Peringatan Haul : Mengenang Perjuangan dan Mencari Berkah

Share Button

Untitled-1

Hari minggu tanggal 31 Juli 2016, telah menorehkan atsar semangat perjuangan pada benak para hadirin dalam acara haul al marhumain yang ke – 46 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang. Sebab, pada hari itu kedua ulama’ besar yang mengisi sesi mauidlah hasanah membawa tema perjuangan yang menggebu-gebu, beliau-beliau mengisahkan bagaimana ulama terdahulu berjuang gigih, tidak hanya menegakkan agama melalui pembelajaran agama islam namun juga berjuang dalam medan tempur, demi membela negara. Para jama’ah yang hadir pun mendengarkan dengan khidmat dan antusias, baik tamu undangan maupun para santri.

Pada sesi mauidlah hasanah yang pertama disampaikan oleh al mukarrom Habib Ahmad bin Idris al-Habsy, pesan yang sangat membekas dari beliau adalah tentang perjuangan romo KH. Muhammad Yahya, bagaimana dulu mbah Kiai Yahya berjuang, mendidik santri sekaligus membela Negara dan melawan penjajah. Pesan ini menunjukkan bahwa seorang ulama tidak hanya berurusan dengan kitab dan mengaji saja, namun juga harus memiliki sikap sosial dan nasionalisme. Dikisahkan bahwa Kiai Yahya sering kali mendatangi pos-pos para pejuang untuk memberikan dukungan baik moril maupun materiil.

Selanjutya KH. Said Aqil Siraj selaku ketua PBNU pusat, pada sesi mauidlah hasanah yang kedua menjelaskan dengan sangat detail bagaimana ulama’-ulama’ terdahulu memiliki sikap nasionalisme yang sangat tinggi, sebagaimana beliau ungkapkan bahwa kalimat hubbu al- wathan min al-iman yang sering kali keliru dianggap sebagai hadits, sebenarnya adalah pernyataan al mukarrom KH. Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim mengatakan bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.  Kalau kita renungkan memang benarlah ucapan Mbah Hasyim, sebab kenyataan kita terlahir di tanah air Indonesia adalah takdir Allah yang harus diterima, kita ditakdirkan untuk menjadi khalifah Allah di Indonesia, maka mencintai tanah air ini adalah hal yang niscaya.

KH Said Aqil juga mengingatkan bahwa saat ini paham cinta tanah air ini sedang diusik, banyak kepentingan-kepentingan asing yang ingin memecah belah Indonesia. Mulai dari pemikiran Negara yang dianggap thogut, ritual keagamaan yang dianggap bid’ah, aksi radikalisme dan aliran-aliran baru adalah isu-isu yang  ingin memecah belah tanah air, menimbulkan kebencian antar sesama yang memicu perang saudara. Namun kita tidak perlu khawatir, sebab menurut beliau selama masih ada pesantren dan umat islam yang mau menjadi santri maka isu tersebut tidak akan berdampak apapun, pesantren adalah lembaga yang menjaga silsilah keilmuannya hingga terbuhung kepada para sahabat dan Rasulullah, sehingga pesantren tidak mudah dimasuki isu kepentingan yang akan memecah belah tanah air.

Selain memberikan wacana baru yang luas dan mendalam tentang nasionalisme dalam islam, pada haul al marhumain kali ini, para jama’ah juga diingatkan kembali bahwa acara-acara majelis ta’lim dan dzikir bersama seperti haul bukanlah kegiatan yang mengada-ada dan tidak dianjurkan dalam islam, justru sebaliknya acara-acara tersebut memiliki dalil yang valid. Sebagaimana diungkapkan oleh KH. Baidlowi Muslich, bahwa dalam Q.S. an-Nisa’ ayat 64 diterangkan bahwa

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Dari ayat tersebut KH. Baidlowi Muslich mentadabburi bahwa meskipun nabi kini telah wafat, ayat tersebut masih relevan hingga sekarang, apabila kita datang ke tempat-tempat yang mulia, dimana para ulama’ sebagai para pewaris Nabi berkumpul lalu berdzikir dan memohon do’a dan ampunan bersama, maka insyaAllah ampunan dan berkah dari Allah akan mengalir kepada mereka.

Pada sesi akhir, acara haul yang diawali dengan kegiatan khataman qur’an dan shalawat bersama akhirnya ditutup dengan pembacaan do’a. Dari ritual dan do’a-do’a yang dilantunkan oleh para ulama’ kita bisa memahami bahwa acara haul bukan hanya sekedar kegiatan mengenang jasa dan perjuangan para almarhum namun juga kegiatan yang berisi ritual dzikir dan do’a-do’a yang tentu keberkahannya tidak hanya untuk almarhum saja melainkan kepada seluruh hadirin tanpa terkecuali, aamiiin, Allahumma Aamiiin. (hy)

 

Penulis : Muhammad Hilmy

 

Comments

comments

Share Button

You may also like...