Rabu, 11 Jul 2018, 14:27 WIB

Abdullah bin Qais : 50 Pertempuran dan Tidak Ada Satu Kapal Anak Buahnya yang Rusak

Abdullah bin Qais : 50 Pertempuran dan Tidak Ada Satu Kapal Anak Buahnya yang Rusak
50 Pertempuran

50 Pertempuran dan Tidak Ada Satu Kapal Anak Buahnya yang Rusak

Derai ombak menghempas pelabuhan di daerah marqa, Erzerum. Suara bising penduduk marqa terdengar seperti nyamuk yang berdengug di telinga. Seorang laki laki dikuti beberapa sahabatnya turun dari sebuah perahu perintis ke pelabuhan. Beliau adalah sahabat Abdullah bin Qais, seorang laksamana pertama Islam. Pada masa pemerintahan Sayyidina Usman bin Affan r.a sahabat Muawiyah bin Abu Sufyan r.a mengajukan diri untuk menyerang Siprus dari laut. Sahabat Abdullah bin Qais adalah relawan yang ditunjuk sebagai laksamana oleh sahabat Muawiyah r.a.

Sepanjang jalan menuju pusat tengah kota, dapat dijumpai banyak pengemis. Daerah Marqa memang disebut dengan daerah pengemis. Rata-rata penduduknya adalah orang miskin yang tidaklah bekerja dan sebagian besar dari mereka hanya bisa meminta.

Abdullah bin Qais memberikan sedekah kepada setiap pengemis yang ia lewati. Tapi, beliau datang bukan untuk mengasihani seluruh penduduk Marqa. Tujuan utama beliau adalah untuk memata-matai pergerakan musuh. Sudahlah biasa, sebelum menyerang beliau selalu mengintai musuh secara langsung agar tahu kondisi musuh sampai keakar-akarnya. Rencana ini adalah kelebihannya dalam memimpin armada kapal.

Sejak musim dingin hingga musim panas, sudah lima puluh pertempuran yang beliau pimpin, menggunakan rencana yang sama dan tidak ada satupun kapal dari anak buahnya yang tenggelam maupun rusak. Laksamana yang dikenal dengan kedermawanannya itu pernah berdoa kepada Allah SWT agar anggotanya diberi keselamatan dan tidak ada diantara mereka yang mendapat musibah. Doa beliau dikabulkan Allah SWT.

Dalam perjalanannya di Marqa, seorang wanita tua mendatangi Abdullah bin Qais. Pakaiannya compang-camping, ditambal sana-sini. Ramb utnya beruban tak disisir sehingga terlihat seperti sudah lama tidak mandi.

"Kasihanilah kami tuan..." Kata wanita tua itu memelas.

Lantas Abdullah bin Qais mengeluarkan uang dari kantongnya untuk diberikan kepada pengemis wanita dengan penuh kasih sayang. Beliau memang terkenal sebagai sahabat yang dermawan. Selalu memberikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan, entah itu seorang muslim maupun kafir. Bahkan sifat dermawannya pun sampai tersebar ditelinga musuh.

"Terimalah ini. Memang tidak seberapa, tapi semoga cukup untuk anda bertahan hidup" berkata Abdullah bin Qais seraya memberikan sedekahnya pada si pengemis wanita.

"Terimakasih tuan... Terima kasih banyak." Sahut si pengemis wanita dengan wajah gembira.

Tak berapa lama perempuan tua itu mendatangi tentara Erzerum di desanya. Lantas terjadilah percakapan antara perempuan tua dan tentara Erzerum.

"Kalian mencari Abdullah bin qais?"

"Benar. Kami memang mencarinya. Dimana kamu bertemu dia?"

"Dia ada di daerah marqa."

"Atas dasar apa kamu tabu bahwa itu Abdullah bin qais? Bukankah dia tak pernah ditemukan ketika sedang menyamar"

"Atas dasar derma. Dia memberi layaknya raja raja dan tidak kikir seperti para pedagang"

Dengan cepat tentara Erzerum menyiapkan senjatanya dan berlari ke daerah Marqa. Sesampainya di Marqa mereka memang melihat Abdullah bin Qais seperti yang perempuan tua katakan.

Tersentaklah sang laksamana dan sahabatnya. Identitas beliau telah terungkap. Sebagai mata-mata, adalah hal yang sangat buruk jika identitas mereka terungkap di wilayah musuh. Ini bukanlah hal yang sepele. Abdullah bin Qais dan sahabatnya harus segera kabur dan kembali ke tempat sahabat yang lain berkemah atau setidaknya mencari persembunyian agar tentara musuh tidak menemukan mereka.

"Ayo cepat ke pelabuhan"

Baru sebentar berlari tentara musuh sudah terlihat mendekat dibelakang. Abdullah bin Qais dan sahabatnya melangkahkan kaki lebih cepat. Mereka berlari dan terus berlari menyusuri jalan menuju pelabuhan.

Di persimpangan jalan dekat pelabuhan ternyata tentara musuh juga sudah menunggu. Abdullah bin Qais dan sahabatnya berhenti berlari, mereka terkepung. Peperangan kecilpun terjadi.

"Kalian pergilah dulu. Aku akan menghalau mereka"

Sebagai pemimpin, Abdullah bin qais wajib melindungi bawahannya. Dengan hatj sedih bawahannya kembali ke perkemahan. Setelah sampai di perkemahan sahabat yang lain segera menuju tempat Abdullah bin Qais berada. Namun mereka terlambat untuk membantu pemimpin mereka. Laksamana pertama Islam telah meninggal dengan syahid ketika sedang menjalankan tugasnya.

Allah mencintai Abdullah bin Qais dengan mengabulkan doanya, tak ada satupun sahabatnya yang meninggal dalam pertempuran saat itu. Allah juga mencintainya dengan menjadikannya sebagai laksamana yang syahid, laksamana yang lebih peduli pada keselamatan sahabatnya daripada keselamatannya sendiri. (Srf)

Kisah Ulama