Memainkan Peran Dalam Taksonomi Ibnul Mubarak

Share Button

 

Apakah taksonomi itu? Taksonomi adalah sistem dalam menamai dan mengorganisasi (seperti penggolongan tingkatan) berbagai hal. Bisa hal apapun. Terdapat sangat banyak macam taksonomi.
Salah satu contoh adalah taksonomi William yang diajukan oleh Frank E. William. Taksonomi William adalah penggolongan tingkat kemampuan berpikir kreatif seseorang; mulai dari fluensi (memikirkan contoh-contoh) hingga imajinasi (membuat suatu gagasan pokok menjadi apapun yang dia bisa). Seseorang yang hanya bisa memberikan contoh-contoh dari gagasan yang sudah ada dianggap berada pada tingkatan awal, yaitu fluensi. Sementara seseorang disebut berada pada tingkatan kreatifitas yang paling tinggi (imajinasi) jika bisa membuat suatu gagasan pokok menjadi apa saja yang dia mau.
Contoh taksonomi lainnya adalah taksonomi Bloom yang menggolongkan tingkatan kemampuan berpikir seseorang dalam mempelajari sesuatu. Sesuai namanya, taksonomi Bloom digagas oleh Benjamin Bloom. Taksonomi Bloom dibagi menjadi Low Order Thinking Skills dan High Order Thinking Skills. Low Order Thinking Skills terdiri dari mulai (1) mengingat, (2) memahami, sampai (3) mengaplikasikan. Sementara High Order Thinking Skills terdiri dari (4) menganalisa, (5) mengevaluasi, dan (5) menciptakan hal baru.

Seseorang yang bisa mengingat apa yang dia pelajari tanpa memahaminya berada pada tingkatan pertama. Sementara seseorang yang bisa menciptakan hal baru dalam bidang ilmu yang dia pelajari dianggap berada pada tingkatan yang paling tinggi.

Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah penggolongan sifat seseorang yang sedang mempelajari ilmu. Ya, sifatnya. Penggolongan ini diajukan oleh Abdullah bin Al-Mubarak, maka kita bisa menyebutnya dengan taksonomi Ibnul Mubarak.

Di dalam kitab Tadzkirotus Sami’ Wal Mutakalim, disebutkan bahwa Abdullah bin Al-Mubarak menyatakan bahwa ada tiga tingkatan orang dalam mempelajari ilmu:
Seseorang yang berada di tingkatan pertama, dia akan menjadi orang yang sombong
Seseorang yang berada di tingkatan ke dua, dia akan menjadi orang yang merendah
Seseorang yang berada di tingkatan ke tiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa

Seseorang yang berada di tingkatan pertama, dia akan menjadi orang yang sombong. Ambil saja contoh orang yang sedang mempelajari ilmu bahasa. Sering kali seseorang yang baru belajar ilmu bahasa sering pamer kata-kata yang sulit yang baru dia pelajari. Dia ingin menunjukkan pada orang lain bahwa perbendaharaan kosa kata dia lebih kaya daripada yang dimiliki orang lain. Dia sering tidak terlalu peduli jika dia pemilihan kata yang orang lain tidak paham. Hal ini justru membuat dia bangga.
Selanjutnya, seseorang yang berada pada tingkatan yang ke dua akan merasa merendah. Mengambil contoh seperti yang telah di sebut sebelumnya, dia akan merasa bahwa perbendaharaan kosa kata tidak akan bisa membantu dia terlihat pintar.
Pada tingkatan yang ke tiga, seseorang yang sedang belajar ilmu akan menyadari bahwa ilmu yang dia pelajari ternyata sangat luas. Terlalu luas. Seperti seseorang yang melihat bintang melalui teleskop. Ketika dia bisa melihat jelas sebuah bintang melalui teleskop, dia akan menyadari bahwa ada bintang yang terlihat lebih kecil karena berada jauh di belakang bintang yang sedang dia amati. Dia lalu berusaha membuat teleskop yang lebih bagus agar dapat digunakan untuk mengamati bintang yang lebih jauh tadi. Kemudian, ketika berhasil melihat bintang yang lebih jauh dengan jelas, dia justru melihat ada bintang lain lagi yang lebih jauh. Begitu seterusnya.

Tentu saja tidak ada seseorang yang mau dirinya disebut sombong. Baik karena alasan agama maupun sosial. Atau mungkin juga karena dengan memiliki sifat sombong seseorang berada di tingkat terendah dalam taksonomi Ibnul Mubarak. Tidak ada seseorang yang mau disebut dirinya berilmu rendah. Mungkin karena itulah beberapa orang yang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain berusaha memendam sifat sombong mereka dalam kata-kata dan sikap mereka. Namun, apakah menyembunyikan sifat sombong adalah keputusan yang baik? Tidakkah keputusan seperti ini membuat seseorang ‘seolah’ berada di tingkatan yang lebih tinggi? Bisakah ini disebut kebohongan?
Kembali ke pengertian taksonomi. Karena berupa tingkatan, tentu saja seseorang harus melewati tingkatan yang lebih awal sebelum melangkah ke tingkatan selanjutnya. Dalam taksonomi Bloom misalnya, seseorang yang mau menciptakan hal yang baru (tingkatan 6), tentu saja harus bisa mengevaluasi (tingkatan 5) hal yang sebelumnya sudah ada. Seseorang yang mau mengevaluasi hal yang sudah ada, tentu saja sebelumnya harus bisa menganalisa (tingkatan 4) hal yang dia mau evaluasi. Begitu seterusnya hingga kembali ke tingkat yang paling awal; seseorang harus mampu mengingat apa yang dia pelajari.

Hal ini barangkali juga berlaku pada taksonomi Ibnul Mubarak. Sebelum sampai di tingkat ke tiga, tentu saja seseorang harus melewati tingkat ke dua dan pertama. Ibaratkan saja kita. Ketika kita merasa masih berada di tingkat pertama, wajar saja jika kita merasakan sombong di dada kita. Akui saja: kita sedang merasa sombong. Iya, akui saja bahwa kita merasa sombong karena ilmu kita masih sangat sedikit. Menganggap sepele pendapat orang lain adalah hal biasa pada tingkatan ini. Menunjukkan sikap seolah-olah tidak sombong padahal kita merasakan dia memenuhi dada kita itu sulit. Percayalah, orang lain tetap dapat melihat sifat sombong kita sekalipun kata-kata dan sikap kita berusaha menyembunyikannya.
Daripada repot-repot menyembunyikan sifat sombong, bukankan lebih baik memanfaatkan tenaga kita untuk membuang sifat sombong? Pelajari saja lebih jauh ilmu yang kita sudah dapat sedikit tadi. Kalau kita sudah sampai tingkat ke dua, bukankah kita nanti akan jadi orang yang merendah? Dan jika memang kita bisa mencapai tingkatan ke tiga, bukankah seharusnya pada saat itu kita akan merasa kita tidak bisa apa-apa? Tuhan maha membolak balikkan hati.

 

 

Oleh : A Wiqoyil Islama

Comments

comments

Share Button

You may also like...