Peristiwa Di Bulan Rajab (Penaklukan Al-Quds)

Share Button
sumber gambar:https://jasawebenigma.files.wordpress.com/2012/12/tanda-tanda-kiamat-penaklukan-baitul-maqdis.jpg?w=560&h=385

sumber gambar: https://jasawebenigma.files.wordpress.com/2012/12/tanda-tanda-kiamat-penaklukan-baitul-maqdis.jpg?w=560&h=385

Tercatat dalam sejarah Islam, di bulan Rajab beberapa sejarah penting lainnya yang pernah terjadi di masa perjuangan umat Islam pada waktu itu. Sejarah tersebut antara lain :
1. Perang Tabuk atau Ghazwah Tabuk
Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun 9 Hijriyah atau bertepatan dengan bulan Oktober tahun 631 Masehi. Perang Tabuk langsung di pimpin oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi perang terakhir bagi beliau. Tabuk sendiri merupakan kawasan padang pasir yang sangat gersang,  berada di utara semenanjung Arab, jauh dari Makkah dan Madinah.
2. Pembebasan Kota Al-Quds
Peristiwa yang besar juga terjadi di bulan Rajab yakni pembebasan Al-Quds oleh Shalahudin Al-Ayyubi dari tangan kaum Salibis. Pembebasan Al-Quds ini terjadi pada bulan Rajab 583 H/1187 M.

Al-Quds merupakan sebuah kota yang di dalamnya terdapat kompleks Al-Aqsha, yang memuat beberapa situs sejarah tiga agama yakni Islam, Yahudi maupun Nasrani. Nama lain dari A-Quds adalah Baitul Maqdis dan Yerussalem.Peranan Al-Quds bagi umat Islam sangatlah penting, mengingat di Al-Quds terdapat kiblat pertama Umat Islam sebelum pindah ke Ka’bah. Selain itu juga ada peristiwa besar lainnya yang terjadi di Al-Quds yakni Isra Mi’raj.

Klaim umat lain seperti Yahudi yakni mereka menganggap bahwa di Al-Quds terdapat situs bangunan/kota yang dulu dibangun oleh Nabi Sulaiman untuk kaum Yahudi, sedangkan bagi umat Nasrani yakni Al-Quds merupakan tempat kelahiran Nabi Isa AS. Sebenarnya Al-Quds telah berada di bawah kekuasaan Umat Islam sejak zaman Khalifah Umar ibn Khatthab RA setelah merebut dari kekuasaan kekaisaran Romawi. Namun, setelah 500 tahun di bawah kekuasaan Umat Islam, Baitul Maqdis kembali jatuh ke tangan kaum Nasrani. Semua kejadian tersebut diakibatkan digempurnya umat Islam di Al-Quds oleh pasukan Nasrani pada massa Perang Salib yang berkepanjangan. Pendudukan Al-Quds oleh Pasukan Salib hanya berlangsung selama 60 tahun, sebelum akhirnya direbut kembali oleh Umat Islam yang di pimpin oleh Shalahudin Al-Ayyubi. Peristiwa direbut kembalinya Al-Quds oleh Umat Islam terjadi pada hari Jum’at tanggal 27 Rajab 583 H/ 15 Oktober 1187 M.

Direbutnya Al-Quds oleh Shalahudin Al-Ayyubi terjadi setelah Al-Ayyubi berhasil menaklukan raja besar di Eropa, seperti Richard The Lion Heart (Inggris), Frederick (Jerman), Leopold (Austria), dan Louis (Perancis). Pendudukan Al-Quds oleh Shalahudin Al-Ayyubi dilakukan dengan cara mengepung kota Al-Quds selama 40 hari, hingga penduduknya mulai kehabisan bahan makanan. Kondisi mereka diperparah oleh banyaknya pelarian yang selamat dari gempuran lasykar Islam pada Perang Hittin. Setelah melakukan pengepungan selama 40 hari, Shalahudin Al-Ayyubi lalu menyerukan agar kota suci itu diserahkan secara damai tanpa adanya pertumpahan darah. Ia melakukan hal tersebut karena tidak ingin bertindak seperti yang dilakukan oleh Pasukan Salibis dibawah pimpinan Godfrey yang pada tahun 1099 menaklukan Al-Quds dengan menjarah dan membantai umat Islam di Yerussalem dengan keji. Godfrey dengan semena-mena mengusir dan membunuh kaum muslimin yang semula hidup damai berdampingan dengan umat lain.Namun usaha Al-Ayyubi yang berusaha menaklukan Al-Quds dengan cara damai tidak serta merta mendapat respon yang baik dari penduduk Yerusallem, bahkan mereka mengangkat komandan tempur untuk mempertahankan kota itu. Mereka berpikir, Al-Ayyubi dan pasukannya akan menumpahkan darah mereka dengan cara berpura-pura merayu untuk berdamai. Ajakan damai yang dibalas dengan penolakan dan tantangan tersebut membuat pasukan muslim mulai melancarkan serangan dengan anak panah dan manjanik (batu lontar). Setelah terjadi peperangan selama 14 hari, akhirnya pasukan nasrani menyerahkan diri. Namun awalnya Al-Ayyubi menolah penyerahan diri pasukan nasrani tersebut karena mereka pada awalnya tidak mau diajak berdamai. Dalam kondisi tersebut akhirnya Wali Yerussalem menemui Al-Ayyubi memohon untuk dikasihani, dan mengancam jika pasukan Al-Ayyubi tidak mengampuni mereka maka mereka akan membunuh semua tahanan muslim yang ada pada mereka, membunuh para anak dan perempuan mereka serta menghancurkan semua rumah dan bangunan yang ada termasuk Kubah Ash-Shakhra, sehingga dengan kerusakan tersebut maka tidak ada lagi yang dapat dimanfaatkan. Mendengan ancaman tersebut, hati Al-Ayyubi pun luluh, tapi ia tidak bisa begitu saja menerima pernyataan penyerahan diri tersebut, karena merasa terikat dengan sumpahnya. Maka, ia pun meminta nasihat para Ulama. Menanggapi hal tersebut, mereka mengatakan bahwa sumpah tersebut dapat ditebus dengan membayar kafarat.

Setelah Al-Ayyubi menerima penyerahan diri pasukan nasrani, maka penyerahan Kota Al-Quds dari pasukan nasrani ke pasukan muslim berlangsung dengan damai dan bagi pasukan nasrani yang telah membayar jizyah diperbolehkan untuk pergi ke mana pun yang mereka anggap aman. Mereka diberi waktu selama 40 hari. Maka bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 27 Rajab 583 H/15 Oktober 1187 M, Shalahudin Al-Ayyubi beserta pasukannya memasuki Baitul Maqdis dengan gemuruh seruan takbir. Hari itu sangat istimewa, karena bertepatan dengan kunjungan Rasulullah ke Kota Baitul Maqdis di malam Isra-nya. Namun sayangnya hari itu kaum muslimin tidak bisa langsung melaksanakan shalat Jum’at di Masjidil Aqsha, karena seharian itu mereka harus membersihkan masjid tersuci ketiga dari kotoran babi, kayu salib, gambar rahib, dan patung-patung yang sebelumnya dipertuhankan.

Baru pada Jum’at berikutnya umat Islam mendirikan shalat Jum’at di Masjidil Aqsha lagi setelah 92 tahun. Qadhi Muhiyiddin bin Muhammad bin Ali bin Zaki bertindak selaku khatib dan imam shalat Jum’at perdana itu. Ada beberapa pandangan sejarah kenapa Masjid tersebut dinamai “Al-Aqsha”. Ada yang berpendapat, karena masjid ini terletak jauh (aqsha) dari Masjidil Haram. Ada yang berpandangan, karena wilayah itu bersih dan suci (aqsha) dari segala kotoran dan najis, tempat turunnya wahyu dan para malaikat, dan kiblat bagi para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Ada juga yang berpendapat, karena masjid ini bayangan dari Masjidil Al-Aqsha yang ada di Sidratul Muntaha.

Masjidil Aqsha terdapat dalam suatu kompleks di Al-Quds, yang di dalamnya juga terdapat situs Qubbah As-Sakhrah (batu hitam yang menjadi landasan Nabi SAW saat Mi’raj), yang berada di masjid Umar bin Khattab RA. Umar mendirikan masjid di kompleks bersejarah ini untuk mengenang peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi SAW di kota itu. Sementara di sudut lain kota itu, umat nasrani dan yahudi diperbolehkan untuk beribadah menurut ajarannya. Inilah yang terekam indah ketika Islam berkuasa, dengan menunjukan pemerintahan rahmatan lil’alamin dalam. Sayangnya keindahan ini tidak disambut baik oleh para pemukan nasrani dan pemimpin politik di belahan benua Eropa. Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin telah membuat Eropa marah. Mereka menggalang dana melalui gerakan “saladin tithe”, yaitu sumbangan wajib membiayai perang salib berikutnya.

Perang salib pun kembali membara untuk kesekian kalinya, hingga tenggelamnya Khilafah Utsmaniyah dalam Perang Dunai I pada tahun 1917, sehingga kota suci ini lepas dari tangan kaum muslimin. Kini, Al-Quds dan Palestina berada dalam cengkeraman kaum penjajah Zionis Israel. Resolusi PBB pada November 1947 menjadi biang kehancuran Al-Quds dan Palestina yang terus berlangsung hingga hari ini. Maka, apa yang terbetik di hati kita tentang usaha-usaha Nabi SAW dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, batu pijaknya untuk menembus Sidratul Muntaha terletak di Al-Aqsha? Apa yang harus kita lakukan untuk membantu dan mendukung perjuangan menyelamatkan Al-Quds dan Palestina dari Penjajahan, sebagaimana yang pernah dilakukan Amirul Mu’minin Umat bin Khattab RA dan Shalahudin Al-Ayyubi dan Prajurit muslimin mereka? Apakah KITA tidak mau peduli? Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin bukanlah golongan kami”

Bulan Rajab Bulan Yang Dimuliakan

Rasululah SAW berdabda : ”Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun terdapat 12 bulan yang di antaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga bulan diantaranya berturut-turut Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumadil Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah. Maka sebagai konsekwensi dari ketakwaan kita kepada Allah dan kepercayaan kita kepada Rasulullah Muhammad SAW, maka tentulah kita juga memuliakan bulan ini.

Bulan Rajab adalah Bulan yang mulia dan utama. Bulan yang istimewa untuk berdoa dan bermunajat, mengadu dan menangis kepada Allah Yang Maha Agung. Bulan yang istimewa untuk mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah. Rasulullah SAW bersabda: “Bulan Rajab adalah bulan Allah Yang Maha Agung, tak ada bulan yang dapat menandingi keutamaannya. Di dalamnya diharamkan berperang dengan orang-orang kafir, karena bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan ummatku. Barangsiapa yang berpuasa sehari saja di dalamnya, maka wajib baginya memperoleh ridha Allah, dijauhkan dari murka-Nya, dan diselamatkan dari semua pintu neraka.” (Mafatihul Jinan, bab 2: 131)

Bulan Rajab ini pun dijuluki sebagai Syahrullah (bulannya Allah SWT), yang merupakan salah satu bulan suci umat Islam. Allah SWT memberikan kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya dengan diciptakannya bulan ini; dibuktikan dengan sabda Rasulullah SAW, “Rajabun Syahrullah” “Rajab adalah bulan Allah SWT.” Tak seorang pun mengerti apa yang Allah SWT bukakan kepada hamba-hamba-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya di bulan ini. Di bulan ini begitu berlimpah kehormatan dan kebahagiaan dapat diperoleh, bahkan tak terhingga. Karena ketakwaan adalah pangkal dari segala sikap dan keputusan kita menghadapi problematika dunia, maka marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Bulan Rajab, sungguh mengajarkan kepada kita akan Rencana Allah terhadap kita, kelak kita akan mensyukuri sebuah karunia setelah berbagai cobaan yang kita rasakan. ”Paket perjalanan” Rasulullah di bulan Rajab merupakan sebuah pelajaran sangat berharga bagi kita bahwa setiap kesusahan dan rintangan dalam menjalankan misi dakwah pasti digantikan dengan anugerah yang menjadikan hidup kita lebih berkualitas. Allah SWT berfirman,”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram. Itulah agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri dalam bulan-bulan tersebut, dan perangilah kaum musyrikin sebagaimana mereka pun memerangi kamu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah :36) Tafsir Ath-Thabari menyebutkan bahwa keempat bulan haram yang dimaksud adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Karenanya, mereka tidak mengenal peperangan yang terjadi pada bulan-bulan ini.

Hal lain yang dapat kita petik pelajaran dari bulan Rajab selanjutnya adalah Peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa ini terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad SAW “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan shalat lima waktu. Allah SWT berfirman : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al Isra’:1)

Meski Nabi Muhammad SAW dapat saja langsung menuju langit dari Makkah, namun Allah tetap membawanya menuju Masjidil Aqsha, pusat peribadahan nabi-nabi sebelumnya. Ini dapat berarti bahwa umat Islam tidak memiliki larangan untuk berbuat baik terhadap sesama manusia, sekalipun kepada golongan di luar Islam dan sebagai umat terbaik semestinya senantiasa menunjukkan sikap kedewasaan dan kematangan dalam berinteraksi dengan umat-umat lain. Hal ini dikarenakan, Islam menghargai peraturan-peraturan sebelum Islam, seperti halnya khitan yang telah disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Dalam skala intern umat Islam, kita semestinya senantiasa menjaga ikatan persaudaraan dan silaturrahim demi memperkuat ketakwaan, keimanan dan persaudaraan sesama Muslim. Dengan demikian maka, Bulan Rajab adalah bulan mulia yang harus kita sambut dengan menambahkan ketakwaan dan keikhlasan.

Kita harus rajin-rajin melaksanakan sholat lima waktu yang merupakan oleh-oleh dari Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW di bulan Rajab tahun kedelapan dari kenabian. Kita harus tegar menghadapi hidup meskipun hidup penuh dengan cobaan dan rintangan. Umat Islam harus senantiasa optimis dan yakin pada janji Allah, akan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi siapa pun hamba-Nya yang senantiasa meningkatkan ketakwaan, karena demikianlah pesan bulan Rajab.

 

Oleh: Fuad Haramain, Lc

*Penulis Adalah Alumni PPTQ dan Al-Azhar Cairo

Comments

comments

Share Button

You may also like...