MUHARRAM, BULAN PERTAMA DAN MULIA DI TAHUN HIJRIYAH

Share Button

muharram

Oleh : KH. M. Shohibul Kahfi, M.Pd.

 

ESENSI HIJRAH

Seiring dengan keberhasilan dakwah Rasulullah SAW, semakin hari jumlah orang Islam semakin bertambah. Tentu saja hal ini membuat orang-orang kafir Makkah semakin memberikan tekanan bahkan siksaan terhadap kaum muslimin pada waktu itu. Merasa kurang memperoleh kebebasan dalam menjalankan agama, para sahabat banyak yang berpindah dari Makkah ke Yatsrib. Disana mereka mendapatkan sambutan yang luar biasa dari penduduk setempat.

Bagaikan memperoleh kediaman baru terjadilah gelombang perpindahan dari orang-orang Islam Makkah menuju Yastrib. Semakin hari jumlah umat Islam yang berpindah kesana semakin banyak. Sampai akhirnya jumlah umat Islam yang masih tinggal di Makkah tinggal sedikit, yaitu Rasulullah SAW dan beberapa sahabat.

Keadaan ini menyebabkan kemarahan yang luar biasa dari orang kafir Quraisy Makkah. Berkatalah mereka: “Islam sudah mulai menampakkan perkembangan yang pesat di Yastrib. Sebelum bertambah banyak jumlahnya dan menjadi kuat, mereka harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Jika mereka sudah kuat, tentulah mereka akan memukul balik kita. Mulai sekarang kita harus mendongkel akar-akarnya yang baru tumbuh itu. Karena itu, Muhammad harus dibunuh sekarang juga sehingga Islam akan terkubur bersamanya”.

Orang-orang kafir Makkah semakin nekat dan kalap. Mereka seperti tidak sabar untuk segera membunuh Nabi SAW dan disusunlah rencana untuk itu. Namun Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui segala tipu daya mereka. Karena itulah Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk hijrah ke Yatsrib.

 

HIJRAH SEBAGAI MOMENTUM STRATEGIS DAKWAH

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, mulai ada pemikiran kapan dimulainya tahun satu Islam. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai awal dimulainya kalender Islam. Ada pula yang mengusulkan awal dimulainya kalender Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW. Tetapi semua itu belum mencapai kata sepakat.

Barulah pada tahun 17 H (638 M), khalifah Umar bin Khattab RA menetapkan awal kalender Islam adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Umar bin Khattab RA memilih peristiwa hijrah Rasulullah SAW karena peristiwa hijrah mengandung makna yang amat dalam dan arti yang sangat penting bagi perkembangan Islam.

  1. Hijrah merupakan garis pemisah antara periode Makkah dan Madinah. Periode Makkah ditandai dengan penekanan dan penyiksaan, sedang periode Madinah ditandai oleh suasana kemenangan umat Islam.
  2. Hijrah merupakan ujian terberat bagi umat Islam pada waktu itu. Didorong oleh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka rela meninggalkan kota kelahiran yang mereka cintai. Mereka harus berpisah dengan rumah, keluarga, harta benda, dan sahabat yang dicintai. Mereka harus berjalan kaki menempuh perjalan sekitar 500 km yang amat berat dan penuh resiko.
  3. Hijrah merupakan momentum yang sangat menentukan dalam perjalanan sejarah umat Islam, baik ditinjau dari segi militer, ekonomi, geografis, maupun dari segi perkembangan Islam.
  4. Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa jika tidak ada hijrah, maka tidak akan ada kejayaan khulafaurrosyidin. Tanpa khulafaurrosyidin, Islam tidak akan sampai ke penjuru dunia. Tanpa hijrah tidak ada Madinah Al Munawwaroh. Tanpa Madinah Al Munawwaroh tidak ada akan ada Baghdad dan Kordova. Tanpa Baghdad dan Kordova, Islam tidak akan sampi ke Eropa danke negeri Timur.

 

HIJRAH UMAT ISLAM MASA KINI

Peristiwa hijrah sudah sudah berlalu sekitar 15 abad yang lalu, namun nilai-nilai hijrah masih tetap ada sampai hari ini bahkan hari kiamat. Sebab hijrah yang semestinya dilakukan oleh umat Islam saat ini adalah hijrah qalbiyah, yaitu berusaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri menuju yang lebih baik. Oleh karena itu yang perlu kita lakukan adalah hijrah dari perbuatan maksiat menuju perbuatan taat, hijrah dari kemusyrikan menuju tauhid, hijrah dari kebodohan menuju kemajuan, hijrah dari kemiskinan menuju kehidupan yang layak.

Sabda Nabi Muhammad SAW [Shohih Ibnu Hibban, Juz 1, hal. 116]. “Yang disebut muslim adalah seseorang yang mana orang-orang muslim selamat dari lisan dan tangannya. Sedangkan yang disebut orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (HR Ibnu Hibban).

 

MENYONGSONG HARI ESOK

Hari ini kita berjumpa dengan hari Jumat, seumur hidup kita tidak akan bertemu lagi dengan hari Jumat sekarang ini. Demikian juga kemarin kita berjumpa dengan Tahun Baru Hijriyah, maka seumur hidup kita tidak akan berjumpa dengan tahun baru itu lagi. Waktu yang berlalu tidak akan kembali lagi bersama kita.

Detak demi detak jantung dan detik demi detik waktu itulah waktu sesungguhnya yang kita miliki. Selebihnya adalah waktu yang sudah lewat berlalu dan waktu yang akan kita jalani. Dua-duanya bukan milik kita. Betapa banyak waktu yang bukan milik kita dan betapa sedikit waktu yang kita miliki. Oleh karena itu, dibutuhkan kearifan kita untuk menggunakan waktu yang kita miliki itu dengan sebaik-baiknya untuk meraih keberuntungan akan hari akhirat datang. Kita perlu muhasabah (mengadakan perhitungan) amal yang sudah kita perbuat selanjutnya kita jadikan refleksi (renungan) untuk waktu yang akan datang.

Firman Allah  [Al Hasyr (59): 18] “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah  dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah  Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ada dua hal yang bisa kita petik dari ayat ini [Tafsir Al Qurthubi, surah Al Hasyr (59): 18].

  1. Allah mengulangi kata ittaqulloh (bertakwalah kalian kepada Allah) dua kali. Yang pertama adalah bertaubat terhadap dosa-dosa yang sudah lewat, sedang yang kedua adalah takut terjerumus ke dalam kemaksiatan di waktu yang akan datang.
  2. Allah menggunakan kata ghodin (hari esok) yang berarti akhirat. Hal ini menunjukkan betapa waktu itu sangat dekat, sebagaimana kata syair Sesungguhnya hari esok bagi orang yang berpikir amatlah dekat

Berkata Imam Hasan dan Imam Qotadah: Amatlah dekat waktu itu sehingga Allah  menggambarkannya seperti esok pagi. Tidak diragukan lagi bahwasanya setiap perkara yang akan datang amatlah dekat sedangkan mati pasti akan datang.

 

MUHARRAM, BULAN PERTAMA DALAM KALENDER ISLAM

Sekarang kita berada di tahun baru Hijriyah. Sebagaimana disinggung, kita perlu melakukan muhasabah terhadap diri kita selama satu tahun yang sudah kita jalani. Kita harus mengadakan hijrah qolbiyah untuk mencapai peningkatan diri.

Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa awal tahun kita jadikan sebagai tonggak untuk kembali kepada Allah. Kita bertepatan dengan bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam. Bulan Muharram kita jadikan sebagai arena untuk kembali kepada Allah.

Allah  menciptakan bulan Muharram dengan banyak keistimewaan, agar dapat dimanfaatkan oleh hamba-hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri untuk kepentingan akhiratnya.

 

Keistimewaan Bulan Muharram

  1. Bulan Muharram Adalah Salah Satu Diantara Empat Bulan Mulia

Firman Allah  [At Taubah (9): 36]. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah  ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah  pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya empat bulan mulia (haram). Empat bulan yang dimuliakan Allah : Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rojab.

Ketahuilah bahwasanya zaman berputar seperti keadaanya ketika Allah  menciptakan langit dan bumi. Setahun terdiri atas dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan mulia. Tiga diantaranya berurutan, yaitu Dzul do’dah, Dzul hijjah, dan Muharram; sementara Rojab Mudhor antara Jumada dan Sya’ban. (Pidato Nabi Muhammad SAW pada hari nahar di waktu haji wada’).

  1. Bulan Muharram Adalah Bulan Paling Mulia Setelah Bulan Ramadlan

Sabda Nabi Muhammad SAW: Sholat yang paling utama sesudah sholat lima waktu adalah sholat di tengah malam. Bulan yang paling utama sesudah bulan Romadhon adalah bulan Muharram, yaitu bulan tuli Allah . (Hadits marfu’ dan mursal)

  1. Terdapat Sepuluh Hari Yang Mulia

Sebagaimana diketahui bahwa umat islam mengagungkan tiga “Sepuluh Hari” dalam setahun, yaitu sepuluh hari pertama bulan Muharram, sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, dan sepuluh hari terakhir bulan Romadlon. Diantara sepuluh hari yang paling mulia dalam bulan Muharram adalah Hari ‘Asyura.

  1. Terdapat Hari ‘Asyura

Hari ‘Asyura boleh dikatakan sebagai hari kemenangan dan hari penerimaan taubat. Oleh karena begitu banyak pertolongan Allah  yang diberikan kepada para kekasihnya. Pada hari itu Allah  SWT menerima taubat para hamba-Nya.

 

Keistimewaan Hari ‘Asyura (I): Hari Penuh Keistimewaan

Dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA [I’aanah ath Thoolibiin, Juz II. hal. 444 – 445 ] dan dari beberapa sumber lain [Dzikrooyaat wa Munaasabaat, hal. 52; Tanbih al Ghofilin, hal. 123] disebutkan banyak keistimewaan hari Asyura’. Berikut ini dikemukakan keistimewaan hari ‘Asyura : Allah  SWT menerima taubat Nabi Adam AS, mengangkat Nabi Idris AS ke tempat yang tinggi, mengeluarkan Nabi Nuh AS dengan selamat dari perahu, menyelamatkan Nabi Ibrahim AS dari api yang membakar dirinya, mengeluarkan Nabi Yusuf AS dari penjara, memulihkan penglihatan Nabi Ya’qub AS, menghilangkan derita Nabi Ayyub AS, mengeluarkan Nabi Yunus AS dari perut ikan, membelah laut Merah untuk menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya, mengampuni dosa Nabi Dawud AS, mengembalikan singgasana Nabi Sulaiman AS, pertama kali menurunkan hujan, pertama kali menurunkan rahmat-Nya, menciptakan arsy, lauh mahfudz, dan qolam.

 

Keistimewaan Hari ‘Asyura (II): Allah  SWT Menerima Taubat Kaum Terdahulu Dan Kaum Yang Akan Datang.

  1. Allah SWT menerima taubat kaum terdahulu dan kaum yang akan datang.

Sabda Nabi Muhammad SAW “Sekiranya engkau berpuasa dalam sebulan sesudah bulan Romadlon, berpuasalah di bulan Muharram. Sesungguhnya di dalam bulan Muharram ada satu hari dimana Allah  pernah menerima taubat suatu kaum dan akan menerima taubat kaum yang akan datang pada hari tersebut.” (HR Imam Turmudzi dari Sahabat Ali ra).

  1. Allah SWT menerima taubat kaum Nabi Yunus AS.

Sabda Nabi Muhammad SAW “Hari ‘Asyura adalah hari dimana kaum Nabi Yunus dterima taubatnya.” (HR Abu Musa al Madiny dari Sahabat Ali RA).

 

AMALIYAH BULAN MUHARRAM

Banyak amal yang dianjurkan dilakukan di bulan Muharram, diantaranya adalah sebagai berikut ini.

  1. Puasa bulan Muharram: Puasa paling utama sesudah Ramadlan

Sabda Nabi Muhammad SAW “Puasa yang paling utama sesudah puasa Romadlon adalah puasa pada bulan yang kamu sebut dengan bulan Muharram, dan sholat yang paling utama sesudah sholat fardlu adalah sholat malam.” (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah ra).

  1. Puasa hari Tasu’a (tanggal 9 Muharram )
  2. Puasa hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram ) . Sabda Nabi Muhammad SAW “Puasa hari Arofah, saya mengharap kepada Allah , bisa menghapus (kesalahan) setahun sebelumnya dan (kesalahan) setahun sesudahnya. Sedangkan puasa hari ‘Asyura, saya mengharap kepada Allah, bisa menghapus (kesalahan) setahun sebelumnya.” (HR Imam Muslim)
  3. Shodaqoh dan memberi santunan kepada anak yatim piatu dan fakir miskin pada hari ‘Asyura
  4. Memberi nafkah lebih kepada keluarga di hari Asyura’.

Demikianlah sedikit ulasan tentang keutamaan bulan Muharram sebagai permulaan tahun Hijriyah, semoga di tahun baru Islam ini kita semua menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya dengan limpahan taufiq dan hidayah Allah SWT serta Allah menghindarkan kita dari hal-hal yang dilarang-Nya. amin.

*Penulis adalah Dewan Masyayikh Pondok  Pesantren Miftahul Huda Jl. Gading Pesantren 38, Malang

Comments

comments

Share Button

You may also like...