Dibalik Perbedaan

Share Button

Rubrik   : Tadabbur

 

Perbedaan mungkin hanya sebuah hal yang jarang kita perhatikan. Malahan kadang-kadang perbedaan membaut sebuah jarak antar pihak-pihaknya. Dan tak jarang, perbedaan membuat kedua pihak lebih memilih untuk menyelesakannya dengan perang. Sebenarya, seperti yang kita ketahui bersama perbedaan diciptakan untuk keindahan itu sendiri. Setuju dengan istilahnya Dee, perbedaan itu menggenapi.  Yang menjadi masalah adalah ketika proses menghargai  itu terganggu.

Saya jadi teringat dengan keterangan yang disampaikan oleh ustadz khusairi beberapa waktu lalu ketika beliau menerangkan tentang perbedaan pendapat anatar ulama basriyyin dan kuffiyin. Di tengah-tengah keterangan beliau tentang perbedaan antar ulama itu, beliau menambahkan bahwa dibalik perbedaan itu ada rezeki. Misalnya saja, ketika sebuah seminar bandingan di gelar, pastinya  membutuhkan hal-hal seperti konsumsi, penyewaan tempat, transportasi untuk para peserta dan lain-lain. Dari sini jelaslah bahwa penyedia konsumsi ataupun jasa transportasi juga terkena imbasnya. Mendapatkan rezekinya.

Dalam lain waktu saya juga menjadi berpikir. Bahwa perbedaan, apa pun bentuknya akan menguatkan yang lainnya. Misalnya saja dalam hubungan dosa dan pahala. Konsep pahala hanya bisa dipahami selama konsep dosa itu ada. Selama tidak adanya konsep dosa maka kata pahala itu tak bisa dirujukkan kepada apapun. Marilah kita lihat kedalam situasi yang berbeda. Dalam kehidupan binatang misalnya. Apakah menjadi sebuah dosa ketika singa membunuh rusa untuk menjadi santapannya? Lebih jauh kita bisa bertanya, ketika seekor anjing menolong sesamanya ataupun majikannya, apakah itu bisa disebut sebagai tidakan yang menghasilkan pahala? Tentunya tidak.

Marilah beranjak pada permsalahan yang lainnya. Permasalahan yang sebenarnya dibuat oleh manusia itu sendiri, dan pada akhirnya memicu kekacauan yang selanjutnya. Misalnya saja hubungan tinggi—rendah, kaya—miskin, pejabat—rakyat jelata, normal—aneh, dan lain-lain. Hal-hal yang semacam ini sebenarnya diciptakan oleh manusia dengan maksud memudahkan mereka dalam mengidentifikasi objek, bahkan dirinya. Namun, yang menjadi pemicu kekacauan sebenarnya adalah kepemilikan. Kepemilikan rasa terpandang, sehingga mengganggap yang lain jelata. Kepemilikan rasa kaya akhirnya merasa yang lain miskin, dan sebagainya.

Pada akhirnya, kita hanya bisa mengupayakan untuk memahami situasi, yang dari situasi ini kemudian muncul tindakan yang positif. Memahami bahwa jabatan sejatinya dalah kedudukan yang hanya sebentar, memahami bahwa menjadi kaya belum tentu bisa bahagia dan berusaha untuk mengupayakan kebahagiaan dengan orang lain, dan lain sebagainya.

Semoga kita menjadi tahu bahwa aku bisa menjadi diriku karena adanya kamu dan mereka. (imm)

 

Penulis      : Imam

 

 

Comments

comments

Share Button

You may also like...