Yang Demikian Tak Selalu Demikian

Share Button

Rubrik : Cerpen

 

Hawa dingin disertai hembusan angin semilir mengikuti jejak langkah tapak kakiku bersama sahabat karibku. Jalan setapak berlatar batu menjadi saksi bisu betapa kerasnya laju yang harus aku tempuh. Fajar masih tersipu namun langkahku tak pernah ragu untuk merubah nasibku dan bangsaku. Yaa aku berkeinginan merubah nasib kaumku bersama temanku.

“Ayoo!!! kita harus semangat” kataku pada Khoir. Teman yang selalu setia dan selalu berjuang bersama sejak kecil, hingga sekarang aku hampir usai menamatkan sekolah SMA.

“Iyaa!!! ini sudah semangat aku Din” sahutnya sambil berusaha menahan berat kantuknya.

“Semangat apanya??? matamu masih sayup-sayup tuh”

“Tenang aja aku sudah lewat sini selama tiga tahun. So… gak usah khawatir, aku sudah hafal jalanan sini”

“Terserah kamu aja, yang penting aku udah ngingetin kamu”

Jalan terus ku susuri, tak begitu ada tranportasi yang berlalu lalang, kalaupun ada biasanya sudah penuh penumpang, rupiahku pun terlalu berharga untuk hal itu.  Beginilah kondisi insfratruktur desaku, masih tertinggal jauh dengan daerah-daerah lain, hingga aku berkeinginan merubah keadaan yang seperti itu. Tak terasa langkah kaki yang mulai kepayahan ini hampir tiba disebuah gedung yang sudah mulai tua. Tempat inilah, tempat pencetak insan-insan cendikia. Entah kapan gedung yang tua ini akan diperbaiki.

Terkadang aku berpikir “apa yang dipikirkan para pemuka negara, hingga tempat-tempat mulia seperti ini tak sampai terjamah oleh mata-mata mereka. Apa saking besarnya negaraku ataukah sistem yang ada terlalu sempurna sampai-sampai tak terlihat olehnya”

“Din, kira-kira nilai ujian nasional kita gimana?

“Ahh.. aku gak tau Ir, yang penting kita sudah usaha semampu kita. Untuk hasilnya kita serahkan saja pada Allah SWT”

“okee… siap Pak ustad”

Deg. Deg.. Deg…

Perasaan tegang bercampur gelisah tak hanya menyelimuti kami saja. Namun para siswa yang lainnya juga mengalami perasaan yang sama. Bahkan ada yang sampai berkomat kamit bersama.

“Pengumuman nilai ujian bisa dilihat di depan gedung sebelah utara”

Sontak para siswa langsung menuju depan gedung sebelah utara.

“minggir.. minggir.. minggir..”

“aduh.. agak kesana dong, mau lewat ni…”

“ehh… sabaran dong…”

“permisi… permisi, permisii..”

Suara hiruk pikuk saling bersahutan kesana kemari.

“gimana Ir?? Lulus gk??”

“alhamdulillah lulus Din. Kamu sendiri gimana?”

“alhamdulillah aku juga lulus. Ayoo kita pulang sekarang. Kita kasi tau orangtua kita, biar mereka bangga”

Tanpa basa basi lagi kami berdua langsung pulang menuju ke rumah masing-masing

***

Seperti keadaan desa-desa lainnya, desaku juga sepi tanpa hiruk pikuk sama sekali, hanya ada bunyi-bunyi hewan yang saling bersahutan mununjukkan peraduannya.

“Bagaimana orang tuamu??”

“Bangga banget Din. Orang desa seperti aku bisa lulus SMA udah jadi hal yang luar biasa. Tapi aku bingung, setelah ini mau ngapain…”

“iyaa juga sihh, aku juga bingung mau ngapain. Apa kita buka taman bacaan dan pendidikan buat anak yang gak mampu???”

“Entahlah aku masih belum bisa berpendapat tentang itu. Sebenarnya aku pingin kerja keluar kota”

“Ayolah Ir!!! kita sama-sama usaha buat desa kita!!!”

“Aku pikir nanti dehh… aku pulang dulu!!!”

“Lhoo mau kemana??? kita kan baru sebentar disini, jangan pulang dulu!!!”

Tanpa ada jawaban ia langsung nylenong meningggalkan aku sendiri

“aneh sekali anak ini, biasanya tak begini. Apa terjadi sesuatu dengan anak ini” sebuah pertanyaan terngiang-ngiang dalam benakku, hingga tidur melelapkanku.

***

Matahari belum bersinar namun sahabat karibku telah berada diteras depan rumahku.

“Pagi banget kamu kesini!! Ada apa??”

“Aku mau pamit, aku mau ke kota ingin merubah nasibku dan keluargaku”

bug bug!!! (tak terasa genggaman tanganku mengenai wajah sahabat karibku)

“Apa yang kau lakukan Din?? Kenapa memukulku??”

“Apa yang kau pikirkan?? Kenapa meninggalkan ku bersama cita-cita kita untuk merubah nasib desa ini?? Apa hal yang merasuki kepalamu??”

“Aku kira kau temanku sejati yang telah mengerti diriku. Sudah sejak kecil kita berteman namun belum saja mengerti keadaanku. Keadaan kita itu berbeda!!! Sudahlah aku pergi dulu!!!”

Tanpa sanggup berkata-kata lagi ia pergi dengan semua jawaban yang tak mampu aku jawab

“Yaa dulu aku berkeinginan merubah nasib kaumku, namun sekarang aku sendiri tak mampu merubah nasib persahabatanku bersama temanku yang dulu selalu setia mendampingiku. Entah cara berpikirku yang keliru atau cara berpikir temanku yang keliru. apalagi cara berpikir kaumku aku tak mampu… Sahabat yang seajak dulu selalu ada kini tiba-tiba telah tiada” (bbn)

 

Oleh : Bina Daru Al Mustafi

Comments

comments

Share Button

You may also like...