Demikian pula orang hina, tidak cantik, tidak tampan dan sebagainya berpendapat akan bahagia kalau keadaannya sebaliknya.

Jika demikian setiap orang memiliki kaidah sendiri tentang bahagia. Orang miskin percaya kalau bahagia itu akan tercapai kalau dia kaya. Orang sakit percaya kalau dia sehat dia akan bahagia, dan seterusnya.  Tentunya mereka akan mengejar kebahagiaan menurut apa yang ada dalam fikirannya bagaimanapun caranya.

Namun kenyataan sering berbeda dengan apa yang diharapkan. Banyak sekali orang yang gagal mencapai kebahagiaan. Siang dan malam bekerja keras dengan penuh harap mendapatkan kebahagiaan. Tapi ternyata semakin terperosok ke jurang penderitaan. Ada yang bisa bangkit, tapi banyak yang terjungkal tak bangkit lagi.

Ada seorang filosof  berpendapat, mencari bahagia itu sama saja bohong. Percuma mencari bahagia, hanya buang waktu dan umur. Kerena semua setiap jengkal kehidupan hingga manusia mati tidak pernah luput dari pertarungan-pertarungan.

 

 

Bahagia Menurut al Ghazali

Untuk mencapai bahagia ada tingkatan-tingkatan yang harus ditahapi oleh setiap manusia. Tingkatan-tingkatan bahagia itu secara garis besar ada 5 tingkat. Tingkat tertinggi adalah bahagia akhirat. Di sinilah puncak segala kebahagiaan. Namun untuk sampai kepada tingkatan ini harus melalui dulu tingkatan sebelumnya, tingkatan keempat yaitu, keutamaan akal yang meliputi sempurnanya akal dengan ilmu, ‘iffah yaitu menjaga kehormatan diri dengan sifat wara’, syaja’ah yaitu berani karena benar, dan ‘adl atau sifat adil.

Untuk mencapai tingkatan keempat ini harus dilalui dulu tingkatan ketiga yaitu, keutamaan badan atau tubuh yang meliputi kesehatan, kekuatan, keelokan, dan umur panjang. Keutamaan ini baru sempurna kalau tercapai tingkatan kedua yaitu keutamaan luar badan yang meliputi harta benda, keluarga dan sanak famili, kehormatan dan nasab atau keturunan.

Tingkatan kedua ini belum sempurna kalau belum tercapai tingkatan pertama yaitu taufik dan pertolongan Allah Swt. Tingkatan ini meliputi hidayah, irsyad, tasdid, dan ta’yid.

Dengan demikian jelas dalam upaya kita meraih bahagia sejati hal pertama yang harus dimiliki manusia adalah taufik dari Allah. Arti taufik adalah sesuainya kemauan dan cita-cita manusia dengan kuasa Allah Swt.  Hidayah adalah petunjuk untuk mengerti mana jalan yang baik dan yang buruk. Irsyad adalah pertolongan Allah untuk mencapai kebaikan dan terhindar dari keburukan dari jalan ilmu. Tasdid adalah kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan dengan kekuatan badan. Ta’yid adalah kekuatan yang mendorong untuk menjaga kebaikan dan menghindari keburukan.

Untuk mencapai tingkatan ini, kita harus memiliki ilmu dan pemahaman yang tepat tentang hal yang baik dan yang buruk untuk selanjutnya dengan kekuatan yang ada pada diri melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Tidak jalan lain untuk memiliki ilmu ini kecuali dengan belajar ilmu-ilmu agama.

Namun untuk bisa terus malakukan kebaikan tingkat pertama itu masih perlu sarana penunjang yang berasal dari luar badan yaitu berupa kecukupan harta benda, keluarga dan famili yang mendukung, kemuliaan diri dan nasab atau keturunan yang baik.  Apa hubungannya sarana ini dengan kebahagiaan?

Semua orang pada dasarnya ingin baik, banyak sekali orang yang hatinya baik dan ingin berbuat baik kepada orang lain. Tapi berhubung perlu membeli beras, maka tertundalah keinginan itu. Ingin tampil di muka umum tapi baju sendiri tak layak karena terlalu sering dipakai tanpa ada ganti. Atau karena harus pontang-panting memenuhi kebutuhan makan sehari-hari yang sulit, kebutuhan utama mencari ilmu menjadi terhalang. Pada hal ilmu adalah menjadi dasar untuk mencapai kebahagiaan berikutnya.Banyak sekali orang yang jujur dan lurus, tapi berhubung miskin terpaksa tidak jujur dan tidak lurus.

Karena itu adanya harta mutlak diperlukan dalam menapaki kehidupan. Tapi dengan dengan syarat harta itu diperoleh dari jalan yang benar dan dibelanjakan untuk hal yang benar pula.

Selain itu bahagia akan lengkap kalau istri, anak dan famili adalah orang-orang yang sholeh. Mereka akan sangat membantu dalam segala urusan. Banyak sekali orang baik tapi karena istri bukan orang yang sholeh sehingga sang suami terpaksa terseret ke hal yang tak baik. Dan anak-anak yang tidak terdidik dengan baik sering membuat orang tua ikut menanggung akibat perbuatan buruk mereka.

Keinginan menjadi terhormat harus dimiliki setiap orang. Tapi gila hormat dilarang. Terhormat diperoleh orang karena budi pekerti yang tinggi dan jasanya kepada masyarakat. Secara naluriah, tabiat manusia cenderung hormat kepada orang yang berbudi tinggi dan banyak jasanya, dan cenderung membenci orang yang tidak berbudi dan suka merugikan orang lain. Dan kehormatan itu sering menjaga orang yang memilikinya untuk berusaha terus kehormatan itu dari budi pekerti buruk.

Lalu bagaimana nasab atau keturunan termasuk menentukan kebahagiaan? Memang sangat riskan menyebut nasab atau keturunan menentukan kebahagiaan. Karena harga manusia ditentukan oleh amal berbuatannya, bukan keturunannya. Tapi dengan jujur kita mengakui kebanyakan sifat manusia dipengaruhi tabiat orang tuanya. Tabiat buruk orang tua sering kali turun ke anaknya. Maka, jika manusia sadar akan hal ini tentu menjaga tabiatnya agar nanti anak turunnya menjadi keturunan yang baik. Dan jika dari keturunan orang yang bertabiat tidak baik, masih terbuka jalan untuk merubahnya.

Setelah tingkat ini diperoleh, berikutnya adalah kecukupan yang ada pada tubuh, yaitu kesehatan, kekuatan, keelokan dan umur panjang. Dengan apa hal tersebut diperoleh? Kesehatan dan kekuatan bisa diusahakan, tapi bagaimana dengan keelokan dan umur panjang? Memang tabiat manusia lebih cenderung memilih orang yang sehat kuat dan cantik atau tampan. Tidak mungkin orang memilih orang malas, lemah dan buruk. Tapi semua bisa diusahakan dengan olah raga dan makanan yang sehat. Kecantikan dan ketampanan diperoleh dari hati dan pribadi yang elok. Sedang umur panjang diperoleh dari menjaga diri dan tubuh dari kerusakan. Dan tentunya ini hanyalah kehendak Allah, manusia hanya berusaha.

Jika tingkatan ini dimiliki seseorang, maka jalan menuju tercapainya keutamaan akal budi terbuka lebar. Dari kesempurnaan akal budi ini timbul perasaan mengerjakan agama dengan sungguh-sungguh. Dengan itu pula terbuka jalan menuju ridho Allah swt. Dan tercapai kebahagiaan hakiki yaitu kebahagiaan akhirat.

 

Hakekat Kaya dan Miskin

Orang bijak mendefinisikan kekayaan dengan orang yang sedikit kebutuhannya dan orang miskin adalah orang yang paling banyak kebutuhannya. Harta kekayaan memang harus ada untuk menyokong hidup tapi banyak sedikitnya kekayaan tidak menentukan terwujudnya bahagia.

Kekayaan sesungguhnya adalah bila merasa cukup dengan atas apa yang ada. Sedikit diterima banyak juga diterima. Sebab bagaimanapun banyaknya harta yang datang toh gunanya untuk menyokong amal ibadah kepada Allah Swt.

Sedang kekayaan semu adalah yang menekankan segi jumlah. Semakin banyak jumlah harta yang dipunyai semakin kaya orang itu. Tapi pemahaman seperti ini menjadikan orang berlomba-lomba menumpuk kekayaan agar lebih besar dan lebih banyak. Sifat inilah yang menjadikan orang tidak bahagia. Karena sesungguhnya bukan lagi orang itu yang mengendalikan harta tapi harta lah yang mengendalikan dia.

Harta diperlukan karena setiap manusia butuh makan dan minum. Makan dan minum itulah yang menjadikan badan kuat dan sehat. Dengan badan sehat pikiran juga sehat. Ibadah kepada Allah jadi lebih tenang.  Tapi harta juga menimbulkan fitnah. Oleh karena itu kekurangan harta itu tidak baik berlebihan juga tercela. Harta adalah obat sekaligus racun.

 

Qonaah

Banyak orang yang salah sangka tentang qonaah dianggapnya qona’ah itu menerima apanya tanpa mau berusaha. Malas dan membenci dunia. Kemudian dianggapnya orang yang paling taqwa adalah yang sehari-hari tenggelam dalam wirid.

Tapi sebenarnya Islam memerintahkan qonaah itu adalah qonaah hati bukan qonaah ikhtiar qonaah hati selalu mendorong untuk menerima ketentuan Allah di saat atau situasi yang tidak menyenangkan. Karena kadang-kadang tanpa disangka-sangka harta yang ada di genggaman terlepas tiba-tiba. Namun bila mendapat nikmat, qona’ah hati menodorong untuk syukur dan hemat.

Qonaah hati juga berarti menyuruh orang untuk bekerja sekuat tenaga sebab bekerja adalah kewajiban seumur hidup selama nyawa masih di badan. Kewajiban bekerja belum berakhir selama manusia masih hidup. Bekerja bukan berarti mencari kekayaan berlebih karena merasa tidak cukup, tapi bekerja lantaran orang hidup itu mesti bekerja agar kebutuhan hidup terpenuhi (bukan gaya hidup).

Oleh karena itu dapat dikatakan bahagia itu adalah qonaah dan qona’ah adalah kebahagiaan. Sebab qonaah menanamkan perasaan tenteram baik di waktu susah maupun senang.

 

Penutup

Dalam hidup manusia selalu menemui dua hal bahagia dan sengsara. Tiap manusia pasti ingin bahagia dan menolak sengsara. Kalau dia pandai pasti dengan sekuat tenaga berusaha mendapatkan bahagia dan menyingkirkan sengsara.

Tapi menghindar sama  sekali dari sengsara itu jelas tidak mungkin. Ada sengsara yang pada akhirnya berujung kebahagiaan. Dan ada sengsara yang akhirnya menuju jurang kesengsaraan.

Tapi begitulah hidup. Hidup adalah medan pertempuran. Di hadapannya ada tiga  orang yang harus dihadapi; pertama diri sendiri, kedua manusia lain dan ketiga nasib. Dua hal pertama dapat diusahakan keberhasilannya, sedang nasib hanya diminta kebaikannya dari Allah Swt.

 

Oleh: Nanang Sholihuddin, S.Ag*

*Penulis adalah Staf Edukasi MMH PPMH Malang dan SLTP Darul Ulum Agung Malang.

Comments

comments

Share Button

You may also like...