Pelantikan Panitia Haflatul Imtihan dalam bingkai Nusantara

Share Button

1/11/2016

Pelantikan Panitia Haflatul Imtihan dalam bingkai Nusantara


“Manuk gelatik cucuke abang,

Durung dilantik, wes tandang”

Tutur Ustad Qusairy dalam memberikan sambutan selaku wali kelas tiga ulya, membuka acara pelantikan HI yang akan berlangsung di tahun 2017. Dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pelantikan oleh KH. Ahmad Arif Yahya.

Pada acara pelantikan HI tahun ini dihadiri oleh KH Chmazawi. Mengutip kalam syeikh ibnu Athoillah, kyai yang juga sebagai ketua PCNU Kota Malang tersebut. Berharap agar semangat yang ditunjukkan oleh santri khususnya kelas tiga ulya. Tidak hanya diawal namun berlanjut sampai akhir masa pengabdian.

“Man asyroqot bidayatuhu, asyroqot nihayatuhu”

Sebagai indzar, sekarang ini ada usaha untuk memecahkan jurang antara sang tokoh dengan yang dipimpin. Akhir ini memang banyak bermunculan paham-paham yang berseberangan dengan paham islam di indonesia. Ajaran-ajaran islam yang salah satunya adalah Amar ma’ruf nahi mungkar. Telah diterapkan dan digunakan oleh pondok pesantren salaf dengan metodologi yang berlandaskan tasammuh, tawazzun, dan tawassuth. Sejak lama telah menjadi ciri utama pergerakan islam di negara ini. Namun, KH Chamzawi yakin bahwa itu tak dapat terjadi di gading. Dengan tawadhu’nya kepada semua kalangan, terutama guru dan kyai.

Beliau mengimbuhkan :  

“Tidak ada mantan santri, santri ya santri”

 

“Wamaa arsalnaaka illa rohmatan lil alamin”

Ciri pondok itu rohmatan lil alamin. Terhadap tetangga dan orang selain Islam sama halnya. Dengan metodologi seperti itu, tak segan cara atau metode dakwah dengan mendirikan lembaga keilmuan di tengah-tengah masyarakat yang awalnya tak tahu atau anti dengan hal-hal yang berbau agama.

Ud’u ila sabili robbik, Bil hikmati wal mau’idzotil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan”

…….

Unik dan Majunya Pendidikan Pondok  

 

 “yaa ayyuhalladzina amanut taqullah, Wal tandzur nafsun maa qoddamat lighot, ittaqullah “

Santri seharusnya memperdalam ilmu alat seperti nahwu, shorof, dan maanil mufradat karena menurut beliau, apabila santri dapat menguasai dan mahir akan ketiga hal tersebut. Sepulang dari pesantren, sebagian kitab yang telah dipelajari akan mudah dibaca.

“Ilmu itu ndak usah sampai katam saat ngaji dengan kiai. Yang paling penting kita ambil barokah kyai dari muqoddimah dan penutup atau bab akhir, fasal terakhir dalam kitab. Santri dapat belajar sendiri karena mempunyai ketiga ilmu antara lain nahwu shorof dan maanil mufradat.”

KH Chamzawi memberikan contoh beberapa kyai seperti Almukarram Kiai Maimun Zubair, yang didalam membacakan kitab disamping beliau selalu terdapat kamus. Tanpa adanya makna dalam kitabnya. Kiai Makhrus Ali yang juga merupakan guru beliau.

“Kitab sekarang relatif mudah bacaannya. Karna ada titik komanya. Kitab dulu tidak ada. Samean baca ihya atau fahthul muin. Titik koma yang mengetahui hanya pembaca. Itulah luar biasanya”

 

An an masdariya; An Mukhoffaf min anna; An Tafsiriyyah; An yang masuk pada fiil mudhori, madhi, amar, jumlah ismiyyah

Dipondok itu semangat datang dari diri kita sendiri. Maju pinter dan tidak tergantung santri. Samean ikut tak apa ikut juga tak apa. Tidak ada ngaji yang di evaluasi. Iso ndak karepe samean. Setelah selesai waallahualam bissawab gurunya kundur.

 

Pondok lebih kedepan dengan tidak hanya di bangku kuliah saja yang terdapat sks. Dipondok juga dapat ditemuka hal tersebut. Ba’da asyar kiai satu baca ini. Kiai dua baca ini. Terserah santri mau ambil sks yang mana.

Terakhir beliau menambahkan. Santri jika lulus dari pondok harus menjadi pelopor dan penggerak bangsa. Insan yang paripurna “bisa mandiri, ilmu kuat, ditempa oleh situasi”. Manusia yang sebagaimana layaknya Nabiyullah yahya. Diperkuat oleh sebuah ayat Al-Quran :

Salamun alaihi yauma wulida wa yauma yamutu wa yauma yubatsu hayya.

Wallahualam bissawab

Comments

comments

Share Button

You may also like...