Jumat, 09 Nov 2018, 10:27 WIB

20 Hujjah (Alasan) Mengapa Melaksanakan Maulid Nabi SAW

20 Hujjah (Alasan) Mengapa Melaksanakan Maulid Nabi SAW
KH. M. Baidlowi Muslich (Dok. PPMH)

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS, al-Ahzab [33]:56).

As-Sayyid Muhammad Alwy bin Abbas Al-Maliky adalah seorang ulama besar dari Makkah. Ketika berkunjung ke Indonesia sekitar tahun 1975. Beliau merasa kagum melihat umat Islam di negeri sangat mencintai nabi Muhammad SAW. Setiap bulan Rabiul Awal, tepatnya pada tanggal 12, secara serempak umat Islam Indonesia mengadakan peringatan maulid nabi Muhammad SAW. Bukan hanya itu, boleh dikatakan juga bahwa setiap hari Jum’at banyak kaum muslim yang membaca sejarah kelahiran nabi lewat shalawat Maulid Diba’Syaroful Anamal-barzanjiSimthuddurar, dsb. Bagi kaum muslim di Indonesia, peringatan maulid nabi telah mendarah daging. Hal itu telah berjalan selama puluhan bahkan ratusan tahun sejak masuknya Islam ke Indonesia.

Kemudian Sayyid Muhammad Al-Maliki dimohon oleh para muridnya terutama dari Indonesia untuk memberikan komentarnya terhadap pelaksanaan peringatan/haflah maulid nabi di Indonesia. Segeralah beliau menulis komentarnya itu dalam sebuah karyanya berupa ta’liqot terhadap kitab Mukhtashor Fissirotil Nabawiyah yang disusun oleh al Imam Abdurrahman Addayba’. Tulisan itu diterbitkan di Surabaya pada tahun 1941 H.

Setelah beliau menguraikan sedikit riwayat pengarang Maulid Diba’ yang alim dalam bidang hadits itu, beliau menjelaskan bahwa sebenarnya ia kurang tertarik menguraikan persoalan hukum peringatan maulid nabi yang berjalan dan tersebar luas dikalangan umat Islam seluruh dunia. Saat ini banyak persoalan penting lainnya yang harus diselesaikan oleh umat Islam. Namun karena adanya desakan banyak pihak yang memohon pendapat beliau, beliau mengabulkannya sebab hal ini juga dianggap sebagai penyebaran ilmu.

Sebelum menguraikan dalil-dalil hujjah dibolehkannya (jaiz) mengadakan haflah (peringatan) maulid nabi yang mulia, adapun dalil-dalil dibolehkannya haflah dalam memperingati maulid nabi SAW yaitu:

  1. Ungkapan rasa gembira dan senang dengan kelahiran Nabi yang terpilih

Sesungguhnya haflah maulid nabi itu merupakan ungkapan rasa gembira dan senang dengan kelahiran nabi yang terpilih. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan bahwa siksaan yang diterima Abi Lahab diringankan setiap hari Senin karena ia pernah memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah, yang menyampaikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran nabi Muhammad SAW. Orang kafir saja bisa dapat manfaat padahal ia ditetapkan tempatnya di neraka untuk selamanya. Bagaimana kalau orang mukmin?

  1. Rasulullah SAW memuliakan hari kelahirannya

Rasulullah SAW memuliakan hari kelahirannya dan bersyukur pada Allah SWT atas kenikmatan-Nya yang agung kepada beliau. Adanya beliau menjadi sebab menjadi bahagianya segala yang wujud. Beliau mengungkapkan rasa syukur itu dengan cara berpuasa setiap hari Senin. Ketika ditanya kenapa berpuasa hari Senin?

Beliau menjawab: “Pada hari Senin itu, aku dilahirkan dan pada hari Senin itu al-Qur’an diturunkan padaku.” (HR. Muslim dalam bab shiyam)

  1. Al-Qur’an memerintah kita agar selalu merasa gembira

Merasa gembira karena kedatangan rasulullah SAW diperintahkan dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Katakanlah bahwa dengan anugrah Allah dan rahmat-Nya maka hendaknya mereka gembira dengan yang demikian itu.” (QS. Yunus[10]: 58).

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar kita gembira dengan rahmat-Nya. Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah rahmat yang agung. Allah berfirman: “Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya[21]: 107).

  1. Hubungan masa lampau dan kejadian agama yang agung.

Rasulullah SAW memperhatikan hubungan waktu dengan berbagai kejadian agung agama yang terjadi pada masa lampau. Ketika saat itu tiba, maka merupakan kesempatan untuk mengingat nabi Muhammad dan memuliakan hari kejadian itu.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika beliau sampai di madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari Asyura, beliau bertanya tentang itu. Maka dijawab bahwa mereka berpuasa sebab Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa pada hari itu dan menenggelamkan musuhnya yaitu Fir’aun. Mereka berpuasa untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kami lebih utama dengan Musa daripada kamu.”  Kemudian beliau berpuasa pada hari asyura’ tersebut.

  1. Perayaan maulid adalah bid’ah hasanah

Sesungguhnya haflah Maulid itu belum ada pada zaman Rasulullah SAW. Hal itu berarti bahwa perayaan tersebut merupakan bid’ah, akan tetapi termasuk golongan bid’ah hasanah karena hal itu termasuk dalam dalil syari’ah dan kaidah kulliyah. Maka bid’ahnya itu jika melihat bentuknya yaitu berkumpul, bukan dengan melihat satuannya, sebab satuannya itu terjadi pada zaman Nabi.

  1. Meningkatkan semangat bershalawat dan salam kepada Nabi SAW

Maulid itu bisa meningkatkan semangat dalam bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat atas Nabi (Muhammad), wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:56)

Apapun amal yang bisa meningkatkan semangat dalam menjalankan syariat maka hal itu juga perintah syara’. Betapa banyaknya faidah-faidah membaca shalawat Nabi sehingga pena akan bersujud menyerah jika untuk menulis banyaknya atsar (bekas) dan pengaruh cahaya-cahaya shalawat Nabi.

  1. Peringatan terhadap mukjizat Nabi SAW

Maulid itu mengandung peringatan terhadap berbagai mukjizat Nabi, dan mengenal riwayat hidup Nabi SAW. Bukankan kita diperintah untuk mengenal dan mengikutinya, meneladani akhlaknya, beriman dan membenarkan mukjizat serta ayat-ayatnya. Kitab-kitab maulid telah mendatangkan makna ini dengan sempurna. Banyak sumber menuturkan perihal mukjizat nabi Muhammad. Mukjizat terbesar beliau adalah al-Qur’anul Karim, yang keistimewaannya tidak lekang oleh waktu. Selain itu, banyak pula mukjizat lainnya seperti membelah rembulan, dinyatakan dalam QS al-Qamar [54] ayat 1, dan lain sebagainya.

  1. Penjelasan atas sifat dan akhlak beliau yang sempurna

Maulid nabi SAW merupakan arena untuk menjelaskan sifat-sifat beliau yang sempurna dan akhlak beliau yang utama. Diceritakan bahwa para penyair datang bertamu kepada Rasulullah SAW dan menampilkan kasidah-kasidah. Beliau senang terhadap apa yang mereka perbuat dan membalas perbuatan itu dengan memberikan hadiah.

  1. Meningkatkan kesempurnaan iman kepada Rasulullah SAW

Mengenal berbagai sifat, mukjizat, dan tanda kenabian dapat meningkatkan kesempurnaan iman kepada Rasulullah SAW secara signifikan. Selain itu hal ini juga dapat menambah rasa cinta sebab, pada dasarnya, watak manusia itu senang kepada kebaikan, baik jasmani maupun rohani, ilmu dan amal, tingkah laku dan keyakinan.

  1. Disyariatkannya memuliakan Rasulullah SAW

Jika memuliakan Rasulullah SAW itu disyariatkan dengan jelas dalam al-Qur’an seperti surat al-Ahzab dan lain-lain, maka gembira akan kelahirannya dengan berkumpul mengadakan walimah-walimah adalah jelas merupakan ungkapan ta’dzim dan bersyukur kepada Allah. Hal inipun termasuk ibadah yang tentunya sangat dianjurkan.

  1. Mengingat kelahiran Nabi untuk memuliakan Nabi

Rasulullah SAW pernah menuturkan dalam salah satu hadits beliau tentang keutamaan hari Jum’at. Dikatakan bahwa pada hari itu dilahirkan para nabi mulai nabi Adam a.s. Beliau mengingatkan para sahabat tentang hari bersejarah lahirnya para utusan mulia untuk umat manusia. Jika kita harus mengingat-ingat kelahiran para rasul yang diutus Allah SWT, maka bagaimana tentang kelahiran nabi Muhammad SAW, rasul yang paling mulia.

Dalam sejarah dituturkan bahwa orang zaman dahulu sangat memuliakan tempatnya kelahiran nabi yang diutus pada mereka. Hal itu tergambarkan dalam kisah perjalanan agung nabi SAW. Dalam perjalanan Isra’, malaikat Jibril meminta Rasulullah SAW untuk turun ke suatu tempat dan shalat dua rakaat ditempat yang kemudian disebut Baitul Lahm. Jibril bertanya: ”Tahukah anda dimana anda shalat?”. Rasulullah SAW menjawab: ”Tidak tahu!”. Kemudian Jibril menjelaskan: ”Anda shalat di Baitul Lahm. Disitulah Isa dilahirkan.”

  1. Setiap kebaikan adalah perintah syara’

Sebenarnya peringatan maulid itu dianggap kebaikan oleh para ulama’ dan umat Islam diseluruh negara sehingga merupakan perintah syara’. Ada suatu kaidah hukum yang diambil dari hadits mauquf yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra.:

”Suatu yang dianggap baik oleh umat Islam, maka dianggap bagus disisi Allah. Dan suatu yang dianggap jelek oleh umat Islam maka disisi Allah pun berarti jelek.” (HR. Ahmad)

  1. Maulid adalah ajang berzikir dan mengagungkan Nabi

Peringatan maulid itu adalah kesempatan untuk berzikir, bersedekah, memuji dan mengagungkan Nabi SAW. Itu adalah sunnah dan semua itu perintah syara’ yang terpuji. Banyak hadits maupun atsar yang shahih tentang itu serta menganjurkannya.

  1. Kisah para Nabi meneguhkan hati

Kisah-kisah para pejuang penegak agama Allah yang hanif (lurus) tentu bisa menjadi motivasi bagi setiap muslim. Allah SWT berfirman: ”Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud [11]: 120)

Dari ayat ini jelas bahwa hikmah dalam cerita para rasul adalah untuk meneguhkan hati nabi Muhammad SAW yang mulia. Selain itu, pada zaman sekarang ini kita juga sangat membutuhkan hikmat kearifan yang berguna untuk meneguhkan hati kita dalam mempertahankan keislaman kita di era global ini.

  1. Apa yang mengandung kemaslahatan merupakan suatu kewajiban

Ditinjau dari dalil-dalil syara’, apa saja yang mengandung kemaslahatan merupakan suatu kewajiban dan yang mengandung mudlarat (bahaya) merupakan sesuatu yang diharamkan. Hal itu juga berlaku bagi sesuatu yang makruh, mubah, atau mandub.

Terkait dengan kasus peringatan maulid, dapat dikatakan bahwa mengingat dan meneladani nabi Muhammad SAW merupakan maqashid yang hendak dicapai, yang hukumnya wajib. Peringatan maulid merupakan salah satu wasail untuk menjamin tercapainya cita-cita tersebut.

  1. Tidak semua bid’ah itu haram

Andaikata semua hal baru dihukumi bid’ah, berarti haram pula yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid ra. yang mengumpulkan Al-Qur’an dan menulisnya dalam mushaf, sebab dikhawatirkannya Al-Qur’an itu musnah bersamaan dengan kematian para sahabat nabi SAW. Orang yang tidak menyetujui peringatan maulid nabi selalu membawa isu bid’ah. Mereka selalu berbicara diberbagai forum tentang keharaman menyebarkan dan mengamalkan sesuatu yang tidak pernah dipraktikkan dizaman nabi SAW.

  1. Bid’ah menurut Imam Syafi’i ra.

Imam Syafi’i RA. mengatakan bahwa sesuatu yang baru diadakan dan bertentangan dengan al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’, atau atsar, maka itu adalah bid’ah dhalalah (sesat). Dan suatu kebaikan yang tidak bertentangan dengan semua itu maka merupakan sesuatu yang terpuji.

  1. Segala yang tidak mengandung kemunkaran merupakan perkara agama

Segala hal yang terkandung dalam dalil-dalil syar’i dan dimaksudkan bukan untuk menentang syari’at serta tidak mengandung kemungkaran maka termasuk dalam perkara agama. Dan bagi para ahli ushul, jelas bahwa rasulullah SAW sebagai syari’ ’pembuat syariat’ menyebut setiap perbuatan baik dengan ”sunnah” dan menjanjikan pahala bagi orang yang memulai hal yang baik. Rasul SAW bersabda: ”Barang siapa yang mengadakan suatu kebaikan, kemudian kebaikan itu dikerjakan oleh orang-orang sesudahnya, maka dicatat baginya semisal pahala orang-orang yang mengerjakan kebaikan itu, dan sedikitpun tidak dikurangi dari pahala mereka.”

  1. Pengampunan bagi umat yang menghormati Rasulullah

Allah memerintahkan seluruh manusia untuk menghormati rasul-rasulnya. Menghormati nabi adalah salah satu hal yang terpenting dan utama dalam Islam. Ketaatan hati kepada perintah Nabi SAW tentu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. Dalam salah satu ayat, Allah menyatakan bahwa hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah dan ingin mendapatkan pengampunan haruslah menghormati Rasulullah SAW:

”Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31)

  1. Menghidupkan perasaan ingat kepada Rasul

Memperingati maulid nabi SAW berguna untuk menghidupkan perasaan ingat kepada Rasulullah SAW. Perilaku yang demikian itu disyariatkan dalam Islam. Setiap perbuatan tercela untuk memperingati maulid nabi SAW wajib dicegah. Apabila maulid itu mengandung unsur-unsur kemungkaran seperti pergaulan bebas antara laki-laki dan wanita, perbuatan-perbuatan buruk, dan berlebih-lebihan yang tidak disukai oleh Rasulullah SAW yang dirayakan maulidnya, keharaman hal itu sudah tidak diragukan dan harus dicegah. Hanya saja haramnya itu terletak pada keberadaannya (’aridhy) dan bukan zatnya (dzaty).


*) Penulis adalah ketua MUI kota Malang, kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading Kasri, dan pengasuh Pondok Pesantren Anwarul Huda, Karang Besuki Malang.

Nabi Muhammad SAW  Maulid Nabi Muhammad  Kisah Nabi