Ngopi, Ya Ala Santri

Share Button

Ngopi, Ya Ala Santri……….

Pada awalnya, ngopi hanyalah aktivitas penghilang kepenatan ketika terdapat waktu luang atau di saat libur. Namun, saat ini ngopi sudah menjadi gaya hidup kawula muda, tak terkecuali para santri. Namun, di kalangan santri istilah aktivitas ngopi sudah tak asing lagi, terutama santri salaf kuno (klasik) atau tradisional. Sampai ada istilah,

Lek gak Ngaji yo Ngopi” (kalau nggak ngaji, ya ngopi.).

Melihat dari sisi budaya, aktivitas ngopi merupakan budaya klasik masyarakat pedesaan. Umumnya dilakukan oleh petani atau pedagang, ketika ngasuh (istirahat). Maka, warung sederhana yang menyediakan menu kopi adalah tujuannya. Begitu pula santri, setelah pulang dari ladang kiai, pasti ada waktu untuk mapir ke warung kopi, atau membuat minuman kopi sendiri. Kadang didapat dari kiriman santri putri atau langsung membawa atau meracik di sawah atau ladang.

Kalau di Jogja punya Angkringan, di Jawa khususnya Solo terkenal dengan wedangan-nya. Istilah Angkringan berasal dari kata angkring yang berarti “duduk santai”. Lain dengan Jawa Timur dengan istilah Cangkrukan. Warung kopi yang dituju untuk cangkrukan, biasanya ditutup dengan kain terpal plastik yang hanya menampung sekitar 8-10 orang pelanggan, yang dulu hanya diterangi dengan lampu minyak tanah atau yang orang jawa biasa menyebut cempluk.

Dilihat dari kacamata Islam, apakah ngopi atau nongkrong diperbolehkan dalam islam?
Berinteraksi merupakan fitrah bagi manusia, berbagi dan bersenda gurau merupakan hal yang wajar dilakukan. Dengan interaksi banyak hal yang didapat, mulai dari pengalaman, pengetahuan lebih-lebih dengan saling belajar, saling meringankan ketika terdapat kesusahan.

“Hati-hati kalian jangan duduk-duduk di pinggir jalan”. Maka mereka menjawab, “Ya Rasulullah kami tidak bisa menghindarinya, kami hanya bercakap-cakap saja”. Maka Nabi menjawab, “ Jika kamu memang harus duduk, maka berikanlah hak-haknya jalan, yaitu; memejamkan mata dari pada yang haram, jangan mengganggu orang yang berjalan, menjawab salam, mengajak orang berbuat baik, mencegah orang berbuat kemungkaran,”.(HR Muslim. 3960)

Meresapi makna dari hadist diatas, perlunya mendatangkan hal yang baik dalam suatu majlis qohwah (kopi). Selama nongkrong, lewat secangkir kopi dapat mendatangkan kemanfaatan, apa salahnya…

Oleh : Hafidz Abdurrahman Al Fakir

Comments

comments

Share Button

You may also like...