Mencari Kembali Pemuda yang Hilang

Share Button

mencari-pemuda

Oleh: Ali Akbar bin Moh. bin Aqil*

Pemuda hari ini, pemimpin hari esok. Kalimat ini adalah salah satu kata mutiara yang menggambarkan betapa masa muda merupakan masa emas. Masa untuk memberi suatu sumbangsih kepada bangsa dan negara. Kalimat ini terjemah dari pameo Arab, Syababul Yaum Rijalul Ghod.

Pemuda kapan dan di mana pun selalu menjadi tumpuan dan harapan banyak pihak. Di tangan para pemudalah wujud kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Di samping itu, Allah swt telah berfirman,

 “Mereka anak-anak muda yang telah beriman kepada Tuhan mereka, lalu kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al Kahfi: 13)

Pemuda yang tangguh dan terampil, serta mampu memberi terobosan-terobosan revolusioner mempunyai kans besar untuk menjadi pemimpin hari esok. Sebaliknya, pemuda yang ‘letoy’, berkubang dalam perbuatan durjana, meninggalkan identitasnya sebagai pemuda harapan, hanya menjadi sampah masyarakat yang hidup secara sia-sia.

Sejarah telah mencatat, runtuhnya kedzaliman, kediktatoran tidak lepas dari campur tangan pemuda. Hal itu semakin mendapatkan pembenarannya, di mana dalam perspektif bangsa Indonesia, tanggal 12 Mei 1998 adalah titik awal kebangkitan singa-singa muda dalam melawan garangnya rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan otoriter Soeharto. Mereka bahu-membahu menegakkan keadilan, merobohkan kesombongan, keangkuham yang berdiri mengangkang. Saat itu Taufiq Ismail (1998), penyair, mengenang empat korban tragedi Trisakti:

Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu-sedan, mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru.

Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu, mestinya kalian jadi ekonom dan insinyur abad dua puluh satu.

 Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertingi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri

Merah putih yang setiang ini, merunduk di bawah garang matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi, tapi peluru logam telah kami patahkan alam doa bersama, dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.

Sejarah kebangkitan kaum pemuda bukan hanya monopoli bangsa Indonesia semata. Tanggal 20 Oktober 1956 revolusi Hungaria meletus di tangan pemuda dan mahasiswa yang menentang pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan boneka.

Eropa Barat juga menyaksikan gelombang gerakan pemuda dan mahasiswa sepanjang tahun tahun 60-an; gerakan mahasiswa Perancis meledakkan krisis 22 Mei 1968. Mahasiswa Spanyol bangkit menentang diktator jenderal Franco pada 1965. Hal yang sama juga terjadi di Italia, Belgia dan negara Eropa lainnya.

Selain di daratan Eropa, para pemuda di kawasan Asia dan Afrika juga tidak mau ketinggalan memanggungkan keberaniannya dalam memelopori perlawan terhadap para penjajah. Tahun 1954 para pemuda mengenyahkan Perancis dari tanah Aljazair. Para pemuda dan mahasiswa juga berhasil mengusir Inggris dari Mesir. Dan sekarang, sejak 1987 hingga kini, anak-anak ‘bau kencur’ telah meletuskan intifadhah di Palestina sambil menyenandumgkan nasyid “Ad`u an tudkhilani rabbi al jannah, hadza aqsha ma atamanna” –Ku harap Kau masukkan aku ke surga, Tuhanku. Inilah cita-cita tertinggiku.

Pemuda-Pemuda Kebanggaan Islam

Sebelum itu semua, telah lahir dari rahim sejarah Islam, pemuda-pemuda ideal. Sampai Rasul SAW pernah bersabda, “Para pemuda bersekutu denganku dan orang tua memusuhiku.” Artinya, perjuangan dakwah Rasul tidak bisa dilepaskan begitu saja dari tenaga kawula muda. Di sana muncul si-Babul `Ilm, imam Ali bin Abi Thalib;  Usamah bin Zaid; Abdullah bin Abbas sang Turjumanul Qur`an (juru bicara Alquran) dan masih banyak lagi.

Ali misalnya, ia menjadi pahlawan di beberapa peperangan yang terjadi antara pasukan kaum muslimin dengan kaum kafir Quraish. Bahkan perang Khaibar menjadi saksi bisu atas kepahlawanannya. Pernah diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Demi jiwa anak Abu Thalib yang berada di tangan-Nya, seandainya aku terkena seribu hantaman pedang, hal itu lebih ringan ketimbang aku harus mati di atas ranjang.”

Lain pula dengan Usamah bin Zaid. Dia dipercaya sebagai panglima pasukan yang diutus melawan negara super power saat itu, Romawi Timur. Begitu juga dengan Abdullah bin Abbas. Kedalaman ilmunya; ketajaman pikirannya menjadikan sosok yang satu ini begitu terasa istimewa.

Ada lagi sebuah cerita menarik tentang seorang pemuda belia dari kabilah Aslam yang berbadan tegap dan kuat. Dengan penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut berkeinginan menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Walau usianya masih belia, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauannya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang karena ia tidak mempunyai bekal dan senjata apa-apa yang dapat dipakainya. Ia memang miskin dan fakir. Secara logika, tidak mungkin untuk terjun ke medan perjuangan tanpa senjata apapun. Tanpa senjata ia tidak akan mampu melakukan apapun dan tidak berfungsi apa-apa. Mungkin untuk menyelamatkan diri saja ia tidak mampu.

Namun dengan gagah, dia pergi menghadap Rasulullah SAW. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun ia tidak mengharapkan apa-apa dari keikutsertaannya berjuang. Dikatakannya kepada Rasulullah SAW, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah; ia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah. Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?”

“Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, tanya Rasulullah SAW kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apa-apa untuk persiapan perjaungan itu ya Rasulullah”, jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Nabi mengawasi wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara disana banyak kaum munafikin yang hatinya takut dan gentar apabila terdengar panggilan seruan untuk berjuang fisabilillah.

Rasulullah SAW akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan perlatan berperang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.”

Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukan Rasulullah SAW tadi. Ia berkata kepada si Fulan: “Rasulullah SAW menyampaikan salam padamu juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu penuh hormat menjalankan perintah Rasulullah SAW sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah SAW.”

Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semua itu pada pemuda kabilah Aslam. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala Allah yang besar tiada taranya. Terima kasih. Terima kasih.”

Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Dengan berlari-lari dia meninggalkan rumah orang yang tidak jadi berperang itu. Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah satu temanya yang keheranan dan bengong. Tanyanya: “Hai, hendak kemana engkau?” “Aku akan menuju jannatul firdaus yang selebar langit dan bumi”, jawab pemuda itu dengan singkat dan tepat.

Mereka adalah pemuda. Pemuda yang tidak hanya pandai berwacana tapi diwujudkan dengan dharma bakti dalam kesehariannya. Karenanya, hari ini bendera setengah tiang lazim dikibarkan demi mengingat kemerosotan akhlaq dan moral kawula muda. Mengapa? Karena enam juta pemuda-pemudi Indonesia terperangkap sebagai pemakai narkoba dan narkotika. Ribuan lainnya menjadi korban darinya. Selanjutnya, setiap hari kita baca kasus siswa SMP/SMA melakukan tindakan pemerkosaan. Belum lagi kaum pemuda yang saban hari direcoki oleh tayangan-tayangan televisi yang menghadirkan kehidupan muda-mudi yang serba permisif, hedonis, konsumtif. Akibatnya, mereka latah serta mengekor dan akhirnya menjadi bebek dunia glamour. Ajang meningkatkan prestasi berubah menjadi ajang tawuran brutal di jalanan.

Saatnya, para pemuda bangkit dari tidur pulasnya. Kita, anak-anak muda yang kelak menjadi penentu arah sejarah. Di tangan kaum muda tersimpan energi kekuatan maha dahsyat yang siap meledak. Inna fi yadi syubbani amral ummah wa fi aqdamiha hayataha. “Sesungguhnya urusan umat itu ada di tangan pemuda dan hidupnya umat terletak pada kekokohannya.”

Akhirul kalam. Semoga bersamaan dengan momentum peringatan 80 tahun sumpah pemuda ini, kita bisa mulai menggerakkan semangat kita untuk bangkit dan berjuang agar Islam kembali menjadi jaya. Marilah kita mendoakan anak-anak muda kita agar mampu tampil di medan perjuangan guna menata ulang taman dunia.

*Penulis adalah redaksi Majalah Cahaya Nabawy.

Comments

comments

Share Button

You may also like...