PERAN KELUARGA MUSLIM DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

Share Button

kyai mad

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”.

(Qs: At-Tahrim : 6)

 

Tegak berdirinya negeri kita ini didukung oleh banyak faktor. Salah satu faktor pendukung yang menentukan adalah adanya individu-individu yang bersepakat membentuk sebuah kelompok manusia yang paling kecil, yaitu keluarga. Dari keluarga ini akan terbentuk keluarga masyarakat dan keluarga besar bangsa. Sangat tepatlah adanya pandangan logis yang menyatakan bahwa, apabila keluarga-keluarga itu tumbuh sebagai keluarga yang bahagia dan sejahtera maka akan melahirkan negara yang bahagia dan sejahtera pula. Negara  yang menyandang predikat baldatun thayyibatun wa robbun ghofuur, yaitu negeri yang sejahtera, gemah ripah loh jinawi, dan penuh dengan ampunan Ilahi.

Mengingat mayoritas masyarakat negeri ini adalah umat Islam, maka tepatlah kiranya pernyataan bahwa keberhasilan keluarga Muslim Indonesia akan menentukan keberhasilan tujuan negara Indonesia. Oleh karena itu, perlu kiranya melihat kembali fungsi keluarga muslim Indonesia, sebagai tempat paling efektif untuk menyusun dan menghimpun potensi umat Islam sebagai pemerakarsa dan pelaksana pembangunan bangsa.

Sejak awal Rasulullah sebagai pembawa panji-panji Islam dan penyempurna akhlaqul karimah telah memberikan tauladan dalam membina keluarga, baik keluarga pribadi beliau maupun keluarga besar yaitu keluarga masyarakat Islam pada waktu itu. Potret kehidupan keluarga beliau adalah contoh keluarga Islam yang senantiasa diliputi susana keharmonisan, keselarasan dan keharmonisan antar keluarga, saling menghargai, melaksanakan kewajiban dan haknya sesuai dengan fungsi masing-masing dan dilandasi oleh satu dasar ketauhidan, aqidah Islamiyah. Sedangkan sebagai pemimpin negara beliau berhasil meletakkan dasar-dasar pembangunan bangsa (nation building), baik upaya membina masyarakat maupun memelihara  dan mempertahankan negara dari ancaman, tatangan gangguan dan hambatan, baik subversi maupun agresi.

Gambaran kehidupan keluarga Rasulullah diatas, memberikan amanat bahwa keluarga muslim itu hendaknya berfungsi ganda, yaitu fungsi individu dan fungsi sosial. Sebagai individu keluarga muslim mengajarkan terbentuknya keluarga sebagai sebuah surga, yang dapat menumbuh-kembangkan kebersamaan dialogis antar anggota keluarga. Baik sebagai suami atau bapak, sebagai istri atau ibu, dan anak. Sebagai makhluk sosial, keluarga muslim sebagai pondasi masyarakat, dan sendi-sendi yang menentukan berdirinya sebuah negara. Inilah ajaran Islam yang memadukan dualisme, dua kepentingan yang serasi, antara kepentingan pribadi dan sosial, yang selain menjaga kepentingan diri pribadi sebagai individu maka dituntut pula menjaga keluarga diri dari malapetaka kehancuran rumah tangga dan menjaga bangsa dari kehancuran masyarakatnya. Sinyalemen ini sesuai benar dengan firman Allah dalam surat at-Tahrim ayat 6, yang artinya. “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”.

Berkaitan dengan pembentukan keluarga muslim tersebut, sudah saatnya pembentukan keluarga muslim bahagia dan sejahtera segera direalisasikan. Asumsi yang mendasari kepentingan ini terkait dengan kondisi negeri ini, yang menuntut perencanaan jumlah anggota yang relatif kecil, dalam rangka menciptakan keharmonisan keluarga yang semakin hari dituntut untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan  yang terus meningkat, sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat yang terus berkembang. Bagi Muslim Indonesia program ini sejalan dengan ajaran Islam karena dilandasi kepentingan kemaslahatan dan meninggalkan kemadlaratan. Keluarga kecil dinilai lebih menjanjikan keluarga yang maslahah daripada keluarga yang besar.

Dengan pembentukan keluarga kecil bahagia sejahtera ini dalam ajaran Islam diharapkan mencakup tujuan mulia pembentukan keluarga, baik sebagai individu keluarga, maupun sebagai anggota masyarakat. Sebuah keluarga yang ideal menurut Islam harus mampu mengemban aspek tujuan pokok perkawinan baik dari segi akhlaq, kemasyarakatan, politik, ekonomi, kesehatan dan spiritual. Perkawinan yang memelihara individu dari kerusakan akhlaq dan mmelihara kondisi Kamtibmas yang mantap. Perkawinan  dapat menambah kokohnya jalinan hidup antar anggota masyarakat, perkawinan dapat memperkuat kemampuan umat sebagai basis kekuatan negara. Juga perkawinan dapat menghemat biaya hidup dan memelihara kesehatan dari berbagai penyimpangan seksual, dan lebih dari itu perkawinan termasuk sebagian iman. Sebagaimana  yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW : “Barang sispa yang menyukai fitrahku, maka ia harus mengikuti sunnahku, dan salah satu sunnahku adalah perkawinan”.

Untuk memfungsikan keluarga secara sempurna agar memiliki andil yang besar dalam pembangunan bangsa, maka harus dimulai sejak masa pra nikah yaitu faktor kemampuan dan kesiapan calon pasangan suami istri untuk membentuk sebuah keluarga. Dari keduanya akan berlaku fungsi-fungsi perkawinan dan dari keduanya fungsi-fungsi itu akan berpengaruh pada struktur masyarakat yang lebih luas, yaitu masyarakat sebagai elemen penting dari bangsa. Suami akan berfungsi sebagai pemimpin rumah tangga, sumber ekonomi keluarga, dan sebagai pelindung kaluarga. Istri berperan sebagai “shadieq”, yaitu sahabat yang akrab dengan suami, “samier” artinya teman senda gurau untuk melepaskan ketegangan dan kepenatan, dan sebagai “syariek” , mitra terpercaya dalam pengelolaan ekonomi rumahtangga, serta sebagai “rafieq”, pendamping suami dan pendidik anak.

Anak senantiasa taat kepada orang tuanya dan menjunjung nama baik keluarga. Pendek kata, masing-masing anggota keluarga dapat mejalankan hak dan kewajibannya dengan baik, sehingga suasana rumah tangga selalu dilingkupi rasa saling tolong menolong, saling menyayangi, menjaga perasaan dan saling bekerjasama. Tipe keluarga yang mampu mengemban fungsi-fungsi itulah, yang dapat mengemban tujuan mulia dari perkawinan. Dan keluarga yang dapat merealisasikan tujuan perkawinan itu pula yang menjadi idaman setiap keluarga dari segala strata sosial, agama dan budaya, dimanapun dan kapanpun. Sehingga bentuk keluarga seperti ini, yang didambakan oleh kehidupan keluarga muslim yang selaras dengan keinginan pembentukan sebuah negara yang adil dan makmur.

Oleh karena itu, keluarga kecil muslim Indonesia, bahagia dan sejahtera harus dimasyarakatkan sebagai figur kehidupan keluarga yang ideal. Tepat kiranya apabila sebuah keluarga mengemban program pemasyarakatan keluarga muslim Indonesia dengan menggunakan pendekatan sosial dan pendekatan keagamaan. Pendidikan keluarga yang bertujuan pokok menciptakan keluarga yang sejahtera dan menempatkan program keluarga muslim Indonesia sebagai proyek utama. Ini berarti pemerintah Indonesia sudah seharusnya mencanangkan pembentukan keluarga muslim Indonesia kecil bahagia dan sejahtera ini sebagai gerakan nasional.

Dan sebagai muslim, program nasional yang jelas-jelas membawa kemaslahatan umat harus didukung dan dilaksanakan. Muslimin Indonesia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa menegakkan disiplin nasional yang membawa kemaslahatan merupakan pengejawantahan iman kepada Allah SWT, Rasulullah dan pemimpin dari kelompoknya sebagaimana firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, Taatilah kepada Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri diantara kalian”. (QS. An-Nisa’ : 59).

Demikianlah apabila pemasyarakatan keluarga muslim Indonesia kecil bahagia sejahtera ini berhasil maka akan mempengaruhi keberhasilan pembangunan bangsa. Dari keluarga-keluarga tersebut akan muncul sosok-sosok pembangun bangsa, manusia yang berkualitas, sumber daya insani yang mantap, pemerakarsa dan pelaksana pembangunan bangsa. Hal ini didasarkan pada sikap hidup umat Islam Indonesia yang merasa mempunyai tanggungjawab dan peranan yang besar dalam mensukseskan pembangunan bangsa, yaitu pembangunan untuk mencapai kemajuan lahir dan bathin. Islam ditantang untuk membuktikan bahwa format keluarga muslim Indonesia bukanlah penghambat, melainkan justru pendorong bagi kemajuan bangsa. Tantangan itu harus dijawab, bukan dengan kat-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Tidak be

rlebihan kiranya bentuk keluarga muslim Indonesia kecil bahagia sejahtera, menjadi acuan keluarga muslim Indonesia di masa mendatang dalam upaya mencetak sumberdaya insani yang berkulaitas, maju, dan mandiri.

 

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada kita, muslimin negeri ini sehingga dapat memerankan tokoh yang menentukan kelangsungan hidup tanah air tercinta dalam upaya mengemban risalah Rasulullah. Dan mudah-mudahan kita senantiasa dipermudah untuk menuju kehidupan keluarga yang penuh dengan mawaddah wa rohmah, penuh cinta kasih yang serasi, selaras dan seimbang, mendapatkan kasih sayang Allah di dunia akhirat. Amin.

 

Oleh : KH. Ahmad Arif Yahya *

*Penulis adalah Putra Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading Kasri Malang

Comments

comments

Share Button

You may also like...