Bersahabat dengan Tanggal Tua

Share Button

Rubrik: Tipis (Tips Islami)  

Tanggal tua adalah momok bagi kaum perantau yang belum berpenghasilan dan masih mengharapkan pundi-pundi rupiah dari orang tua. Tak lain tak bukan adalah karena penyakit kanker (kantong kering) biasa kambuh pada sepuluh hari terakhir di setiap bulan. Begitu pula bagi sebagian para santri yang notabene adalah perantau, tanggal tua akan menjadi menakutkan bila uang kiriman sudah menipis.

Namun ada sebagian santri lainnya yang tidak begitu khawatir dengan datangnya tanggal tua. Mereka memiliki trik-trik jitu yang mampu mengatasi datangnya rasa khawatir tersebut bahkan mereka justru akrab dengan tanggal tua. fenomena ini membuat kami penasaran dan ingin mengetahui apa saja trik-trik jitu tersebut. Oleh karena itu, el-fath berusaha menghimpun cerita-cerita pergulatan para santri dengan tanggal tua yang kami peroleh dari berbagai sumber, lalu kami sajikan kembali dalam bentuk tips-tips agar mudah diikuti oleh sahabat santri lainnya.

Tips yang pertama, siapkan amalan-amalan atau ijazah-ijazah dari para masayikh yang berhubungan dengan kelancaran rizqi. Buka kembali lembaran kitab-kitab kuning, kita cari catatan kecil tentang ijazah masayikh di setiap sudut lembarannya. Kalau kitab kita suci bersih dari coretan, tanyakan kepada teman atau Sowan langsung ke Masayikh dan minta ijazah lagi.  Salah satu contoh yang berhasil kami temukan adalah amalan surat al-Waqi’ah. Baca sebanyak-banyaknya surat al-Waqiah, minimal 14 kali setelah shalat ashar. insyaAllah rizqi dari Allah akan datang tanpa peduli tanggal tua sekalipun.

Kedua, berpuasa. Melakukan ibadah puasa ketika tidak ada yang bisa dimakan adalah salah satu perbuatan sunnah. Berikut potongan hadits dari riwayat Imam Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : دَخَلَ عَلَّيَّ رَسُولُ اللهِ صَلِّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ شَيْءٍ ؟ فَقُلْنَا لَا فَقَالَ: فَاِنِّي اِذًنْ صَائِمٌ.

Artinya: Dari Aisyah r.a, ia menuturkan, suatu hari Nabi s.a.w, datang kepadaku dan bertanya, “apakah kamu punya sesuatu untuk dimakan?”. Aku menjawab, “Tidak”. Maka Belaiu bersabda, “hari ini aku puasa”. Jadi kalau keuangan sudah menipis saat tanggal tua, kita bisa meniru Kanjeng Nabi dengan berpuasa. Daripada menahan lapar tanpa ada niatan yang baik mendingan diniati puasa, ya kan?

Tips yang Ketiga, ikut grup masak. Dari memasak sendiri kita bisa belajar hidup mandiri, selain itu dalam grup memasak ada sistem iuran, sehingga dana yang kita keluarkan untuk kepentingan konsumsi ditanggung bersama dan lebih murah.  Dengan sistem iuran di awal, kita juga bisa lebih tenang dan tidak perlu menghawatirkan masalah konsumsi untuk beberapa hari selanjutnya. Jadi meskipun tanggal tua tidak memegang uang seperser pun kita masih bisa makan karena sudah iuaran sebelumnya.

Keempat, perbanyak pergaulan. Semakin banyak teman maka akan semakin banyak interaksi dan saling peduli satu sama lain. Kalau kita hanya ingin hidup sendiri maka kita tidak akan punya kesempatan untuk saling peduli satu sama lain. Lain halnya kalau semisal kita punya sahabat yang bermacam-macam, suatu waktu kita bisa saling traktir makanan atau sekedar kopi. Kita akan benar-benar merasakan terharu dalam suasana kepedulian dengan sahabat. Mulailah saling bersahabat, jangan sampai membiarkan dirimu atau orang lain galau sendiri di tanggal tua.

Terakhir yaitu tips Kelima, sering-sering silaturrahim. Ini ada dalilnya, Dalam sebuah Hadist-nya Rasullallah Bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

 

Yang artinya: “Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizqinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim). Di Pondok Pesantren untuk mengamalkan hadits ini sebenarnya tidak begitu sulit. Kita bisa bersilaturrahim ke kamar sebelah atau ke sahabat kita yang ada di komplek lain dan salah satu bukti kecil bahwa silaturrahim mampu melancarkan rizqi akan langsung terlihat saat kita menemukan belehan (oleh-oleh yang dibawa santri-red). Kalau masih kesulitan juga menemukan belehan, kita bisa datang ke dapur, bersih-bersih apa saja yang bisa dibersihkan, kalau beruntung kita pasti ditawari makan oleh santri lainnya yang telah selesai memasak. Nah, bila rajin silaturrahim, dengan nol rupiah kita masih bisa makan.

Sebenarnya dasar dari kelima tips diatas termasuk tindakan terpuji yang dianjurkan dalam Islam. Akan sangat disayangkan bila tindakan terpuji tersebut dilakukan hanya untuk mengisi perut dan sekedar bertahan hidup. maka dari itu ada baiknya kalau kita berusaha melakukannya dengan niatan pertama sebagai ibadah, murni mengharapkan rhidlo Allah. Menjalankan amalan, berpuasa, memasak, menambah persaudaraan dan bersilaturrahim kita dasari dengan niat muraqabah kepada Allah.  Seandainya nanti dalam menjalankan ibadah itu kita mendapatkan kemudahan dan bantuan dalam menjalani hidup di tanggal tua, sesungguhnya itu adalah efek, bukan tujuan kita yang sebenarnya. (hy)

 

Oleh : Muhammad Hilmy

Comments

comments

Share Button

You may also like...