Belajar dari KH. Ahmad Nadhir Syafi’i

Share Button

Nampak istimewa,

Disaat pondok pesantren miftahul huda disambangi oleh alumni kelahiran Pati, 23 Maret 1958. Bernama Ahmad Nadhir Syafi’i. Kiai yang sempat bermukim di pondok gading pada tahun 1981 tersebut, mengisi sebuah acara tahunan bertajuk success story.  Beliau merupakan pengasuh sebuah pondok pesantren bertempat di Kedung cangkring, Njabon, Sidoarjo.

Perkenalannya dengan PP. Miftahul Huda. Berawal dari bertemunya beliau dengan Romo KH Ahmad Arif Yahya. Tahun 1975, beliau berada satu kamar dengan kh ahmad arif yahya dan kh ghazali yahya di PP Roudhotut Thalibin, Tanggir Kec Singgahan Kab tuban. Sekitar tiga tahun beliau bersama romo Yai Ahmad menimba ilmu bersama di pondok tersebut asuhan KH Sho’im, yang dikenal dengan sebutan Mbah Sho’im.

Pada kesempatan saat itu, Kyai Ahmad Nadhir lebih banyak bercerita tentang pengalamannya menimba ilmu di pondok pesantren sampai dengan datangnya beliau di Ma’had Miftahul Huda. Yang saat itu sudah dalam asuhan Kiai Abdurrrahman yahya, Kiai Abdurrachim, Kiai Baidhowi Muslich dan Kyai Ahmad Arif.

Ruh pondok pesantren gading memang dikenal dengan keilmuan dibidang tasawufnya. Dengan keluaran alumni yang mengedepankan sikap dan akhlaq disamping kecakapan membaca kitabnya. Dimanifestasikan dengan ketawadhukkan kepada setiap orang. Ditinjau lebih jauh lagi pada guru Kiai Ahmad (Mbah Shoim), juga mengajarkan pada setiap santrinya untuk selalu sabar dan ikhlas dalam berjuang. Romo yai Ahmad nyantren di pondok yang bertempat di Tuban tersebut sekitar 5-7 tahun.

“Sejauh ini saya tidak pernah melihat kiai sesabar ikhlas ngungkuli beliau (Mbah Shoim)”. Cerita KH Ahmad Nadhir dalam acara tersebut.

KH. Mushlich dengan nama kecil Sho’im adalah seoramg yang penyabar dan ramah kepada siapapun, termasuk pada para santrinya, apapun yang diminta santrinya selalu dituruti dengan penuh kesabaran. Beliau menghabiskan waktunya untuk mendidik santri dari pagi hingga malam hanya berhenti beberapa jam saja untuk beristirahat dan menyelesaikan pekerjaan ndalem.

“Pada tahun 1978, Gus Mad boyong, mendirikan madrasah yang dinamakan matholiul huda. Sebelum itu tidak ada yang namanya madrasah, semua ngaji bandungan.”

“Pernah suatu ketika ketika mbah shoim muthalaah kitab di depan ndalem beliau. Tepat di depan rumahnya terdapat jerambah depan rumah bermain sepakbola. Seperti itu pun mbah shoim ndak duko atau marah pada santrinya. Beliau langsung mencari tempat lain dan masuk ndalem.” KH. Ahmad Nadhir Syafii

 

Beliau tak menafikan kebarokahan nyantri di Pondok Miftahul Huda saat itu. Walaupun saat bermukim, tak pernah merasakan bangku madrasah. Beliau langsung menjadi wali kelas aliyah tingkat satu. Kitab yang selalu dibacakan untuk santri adalah kitab Alfiyah. Termasuk dari santri beliau yang sampai saat ini berkecimpung dalam madrasah saat ini yaitu Ust. Murtadho, Ust Qusyairi, dan Ust. Asrukhin. Barokah keilmuan beliau semakin dirasakan saat diambil menantu oleh salah seorang Kiai di Sidoarjo. Disamping itu telah bertahun tahun menjadi pendamping jamaah haji dan umrah. Haji soheh tutur beliau. Sokongane wong akeh. Pernah juga beliau mendapat undangan tiga tahun belajar ilmu agama di arab saudi. Saat ini, menjabat sebagai wakil suriah PC Nu Kabupaten Sidoarjo.

“Alhamdulillah, barokahe kyai-kyai gading, dungane kyai kyai gading. K. Abdurrachim dan K. Abdul Adhim.” tutur beliau setelah bercerita tentang kebarokahan pondok pesantren

 

Di sesi akhir, beliau berpesan :

“Untuk jenjang dapat membaca kitab harus mengerti dan hafal jurmiyyah. Bertahap mulai dari  Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah setelah itu ditambah dengan Jauharil maqnun, Uqudul juman yang membahas mengenai ilmu balaghah”

Salah satu pesan romo kyai ahmad yang diingat oleh beliau adalah “Sampean jangan sekali kali mboten remen membaca sholawat”

Disamping itu, beliau menambahkan. Selain pesan untuk selalu beriadhoh bagi santri dalam menimba ilmu agama. Istimewanya orang tua yang takkan pernah disamai oleh anak.

-Wong tua tau ngetokno anak, anak gak tau

Wong tuo tau nyawiki anak, anak durung tau

Lek ono anak loro, wong tuo susah, ora swalike

Wong tuo tau Ndulang anak, anak durung tau-

Wallahualambissawaab……

*Penulis : Hafidz Abdurrahman

*Riwayat pendidikan KH. Ahmad Nadhir Syafi’i :

  1. PP Roudhotut Tholibin, Tuban
  2. PP Batakan Kediri
  3. Pondok Kaliwungu Semarang
  4. PP. Miftahul huda malang
  5. Unisma (Universitas Islam Malang)

 

 

 

 

Comments

comments

Share Button

You may also like...