“Penguatan ASWAJA” KH. Marzuki Mustamar

Share Button

Screenshot_2016-03-14-17-52-42_1

Kamis, Mengusung tema “Penguatan ASWAJA”, kegiata malam jumat terasa spesial dengan KH. Marzuki Mustamar sebagai pemateri. Walau berlabel pondok pesantren yang kental dengan suasana aswaja, namun penguatan dan penambahan wawasan ke aswajan tetap perlu dilakukan.

Santri Gading di ajak kongkow bareng demi pemantapan pemahaman aswaja (Ahlushsunnah Wal Jamaah). Pada kesempatan itu, beliau membagikan kitab secara gratis pada santri. Kitab yang merupakan karangan sendiri dari Kiai Marzuki. “Penguatan ASWAJA” malam kemarin diwarnai dengan kilatan kitab Kitab al-Muqtathofat lil ahli bidayat yang telah dibagikan. Sebagian besar isi dari kitab, menjelaskan tentang sandaran / acuan amalan NU.

“Beruntung, di Indonesia terdapat organisasi yang menampung dan menjadi tempat berkumpulnya para ulama, sehingga Indonesia tidak mudah terpengaruh ajaran ataupun firqah baru dan melenceng dari Aqidah Ahlush sunnah wal jamaah.”
tutur beliau di awal acara. Yang pada hal ini, terdapat dua organisasi terbesar yaitu NU dan Muhamadiyyah. Dibentuknya organisasi tersebut oleh 2 ulama agung di Indonesia saat itu, dengan dasar mebentuk ukhuwah islamiyyah dan ukhuwah insaniyyah antar umat beragama di Indonesia. Memang benar, lemahnya islam di Timur tengah disebabkan karena sifat Individualis para ulama yang ada.

Namun, sering kita dengar pertanyaan di masyarakat dan mungkin juga terjadi pada kalangan santri, “mengapa NU dan Muhammadiyyah sering berbeda dalam hal furuiyyah?.” Kiai Marzuki dengan reverensi kitab tersebut dan kitab Fiqih Muhamadiyyah karangan KH Ahmad Dahlan, membuka wawasan para santri pondok gading.

Pada dasarnya, semua amalan atau kegiatan yang ada di NU, dilakukan oleh ulama terdahulu termasuk pemrakarsa Nahdlatul ulama (Hadratus SyaikhHasim Asyari) dan Kiai Ahmad Dahlan, untuk mempersatukan umat dalam kerukunan dan kebersamaan. Indonesia yang memiliki adat, budaya yang begitu beragam dan kompleks. Para ulama terdahulu menggnakan prinsip tawassuth, tawsammuh, dan tawazun guna mensyiarkan agama di nusantara.

Khilafiyah yang tidak asing lagi di kalangan umat Islam, perbedaan itu tampak terjadi di antara NU dan Muhammadiyah, dua ormas islam terbesar di Indonesia. Dalam masalah qunut subuh misalnya, NU yang mengacu madzhab Imam Syafi’i yang mana qunut subuh dimasukkan dalam perkara sunnah ab’adh, sunnah yang apabila lupa tidak dikerjakan maka disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi. Sementara Muhammadiyah yang sekarang, tidak membenarkan adanya qunut di shalat subuh. Padahal, KH Ahmad Dalan dalam Kitab Fiqih Muhammadiyah yang dikarang dan terbit sekitar tahun 1924/1925 M menjelaskan untuk menggunakan qunut pada shalat subuh. Pertanyaannya, apakah Muhammadiyyah yang sekarang tidak menggunakan kitab rujukan tersebut.

Setelah dipelajari, secara keseluruhan pada dasarnya NU dan Muhammadiyyah era KH Ahmad Dahlan, memiliki pendapat yang sama. Seperti pada bilal di hari jumat, shalat Tarawih adalah 20 raka’at dengan 2 raka’at salam, dan hukum syariat lain. Semua perbedaan tersebut hanya sebatas dalam hal furuiyyah, dan tidak perl diperdebatkan terlalu keras. Namun, tiada salahnya memahami dan mengerti indahnya perbedaan denga tetap menjunjung tinggi kemashlahatan bersama.

Terakhir beliau menuturkan pada santri “Jadilah generasi moderat yang kuat”. Dimaksudkan dalam hal kekayaan lahiriyyah dan batiniyyah. Kuat dalam hal aqidah ahlushsunnah wal jamaah dengan sandaran ulama terdahulu (salafush shalih), wali songo dan ulama pembawa islam di Nusantara (Farid).

Disarikan dari sebagian ceramah *KH Marzuki Mustamar (PP. Miftahul Huda, Gading Malang)

*KH Marzuki Mustamar merupakan Pengasuh PP. Sabilur Rosyad, Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang, dan pernah mejabat Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang selama 2 periode. Selan itu, beliau masih aktif mengajar sebagai Dosen Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Wallahu a’lam bisawab….

Comments

comments

Share Button

You may also like...