PERINGATAN HAUL, SARANA MENELADANI WALI ALLAH

Share Button

pos haul

oleh Fuad Royani*

Saat ini peringatan haul makin banyak kita jumpai di sekitar kita yang dilaksanakan setiap tahun baik diselenggarakan oleh perorangan maupun oleh jamaah. Ada yang dilaksanakan dengan cara yang sederhana adapula yang dilaksanakan dengan disertai rangkaian kegiatan keagamaan, misalnya tahlilan, pembacaan al-Quran, pengajian umum dan lain sebagainya yang dimaksudkan semoga pahala dari amalan tersebut sampai kepada si mayit (yang dihauli), meskipun sudah berlangsung lama dan semakin banyak namun ada beberapa orang yang berpendapat bahwa peringatan haul adalah bid’ah dan tidak bermanfaat sama sekali. Semoga perbedaan pendapat ini tidak menjadikan tali persaudaraan kita renggang karena masing-masing mempunyai dasar pendapat yang cukup jelas (al-Huda edisi 554/29 Pebruari 2008), hendaknya perbedaan tersebut semakin memperkuat ukhuwah kita sesama muslim selama perbedaan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Pengertian dan Hukum Peringatan Haul

Kata Haul sebenarnya diserap dari bahasa Arab yang artinya satu tahun. Dalam literatur Fikih, haul menjadi syarat wajibnya mengeluarkan zakat, yaitu harta yang wajib dizakati (hewan ternak, emas, perak, barang dagangan) jika sudah berumur satu tahun (haul) maka wajib mengeluarkan zakat. Dari segi lughawi (bahasa), tampak adanya kesesuaian maksud antara haul zakat dengan acara haul yang dilaksanakan untuk memperingati kematian atau wafatnya orang yang dihauli karena keduanya dilaksanakan sekali dalam setahun.

Menurut KH.Sahal Mahfudz, untuk mengetahui status hukum haul, tidak bisa dilepaskan dari bentuk kegiatan dalam rangkaian acaranya, artinya menghukumi haul sama dengan menghukumi perbuatan yang terdapat dalam kegiatan haul itu sendiri. Hal-hal yang dilakukan saat menyelenggarakan haul adalah pembacaan tahlil dilanjutkan dengan doa kepada si mayit, pengajian umum yang kadang dirangkai dengan pembacaan sejarah (biografi) atau manaqib orang-orang yang dihauli, serta kelebihan sang mayit untuk diteladani, dan sedekah yang pahalanya dihadiahkan kepada mayit (yang dihauli) baik diberikan kepada orang-orang yang ikut berpartisipasi maupun dibagikan ke rumah masing-masing. Dengan melihat hukum kegiatan tersebut maka akan menentukan hukum haul dengan sendirinya.

 

Rangkaian Kegiatan Haul

Secara umum kegiatan haul dimaksudkan untuk mengirimkan doa kepada si mayit atau orang yang dihauli, namun dalam pelaksanaannya biasanya disertai dsengan rangkaian kegiatan religius yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang, terlebih jika haul wali Allah/ Ulama. Kegiatan tersebut antara lain :

  1. Membaca tahlil/ Membaca al-Qur’an atau Mendoakan Mayit

Jumhur ulama dari empat madzhab berpendapat bahwa pahala ibadah atau amal saleh yang dilakukan orang yang masih hidup bisa sampai kepada si mayit, baik berupa pahala membaca tahlil, doa, maupun membaca al-Qur’an. Jika kita berdoa memohon ampunan untuk si mayit termasuk amal saleh yang tidak akan putus pahalanya karena termasuk anak saleh yang mndoakannya, namun yang perlu tidak diperbolehkan adalah berdoa kepada si mayit di kubur karena termasuk syirik sebagaimana firman Allah SWT ”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak  memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat , itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim” (QS.Yunus : 106). Hal ini tentu berbeda pula dengan tawassul karena tawasul tetap berdoa kepada Allah SWT.

  1. Pengajian

Pengajian merupakan salah satu bentuk dakwah bi al-lisan, dengan tujuan untuk memberikan wawasan keagamaan, bimbingan dan meningkatkan kualitas ketakwaan kaum muslimin yang diharapkan mendorong seseorang untuk meningkatkan amal saleh, baik ibadah ritual, individual, maupun sosial dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dicerna sesuia dengan kadar intelektual peserta/jamaah. Dengan pengajian ini pula diharapkan mampu meningkatkan moralitas dan etika di kalangan masyarakat. Melihat tujuan-tujuan tersebut, kita tidak perlu mempermasalahkan status hukum pengajian selama pesan-pesan yang disampaikan tidak emnyimpang dari ajaran Islam.

  1. Sedekah

Dalam peringatan haul baik oleh perorangan maupun jamaah biasanya disertai dengan makan bersama dari keluarga/ jamaah orang yang dihauli, maka hal ini termasuk sedekah yang pahalanya bisa sampai kepada si mayit.

Berdasarkan hukum kegiatan yang dilaksanakan dalam rangkaian acara haul tersebut maka hukum haul adalah diperbolehkan. Meskipun terdapat perbedaan pendapat diantara ulama mengenai sampai atau tidaknya pahala amal shaleh kepada mayit, maka kita tidak perlu mempermasalahkan perbedaan tersebut karena masing-masing telah memiliki dasar yang jelas.

 

Haul Wali Allah

Haul merupakan sebuah peringatan untuk mengenang jasa-jasa orang yang telah meninggal dan membacakan doa untuknya. Jika yang meninggal itu adalah orang yang besar di mata Allah artinya seorang kekasih Allah (wali) maka tujuan haul ini ialah mengambil pelajaran dan meneladani kehidupan almarhum.  Jika melihat tujuan yang mulia ini maka keberadaan haul merupakan sebuah amal yang baik yang bernilai pahala. Terlebih jika didalamnya terdapat amalan-amalan sunah seperti membaca Al Qur’an bersholawat, dan ceramah agama yang isinya adalah mengajak umat Islam lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menjahui larangan Allah dengan meneladani tingkah laku para wali-wali Allah.

Peringatan haul pada para wali Allah adalah sebagai upaya untuk meneladani tingkah laku Rasulullah yang telah digambarkan dan dipraktikkan dalam kehidupan para wali. Mereka adalah kekasih Allah yang selalu berdzikir kepadanya dan menjadikan Allah sebagai tujuan dan sandaran dalam melakukan segala bentuk aktifitas kehidupan. Mereka tidak pernah merasa takut dan susah akan apa yang diberikan atau dicobakan oleh Allah kepada mereka, karena mereka selalu menganggap semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sebagaimana tercantum dalam surat Yunus ayat 62-63 yang artinya “ Camkanlah, bahwa sesungguhnya para waliyullah itu tidak merasa takut atau susah, ialah mereka yang percaya dan takwa, untuk mereka dijamin kebahagiaan di dunia dan di akherat, tiada perobahan bagi kalimat itulah merupakan keuntungan yang besar”.

Menurut Dr. Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat di atas, para wali Allah SWT adalah orang-orang yang telah beriman, yakni yang percaya secara berkesinambungan tanpa diselingi oleh keraguan dan mereka sejak dulu hingga kini selalu bertakwa, yakni yang berubah keimanan mereka dengan amal-amal soleh sehinga mereka terhindar dari ancaman siksa Allah SWT. Al Ghazali mendefinisikan makna wali sebagai, yang mencintai dan membela. Karena itu ingatlah, sesungguhnya wali-wali allah, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati  (Yunus 62). Dan Karena itu pula, siapa yang memusuhi wali Ku maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Demikian firman Allah dalam  hadis Qudsi. Jadi mereka merupakan manusia yang sangat dekat dengan Allah yang menghiasi setiap langkah dan hembusan nafasnya dengan kalimah Allah, dari situ tak heran jika Allah melindungi mereka dari perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan kedalam neraka.

Wali Allah mempunyai kelebihan yaitu Ma’rifatullah atau Ma’rifat Ilahi yang artiya mampu melihat ciptaan Allah sebagai tanda-tanda kebesaran Allah; apabila ia mendengar, ia mendengar ayat-ayat keesaa Nya, apabila ia bercakap, percakapannya  adalah pujian kepada Nya; apabila bergerak, maka geraknya adalah untuk memperjuangkan agama Nya, dan kalau ia besungguh-sungguh, maka kesungguhannya dalam ketaatan kepada Nya. Ketika itulah ia menjadi dekat kepada Allah dan ia menjadi wali Allah. Demikian Fakhrudin Arrazi mendefinisikan al waly. Hal ini sesuai dalam firman Allah surat Al Imron ayat 191 yang artinya “ (yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”Tuhan kami, tiadalah Egkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Demikianlah wali Allah, isi ayat ini benar-benar diamalkan dan dijadikan sebagai suatu yang harus dilakukan dan lupa akan Allah menurut mereka adalah dosa.

Diantara wali-wali Allah yang terkenal adalah wali songo yang telah berjasa dalam menyebarkan Islam di bumi Indonesia karena jasa mereka Islam dapat mewarnai dan dapat meghiasi kehidupan sebagian besar penduduk Indonesia sasat ini. Keihlasan dan ketelatenan serta kedekatan mereka kepada Allah lah yang menyertai keberhasilan ini. Selain wali songo ada wali yang paling terkenal diantara para wali yaitu Syekh Abdul Kadir Al Jaelani. Dengan karomah yang diberikan oleh Allah kepadanya telah mejadikan beliau memiliki kemampuan yang lebih dibanding manusia biasa, baik dibidang batin (ubudiyah) maupun dhahir (kesaktian). Dari kelebihan dan derajat yang tinggi tersebut maka pantaslah jika Syekhh Abdul Kadir Al Jaelani di jadikan sebagai wasilah (perantara) dalam mengantarkan do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Allah SWT, tetapi bukan tujuan akhir doa karena itu adalah syirik. Dari hal itu maka wajarlah jika kemudian banyak umat Islam yang memperingati haul Syekh Abdul Kadir Al Jaelani khususnya di Indonesia, dengan harapan agar setiap doa yang dipanjatkan lebih mudah dikabulkan oleh Allah dan sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pembacaan biografi, kelebihan-kelebihan, karomah-karomah sang wali, tatacara beribadah, kedekatannya pada Allah, kecintaannya terhadap rasul Allah selalu menyertai peringatan haul atau yang sering disebut dengan pembacaan manaqib orang yang  dihauli, seperti yang termasyhur yaitu pembacaan Manaqib Syekh Abdul Kadir Al Jaelani secara berjama’ah dengan dipimpin oleh seorang imam. Hal itu tidak lain adalah bertujuan uantuk memberikan gambaran kehidupan seorang kekasih Allah kepada jama’ah, dan kemudian dijadikan contoh dan panduan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini yang sebenarnya merupakan esensi dari sebuah peringatan haul selain agar medapatkan barakah doa sang wali. Kehidupan yang indah bersama Allah menjadi contoh bagi umat untuk meneladaninya. Keistiqamahan para wali dalam beribadah yang digambarkan dalam manaqib seharusnya dijadikan panduan dan contoh bukan sekedar bahan bacaaan yang tanpa arti dan tujuan.

Sungguh betapa mulianya para kekasih Allah tersebut, dibanding dengan manusia biasa yang hanya mengutamakan kepentingan dunia. Dunia atau harta dianggap sebagai suatu hal yang terpenting dalam hidup, sehingga semua waktu dan umurnya dihabiskan untuk mencari dan menimbun harta. Kebanyakan lupa akan hakekat dari penciptaanya, lupa akan sifat dunia yang hanya sementara, lupa akan kehidupan kekal di ahirat, lupa akan siksa Allah dan terlebih lupa akan dirinya sendiri, sehingga dari situ mereka dengan bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan seolah tanpa ada suatu yang membatasinya, suatu yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan, mereka benar-benar telah tertutup hatinya oleh dunia. Setiap ibadah didasari bukan karena Allah melainkan karena manusia, karena jabatan atau karena yang lainnya. Ibadah hanya sebatas pengguguran kewajiban saja, sehingga setiap langkah hidupnya jauh dari Allah dan dari penjagan Allah SWT Terlebih di era yang penuh kesemrawutan seperti sekarang ini.

Oleh karena itu dirasa perlu untuk menghadirkan wali-wali Allah di tengah-tengah kehidupan saat ini. Perilaku dan kedekatannya kepada Allah perlu dijadikan  contoh dalam menghadapi kerasnya kehidupan saat ini. Keikhlasannya dalam berjuang dapat dijadikan teladan bagi perjuangan mensyiarkan Islam. Maka dengan peringatan haul wali Allah merupakan salah satu cara untuk meneladani tingkah laku para wali yang merupakan gambaran perilaku Rasulullah SAW, karena Ulama adalah pewaris para Nabi (al-Ulama’ warosatul anbiyaa’). Wallahu a’lam bishshowab.

 

* Penulis adalah mahasiswa UIN Malang dan santri PP.Miftahul Huda, Gading Kasri Malang.

Comments

comments

Share Button

You may also like...