Rubrik Sirah Nabawi: Pohon Kurma Pun Merindu.

Share Button

kebun-pohon-kurma

Syahdan, setelah Nabi saw. hijrah ke madinah hal yang pertama kali dibangun oleh Beliau saw. adalah sebuah Masjid. Masjid tersebut didirikan langsung oleh Rasulullah saw. di atas tanah yang beliau beli dari dua orang yatim piatu, kini Masjid tersebut kita kenal denga nama Masjid Nabawi. Pada awalnya Masjid Nabawi adalah tanah lapang seluas seratus hasta dengan beberapa pohon kurma yang tumbuh di sekitarnya, dalam proses pembangunan masjid, semua pohon kurma ditebang lalu dahannya dijadikan atap masjid, kecuali hanya satu pohon kurma yang dibiarkan tetap tumbuh, tegak di dekat pengimaman.

Sebatang pohon kurma yang dibiarkan tetap tumbuh itu dijadikan sebagai pengganti mimbar oleh Nabi Mumahammad saw., Beliau saw. Biasa bersandar pada sebatang pohon kurma itu dikala menyampaikan khutbah kepada para sahabat. Pohon kurma itu berdiri kokoh, daunnya hijau dan lebat sehingga mampu menaungi Kanjeng Nabi saw. dari terik matahari. Kian hari pohon kurma itu semakin tampak segar meski cuaca terik seolah ia merasa senang sebab bisa begitu dekat dengan Nabi saw. sekaligus bermanfaat bagi Beliau saw.

Suatu hari, para sahabat merasa ada yang kurang dengan kondisi Masjid Nabawi, setiap kali melihat Nabi menyampaikan khutbah dengan bersandar pada pohon kurma, para sahabat merasa prihatin, maka mereka sepakat untuk membangun mimbar sebagai tempat Nabi saw menyampaikan khutbah. Mimbar pun selesai dibangun dan Nabi mulai menyampaikan khutbah di sana.

Tiba-tiba sebatang pohon kurma yang biasa digunakan bersandar oleh Nabi tampak layu, daunnya pucat pasi dan pohonya pun tidak lagi tegak berdiri, ia seperti pohon yang hampir mati. Kian hari pohon itu kian layu, daun-daunnya mengiring dan batang pohonnya bergeming diterpa angin, seolah pohon kurma itu merasakan kesedihan atau kesengsaraan mendalam yang datang seketika.

Kejadian aneh ini tidak diperhatikan oleh para sahabat, bagi mereka pohon yang menua lalu mati adalah hal yang wajar, Namun berbeda dengan Nabi saw. begitu melihat kejadian ini Nabi saw. langsung mendatangi pohon kurma itu, Beliau Saw. merasakan dan dapat melihat bahwa pohon kurma itu sedang bersedih, Rasulullah ingat bahwa pohon kurma itu dulu sangat kokoh dan berdaun lebat lagi segar, sehingga Nabi merasa nyaman ketika bersandar disana, tapi kini setelah Nabi saw. tidak pernah bersandar pada pohon kurma itu lagi maka pohon itu pun layu, pohon itu bersedih. Maka dengan rasa cinta dan kasih yang tulus Nabi saw. mendatangi pohon kurma itu lagi, seolah membalas kerinduan sang pohon kurma, Nabi saw. lantas memeluk pohon kurma itu dengan rasa terimakasih dan kehangatan cinta.

Seketika, batang pohon kurma itu mulai bergerak tegak lagi, daun-daun yang tampak pucat pasi akhirnya mulai berwarna hijau segar kembali. Seolah pohon kurma itu sebelumnya benar-benar merasa rindu dan bersedih ketika ditinggal Nabi saw. sehingga ketika Rasulullah datang memperhatikan dan memeluknya kembali ia pun langsung gembira dan pulih seketika, laksana sakit yang begitu parah langsung pulih ketika mendapatkan penawar yang mujarab.

Bila kita renungkan, sebatang pohon kurma yang tak berakal pun merindu ketika Nabi meninggalkannya, dia ingin menangis dan menjerit namun bahasa pohon hanya mengizinkannya layu dan mengering. Sedangkan kita, makhluk berakal yang mampu memikirkan betapa agung derajat Nabi Muhammad, betapa luhur budinya dan betapa besar jasa-jasa beliau, apa yang kita lakukan sebagai wujud dari rasa rindu kita kepada Kanjeng Nabi? Menangis kah? Bershalawat kah? Atau justru kita tidak pernah merindunya, sebab kita terlalu tergoda dengan idola-idola fiktif di dalam imajinasi dan berbagai media informasi.

Padahal, apabila kita renungkan lebih dalam lagi. Cinta nabi begitu nampak pada sebatang pohon kurma tak berakal yang mewujudkan rindunya dalam diam, nabi mendatanginya dengan rasa rindu yang sama, memandanginya dengan tatapan kasih dan memeluknya dengan kehangatan cinta. Bayangkan bila yang merindunya adalah seorang hamba yang mewujudkan rindunya tidak hanya dalam hati, melainkan juga dalam lisan dan ahwal, pastilah lebih menggetarkan balasan cinta dan kerinduan dari Kanjeng Nabi. Tapi apakah sempat kita merenungkan balasan cinta dari Nabi bila merindunya saja tidak? (hy)

 

Comments

comments

Share Button

You may also like...