Jalan Menuju Allah

Share Button

Judul tersebut sebenarnya berasal dari judul buku yang melandasi tulisan ini-dan munkin beberapa tulisan tasawuf ke depan. Buku yang ditulis oleh K.H. Mochammad Djamaluddin Ahmad ini, sebenarnya juga hasil kutipan dari bebrapa kitab-ada sebelas rujukan kitab-namun, yang paling banyak , berasal dari kitab Salalimul Fudhola’ karangan Imam Nawawi bin Umar Al-Jawi dan Kifayatul Adzkiya karangan Sayyid Abu Bakar bin Mohammad Syatho  Ad-Dimyati.  Dalam tulisan ini akan dibahas tiga ‘jalan’ besar untuk mencapai  Allah Ta’ala.

Syariat

Definisi dari syariat sebenarnya sudah jamak kita ketahui. Yakni melaksanakan dan mengikuti agama Allah Taala dengan menjalankan perintah-perintah dan menjahui larangan-larangannya. Cakupan dari definisi ini sangat luas. Salah satunya adalah menuntut ilmu.  Ternyata, kewajiban menuntut ilmu ini tidak berlaku bagi semua ilmu. Dalam arti, ada bebrapa ilmu yang wajib dituntut (baca:dipelajari) dan ada yang tidak. Para ulama membaginya dalam tiga golongan. Pertama, ilmu yang membuat aqidah menjadi benar (العلم الذى يصحح العقيدة). Ilmu tersebut umumnya dikenal dengan ilmu Tauhid. Kedua, ilmu yang membuat ibadah menjadi benar (العبادةاالعلم الذى يصحح). Ilmu ini juga disebut dengan ilmu fiqih. Ketiga, ilmu yang membuat hati menjadi baik ( العلم الذى يصلح القلب).  Dikenal dangan nama lain Ilmu Tasawwuf. Dari sini, apa yang belum kita lakukan menjadi jelas. namun, bukan berati ilmu tasawwuf belum kita sentuh sama sekali. Kadang-kadang, di sela-sela penyampaianya, para kyai atau ustadz, sedang menyampaikan materi tasawwuf. Misalnya saja tentang menjaga diri dari barang-barang subhat, atau perintah untuk bertaubat dan bersabar dsb.

Thoriqoh

Thoriqoh adalah mengambil (melaksanakan) agama dengan sangat hati-hati dan waspada di dalam semua amal perbuatan. Dalam prakteknya, istilah Toriqoh ini sering digunakan untuk menunjuk pada sebuah ‘aliran’ dalam mendekatkan diri kepada Allah swt.

Implementasi dari thoriqoh (merujuk pada pengertian, bukan pada istilah) ini adalah sifat waro’ dan azimah. Menurut Imam Abul Qosim Al-Qusyairi, waro’ adalah meninggalkan hal-hal yang bersifat syubhat (sesuatu yang belum jelas halal-haramnya). Sementara itu, Imam Al-gazali membagi waro’ dalam empat tingkatan. Pertama, waro’ al adli. Yakni sifat waro’ yang dimiliki orang adil. Implementasinya pada meninggalkan barang-barang haram menurut fatwa fuqoha’. Seperti makan barang riba dan muamalah yang fasidah. Kedua, waro’ as-solihin. Yakni waro’nya orang-orang solih. Pengamalannya adalah meninggalkan barang-barang syubhat. Ketiga, waro’ muttaqin. Yakni waro’nya orang-orang yang bertaqwa. Dalam tingkatan ini, sifat waro’ sudah merambat ke menjauhi perkara halal karena takut terkena perkara haram. Contohnya, menjahui makanan enak karena takut makanan tersebut menjadikannya terlalu kenyang. Keempat, waro’ as-soddiqien. Dalam tataran ini, seorang salik-sebutan bagi seseorang yang belajar dan mempraktekkan ilmu tasawwuf- sudah mulai menjahui hal-hal yang bisa menjadikannya lupa kepada Allah Ta’ala.

Azimah adalah tujuan yang sangat kuat. Dengan kata lain lain, azimah adalah bersungguh-sungguh dan sabar atas masalah-masalah yang berat menurut nafsu. Salah satu contoh dari azimah adalah riyadoh. Semantara riyadhoh itu sendiri adalah mendorong nafsu untuk melakukan amal-amal yang menurut akal budi baik. Seperti menahan lapar, zuhud, jujur, dan sebagainya. Al-hasan Al-qozaz berpendapat bahwa riyadhoh itu memiliki tiga prinsip. Yakni, yang pertama, makan ketika sangat lapar. Kedua, tidur ketika rasa kantuk mengalahkan. Ketiga, berbicara hanya ketika terpaksa.

Haqiqot

Definisi dari haqiqot adalah, telah sampainya salik kepada hal yang ditujunya, yaitu Ma’rifatullah dan menyaksikan nur tajalli. Imam Ghazali berpendapat bahwa tajalli itu adalah nur dari sesuatu yang ghoib yang dibukakan di dalam hati. Keadaan ini lah yang biasanya disebut dengan ma’rifat. Dimana seorang salik seperti menjadi ‘anggota tubuhnya’ Allah. Ia bisa mengetahui apa yang akan terjadi, mengetahui apa yang sedang dipikirkan orang lain, dan sebagainya.

Dari ketiga tahapan ini, syariat, thoriqoh, dan haqiqot, para ulama’ kemudian membuat perumpamaan. Perumpamaan yang terkenal yaitu; syariat sebagai perahu; haqiqot sebagai laut; dan haqiqot seperti mutiara. Untuk mendapatkan sebuah mutiara yang mahal harganya, diperlukanlah sebuah perahu untuk mengarungi lautan. Setelah berada di lautan, maka diperlukanlah penyelaman. Di dalam perumpamaan lain, para ulama memisalkan rangkaian syariat-thoriqoh-haqiqot seperti buah pala. Untuk mendapatkan minyaknya (haqiqoh), maka diperlukanlah memeras daging buahnya (thoriqoh), nah untuk mendapatkan daging buahnya, diperlukan mengupas kulitnya (syariat).

Dari pemisalan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk mencapai haqiqoh, syariat dan thoriqoh tidak dapat ditinggalkan. Bagaimana seseorang bisa mendapatkan mutiara tanpa menaiki perahu dan menyelam? Bagaimana seseorang dapat mendapatkan minyak pala tanpa mengupas kulit dan memeras daging buahnya? (im)

Comments

comments

Share Button

You may also like...