NABI MUHAMMAD SAW., SANG MANUSIA TELADAN

Share Button

Oleh: KH. Abdurrohman Yahya*
maulid
Setiap kita bertemu dengan bulan Rabiul Awal, secara tidak langsung kita sebagai umat Islam diingatkan dan dihimbau untuk menyenangi serta mencontoh perilaku hidup nabi saw., karena beliau adalah manusia teladan di dunia ini. Menurut sejarah, negara arab yang terkenal sebagai negara kaya, makmur, dan aman sentosa, dulunya pernah dijajah oleh bangsa lain. Demikian pula penduduknya pernah diperintah dan diperhamba oleh bangsa lain, seperti oleh Persia dan Romawi. Sebelum kedatangan agama Islam, sebenarnya bangsa arab tidak merdeka. Demikian pula bangsa ini tidak pernah menjadi pembicaraan bangsa lain dan tidak dikenal oleh bangsa lain. Ringkasnya Arab sangatlah tidak populer.
Perjuangan Nabi saw.
Demikianlah nabi Muhammad saw. diutus ke dunia sebagai “rahmatan lil alamin” yang menguak dunia baru dan menandai terciptanya peradapan umat manusia yang baru. Rahmat yang dibawanya, tidak bersifat negatif, melainkan dapat dijabarkan oleh ilmu pengetahuan dan dapat dihayati serta dirasakan oleh seluruh penduduk dunia yang meliputi segala kehidupan. Dalam masa 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari, nabi Muhammad saw. telah berhasil menempatkan diri pada proporsinya yang sebenarnya, mendudukkan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Allah swt. yang sama derajatnya, sama hak dan kewajibannya tanpa membedakan suku keturunan, jenis kelamin, kedudukan sosial dan warna kulit.
Nabi Muhammad saw. telah berhasil menciptakan masyarakat yang bersatu padu setelah sebelumnya berpecah belah. Beliau berhasil mengubah wajah dunia Arab dari masyarakat yang biadab menjadi masyarakat yang bermoral tinggi, menjadi masyarakat yang ramah tamah, penuh kasih saying. Mengubah mereka dari masyarakat jahiliyah terbelakang, menjadi masyarakat yang maju. Jika sebelumnya mereka adalah masyarakat penyembah berhala, maka mereka kemudian menjadi masyarakat yang menyembah Allah yang Esa. Demikianlah keberhasilan rasulullah sebagai mana pernyataan Allah swt. dalam Al-Qur’an: “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah [5]:3)
Perjuangan rasullulah saw. yang seluruhnya memakan waktu kira-kira 23 tahun itu, bisa dibagi menjadi dua tahapan besar. Tahap pertamanya, yaitu selama 13 tahun, dihabiskan di Makkah secara khusus untuk membangun pondasi dan mental spiritual manusia. Ini mencakup dakwah yang bersifat ketauhidan. Tahap keduanya, selama 10 tahun setelah hijrah ke Madinah, merupakan tahap pembangunan kedua. Nabi membenahi kehidupan sosial masyarakat Islam. Beliau menggerakan umat untuk mengadakan pembangunan secara serempak, yang meliputi mental spiritual dan bidang fisik material. Secara umum beliau menitikberatkan dakwahnya pada pengembangan mental spiritual karena memang inilah tugas utamanya, yakni: untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia. Sejak zaman dahulu manusia mengalami kerusakan moral yang parah. Sebab primer dari dekadensi moral ini adalah karena kerusakan mental yang integral dalam jiwa manusia. Hal itu bukan saja dikarenakan penyelewengan peran ilmu pengetahuan, tetapi juga penyelewengan atas penghayatan dan pengabdian kepada tuhan yang Mahaesa.
Kerusakan mental dapat menyebabkan kerusakan kemerdekaan jiwa, kehampaan batin, kemunduran ilmu, kemunduran ekonomi, kemunduran faham beragama, kesewenang-wenangan penguasa, dan lain sebagainya. Inilah penyakit yang harus segera diperbaiki agar kualitas hidup kita bertambah baik. Jangan sampai diri kita malah terjerumus dalam kegelapan sehingga tidak mampu menjadi muslim yang berprestasi di mata Allah swt.
Rasulullah saw. bersabda: “Ingatlah,sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad itu, apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad itu. Ingatlah! Itu adalah hati.” (Mutafaqun Alaih).
Masyarakat Madinah
Diakui bahwa kehidupan umat Islam dimasa Rasulullah saw., terutama yang menyangkut segi persatuan, kerukunan, sosial, dan lain-lain, masih sulit untuk dijelaskan. Namun kita bisa menganalisisnya dari nukilan dari firman Allah swt. dalam alquran: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (dari air mukanya terlihat keimanan dan kesucian hati mereka)…” (QS. Al-Fath [48]: 24)
Bangsa Arab sebelum kelahiran nabi saw. sebenarnya menganut ajaran nabi Ibrahim as. namun lama kelamaan mereka lupa dan tersesat. Mereka kemudian menyembah berhala, meniru orang-orang Syam, menganggapnya sebagai kebenaran karena di Syam banyak diturunkan rasul, dan menciptakan model berhalanya sendiri. Mereka menciptakan berhala-berhala besar semacam Lata Uzza, Manat, Hubal, dan meletakkannya di seluruh Hijaz.
Perilaku sesat itu masih ditambahi lagi dengan kebiasaan buruk lainnya semacam mengubur anak perempuan hidup-hidup, mengundi nasib, mabuk-mabukan, sihir, meramal, dan berjudi. Membunuh, berkelahi, berperang, dan memperbudak orang lain menjadi hal yang biasa. Mayoritas bangsa Arab mempraktikkan kepercayaan bernuansa syirik, penyembahan berhala, tahayul, khurafat, dan lain sebagainya. Pada saat mereka diujung terdalam kesesatan itulah nabi Muhammad diutus.
Sekarang bandingkan dengan gambaran masyarakat pada era nabi saw yang sungguh mengagumkan. Nabi membawa syariat ajaran Islam yang lurus, benar, dan berbeda dengan praktik di masyarakat Arab saat itu. Kebanyakan dari mereka yang hidup bersenang-senang tidak rela dengan ajaran yang dibawa nabi Muhammad saw. tersebut karena itu berarti kesenangan hidup yang mereka miliki akan sirna. Namun sebagian lainnya yang mendapat hidayah makin bersemangat menyambut perubahan yang diusung olah nabi Muhammad saw.
Nabi mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan antara seorang dengan orang lainnya. Umat baru ini diajari prinsip-prinsip persatuan, kesamaan antarmanusia satu dengan lainnya. Bahwa antara yang kaya dan yang miskin, antara yang memimpin dan yang dipimpin, tidak ada yang merasa terhina. Mereka tidak merasa cemas menghadapi persoalan hidupnya. Orang-orang kaya tidak takut dibenci oleh fakir miskin sebab mereka menunaikan dan melaksanakan perintah allah dengan baik dalam mengelola harta bendanya. Selain itu dalam hati mereka tidak terlintas niatan menindas atau menganiaya yang lemah. Demikian pula antara yang memerintah dan yang diperintah. Pemerintah tidak berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Persahabatan antara kaum pendatang (Muhajirin) dengan penduduk pribumi (Anshar) sangatlah erat, bahkan melebihi hubungan pertalian yang disebabkan keturunan. Allah swt. menyatakan: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Hasyr [59]: 9)
Keadaan kaum muslimin kala itu, betul-betul harus menjadi teladan baik bagi kehidupan sekarang ini. Kaum muslimin memang memulai segalanya dari nol. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mengubah diri dan mengembangkannya jika tanpa semangat. namun mereka mempunyai rasulullah saw. sebagai contoh nyata yang bisa dijadikan cerminan. Sebaliknya, kita di zaman ini memang sudah tidak didampingi rasulullah secara kasat mata, namun bekas pancaran tingkah laku dan akhlaknya masih bisa kita telusuri dari Al-Qur’an, hadits, dan literatur keislaman lainnya.
Diceritakan bahwa pada suatu hari rasulullah saw. didatangi sekolompok fakir miskin. Mereka mengadukan keadaan mereka kepada rasulullah saw. “Wahai rasulullah rupanya orang-orang kaya telah membawa banyak pahala mereka menjalankan shalat sebagaimana kita shalat, mereka berpuasa sebagaimana kita berpuasa namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya sedangkan kita tidak dapat beramal seperti mereka.” (Al-Hadist).
Mari kita renungkan baik-baik peristiwa diatas, bukankah itu suatu persepsi yang mengejutkan dari kaum fakir miskin, yang tidak akan ada duanya didunia ini. Mereka yang miskin tidak menuntut agar dipenuhi kebutuhan hidupnya seperti sandang, pangan, dan papan. Mereka juga tidak menuntut diturunkannya harga-harga barang. Tidak ada petisi yang menyatakan bahwa mereka diperlakukan secara aniaya. Yang menjadi keluhan mereka justru perasaan tertekan karena mereka kalah dalam beramal baik daripada orang-orang yang berada. Mereka mengeluh karena mereka tidak mampu bersedekah sebagaimana yang dilakukan orang-orang kaya padahal mereka menginginkan dapat seperti itu.
Setelah kita menyimak keluhan kaum fakir miskin itu marilah kita dengar jawaban rasulullah saw. terhadap pertanyaan mereka. Rasulullah mengatakan bahwa apabila mereka tidak dapat bersedekah maka mereka bisa mengejar kekurangan itu dengan memperbanyak membaca tasbih, takbir, dan tahmid. Rasulullah memandang kaum fakir miskin sebagai anggota masyarakat yang dapat membentuk kesejahteraan dan ketenteraman umat. Merekapun dipandang sebagi guru di masyarakat. Rasulullah memandang mereka bukan golongan yang suka merobohkan sendi agama, sebaliknya segala reaksi itu timbul dari jiwa yang ikhlas. Karena tidak ada jurang pemisah antara rasulullah dengan mereka, mereka mengajukan persoalan itu tanpa merasa segan. Para fakir-miskin bukanlah golongan yang mengandalkan belas kasihan orang lain yang lebih mampu; sebaliknya mereka berani memperuhkan jiwa raganya.
Memperhatikan jawaban rasulullah saw. diatas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa bahwa jalan kebajikan bukanlah semata-mata bergantung kepada jumlah harta benda yang kita punya. Masih ada jalan lain untuk berbuat kebaikan yang bisa kita lakukan selain dengan harta. Kebajikan dapat diperoleh dengan berjuang menegakan kemaslahatan, baik dengan menggunakan lisan, akal fikiran, tenaga. Nabi bersabda, “Apakah kalian tidak tahu bukankah Allah menjadikan segala sesuatu dapat disedekahkan? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih itu sedekah, tiap-tiap takbir itu sedekah, tiap-tiap tahmid itu sedekah, tiap-tiap tahlil itu sedekah, menyuruh kebaikan itu sedekah juga melarang yang mungkar itu sedekah.” (Al-Hadist)
Demikian cuplikan kisah nyata 14 abad yang telah lewat yang menggambarkan cara yang ditempuh rasulullah saw. dalam merintis pembangunan masyarakat yaitu dengan memasyarakatkan akidah yang benar dan berbudi luhur, baik menyangkut hubungan kita dengan sesama manusia maupun hubungan dengan sang Mahapencipta.
Nabi sang teladan kita adalah orang yang sempurna, sama antara lahir dengan batinnya. Beliau adalah utusan dan manusia pilihan Allah. Beliau diberi beberapa keistimewaan yang tidak diberikan kepada manusia biasa. Namun disisi lain, beliau juga mempunyai sifat-sifat kemanusiaan. Beliau hidup sebagaimana manusia lainnya, mengalami sakit dan senang, susah, marah, hidup, dan mati sebagaimana manusia lainnya. Sehingga sampai ada yang berkata bahwa kita ini berbeda sedikit dengan nabi. Jika rasul sedikit makan, maka kita sedikit-sedikit makan. Jika rasul sedikit tidur, maka umatnya ini sedikit-sedikit tidur. Namun hebatnya nabi, jika kita ini ini sedikit beramal dan beribadah, maka beliau justru sedikit-sedikit beramal, sedikit-sedikit beribadah.
Sebagai rasul, tidak mustahil jika ada sebagian diantara sikap dan perbuatannya yang dianggap aneh dan diluar jangkauan akal manusia. Beliaulah penutup para nabi yang tidak ada nabi setelahnya. Beliau adalah negarawan yang bijak bestari, arif dalam mengemban amanat yang dibebankan diatas pundaknya. Beliau telah berhasil membangun masyarakat adil makmur baik material maupun spiritual. Firman Allah swt. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab [33]: 21)
Semoga dengan datangnya bulan Rabiul Awal ini, kita bisa meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap nabi Muhammad saw., diberi kekuatan untuk meniru dan mengaplikasikan contoh-contoh mulia dari nabi dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu agar kita dapat bertemu beliau dengan selamat sentosa di akhirat nanti. Alangkah indahnya hidup ini jika setiap detiknya dipenuhi dengan contoh yang diberikan beliau. Alangkah indahnya akhirat nanti jika kita bisa mendapat syafaat beliau.
*Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading Kasri, Malang.

Comments

comments

Share Button

You may also like...