Selasa, 02 Okt 2018, 19:02 WIB

Hadits tentang Keruntuhan Umat Islam

Hadits tentang Keruntuhan Umat Islam
Umat (Dok. Ilustrasi)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَامِلُ فِيهِمْ بِالْخَطِيئَةِ نَهَاهُ النَّاهِي تَعْذِيرًا ، فَإِذَا كَانَ الْغَدُ جَالَسَهُ وَوَاكَلَهُ وَشَارَبَهُ ، كَأَنَّهُ لَمْ يَرَهْ عَلَى خَطِيئَةٍ بِالأَمْسِ ، فَلَمَّا رَأَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَلِكَ مِنْهُمْ ضَرَبَ بِقُلُوبِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ ، ثُمَّ لَعَنَهُمْ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِمْ دَاوُدَ ، وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ، ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ، وَلَتَنْهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَلَتَأْخُذُنَّ عَلَى يَدَيِ السَّفِيهِ ، فَلَتَأْطُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا ، أَوْ لَيَضْرِبَنَّ اللَّهُ بِقُلُوبِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ ثُمَّ لَيَلْعَنَنَّكُمْ كَمَا لَعَنَهُمْ " . 

Artinya: dari Abdullah bin Mas’ud R.A. berkata, Rasulallah SAW telah bersabda, “sesungguhnya ada umat sebelum kamu yang apabila diantara mereka ada yang berbuat salah, datanglah orang yang melarang (menegur) seraya memperingatkan, ‘wahai kamu, takutlah kepada Allah!’ hari esoknya ia duduk-duduk (bergaul seperti biasa) dengan pelaku maksiat tadi, makan dan minum bersama mereka. Seolah-olah ia tidak melihat mereka melakukan dosa di hari-hari kemarin. Ketika Allah SWT menyaksikan perbuatan mereka, maka Dia menyatukan hati mereka. Kemudian Allah melaknat mereka melalui lisan nabi-Nya yaitu Daud AS. dan Isa AS. Putera Maryam. Demikian ini karena mereka tidak taat kepada Allah dan sudah melampui batas. Demi Allah yang Muhammad berada di genggaman-Nya, kalian harus menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan kalian hendaklah memegang tangan orang yang  bodoh kemudian memaksanya kepada yang hak! Kalau tidak, Allah SWT akan menyatukan hati-hati kalian, kemudian akan melaknat kalian sebagaimana Dia melaknat mereka”. (Hr. Abu Daud dan Tirmidzi-at targhib)

Hadist di atas, sebenarnya menjelaskan dua ayat dalam surat al-maidah yakni sebagai berikut:

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ٧٩ 

Artinya: Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Qs. Al-Maidah ayat 78-79)

Dari rangkaian hadist dan dua ayat quran tadi, dapatlah disimpulkan bahwa laknat Allah akan turun ketika suatu umat tidak lagi mengamalkan amar ma’ruf nahi mungkar. Baik keduanya, hadist dan dua ayat qur’an, sama-sama mengambil contoh kasus kaumnya nabi Dawud dan Isa. Sebenarnya, bukan pada kasus umat nabi Dawud dan nabi Isa saja hukum ini berlaku. Kasus pada umat nabi-nabi yang lain pun juga sama. Hanya saja masalah yang dihadapi setiap kaum tentunya berbeda. 

Untuk lebih jelasnya, mari kita amati hadist di bawah ini

عن ابى سعيد الخدرى رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رئ منكم منكرا فاليغير بيده فان لم يستطيع فبلسانه وان لم يستطيع فبقلبه وذالك اضعف الايمان (رواه مسلم وترمذى وابن مجه والنسائ كما فى الترغيب)

Artinya: dari Abu Said Al-khudri RA. berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mencegah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya ia mencegahnya dengan lidah. Jika tidak mampu, maka hendaknya ia mengingkarinya". (HR Muslim Tirmidzi dan Ibnu Majah- At targhib).

Dari paparan hadist di atas, dapatlah disimpulkan bahwa batas minimal untuk mencegah suatu kemungkuran adalah mengingkarinya dalam hati. Nah, jika hadist tersebut kita hubungkan dengan hadist pertama, maka kesimpulan yang bisa kita dapatkan adalah sebagai berikut: kemungkaran harus selalu dicegah, walaupun hanya dengan mengingkarinya. Jika batas minimal ini (mengingkari suatu kemungkaran), sudah tidak ada lagi di dalam hati sebuah kaum, maka adzab dari Allah-lah yang akan menimpa mereka. (im/red)