Senin, 29 Okt 2018, 05:22 WIB

Hikmah Menikah: Membuka Pintu Rizki dengan Menikah

Hikmah Menikah: Membuka Pintu Rizki dengan Menikah
Hikmah Menikah : Membuka Pintu Rizki dengan Menikah

Secara bahasa, kata nikah/ menikah berarti berkumpul dan menyatu. Sedangkan secara syara', menikah berarti akad (dengan lafadz/kata-kata nikah, tazwij atau terjemahannya) yang menjadi sarana diperbolehkannya hubungan suami-istri. Hubungan lawan jenis yang sebelumnya haram menjadi halal dengan adanya akad nikah.

Pentingnya Pernikahan/ Berumah Tangga

Selain sebagai perwujudan ketaatan pada perintah agama, pernikahan juga mempunyai arti penting yang lain bagi manusia, antara lain :

PertamaMenyenangkan hati manusia dan menentramkannya, sebagaimana firman Allah "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya" (QS. Ar-Rum: 21). KeduaMenyalurkan hasrat manusia yang mempunyai fitrah untuk mencintai lawan jenisnya. Ketiga, Menjauhkan manusia dari kemaksiatan seperti: zina, dan lain sebagainya. Keempat, Menjaga dan menyelamatkan agama. Sabda Nabi Muhammad SAW.: "Siapa yang menikah, maka sesungguhnya ia telah menjaga separuh dari agamanya. Maka takutlah kepada Allah akan separuh yang lainnya."  Kelima, Meneruskan dakwah Islam, karena Agama Islam akan terus ada dimuka bumi ini seiring dengan terus adanya dakwah. Dengan adanya keturunan yang dididik dengan baik, akan berpengaruh pada keberadaan dan kejayaan agama Islam itu sendiri. Keenam, Melestarikan hukum-hukum Islam, seperti: hukum waris/faraidl. Dengan pernikahan, maka nasab dari keturunan-keturunannya menjadi jelas sehingga penerapan ilmu faroidpun dapat terlaksana.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW sendiri menganjurkan agar umatnya menikah dan memperbanyak keturunan. Sebab dihari kiamat nanti para nabi akan saling memperlihatkan keberhasilan dakwahnya dangan banyaknya umat/pengikut. Dengan menikah dan mempunyai keturunan yang dididik dengan baik, keturunan yang sholeh dan sholihah juga bermanfaat bagi diri kita sendiri baik didunia maupun kelak ketika sudah meninggal dunia. Hal ini sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa salah satu amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir kepada kita, walaupun kita telah meninggal dunia, adalah anak-anak sholeh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Jadi menikah bukan hanya persoalan pribadi semata, tetapi juga merupakan suatu perkara yang berdampak luas dan banyak manfaatnya.


Pernikahan dan Terbukanya Pintu-Pintu Rizki

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering mendengar orang-orang yang berkata "kalau ingin kaya/memperoleh rizki, maka menikahlah", ternyata pameo tersebut tidaklah salah dan bukan tanpa alasan. Salah satu sifat manusia adalah ia akan berusaha lebih keras untuk mencapai tujuan/kesuksesan apabila ada suatu beban tanggungjawab yang dipikul. Dalam Al-Quran sendiri Allah berfirman, "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak (untuk menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui." (QS. An-Nuur: 32).

Firman Allah tersebut merupakan motivasi/penyemangat bagi kita agar menikah, karena dengan menikah tentunya kita akan menjadi lebih bertanggungjawab dan giat dalam mencari nafkah. Dengan semakin ulet dan giat mencari nafkah/rizki, berarti semakin besar pula peluang kita dalam memperoleh anugerah/karunia Allah. Mencari anugerah Allah di muka bumi, bekerja, atau bahkan setiap tetesan keringat yang keluar dari tubuh orang yang mencari nafkah untuk keluarganya merupakan suatu bentuk ibadah apabila didasari dengan niat yang baik. Bahkan, sikap baik dan tanggungjawab terhadap keluarga dapat dijadikan tanda kesempurnaan iman seseorang. Rasulullah SAW bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya dan yang paling lemah-lembut kepada keluarganya" (HR. At-Tirmidzi).

Kekayaan/kecukupan berupa materi hanyalah salah satu dari sekian banyak karunia yang diperoleh seseorang yang menikah. Selain itu masih banyak kekayaan lainnya, misalnya kekayaan hati. Orang yang telah menikah biasanya akan lebih tenang hatinya dan lebih dewasa cara berfikirnya. Kesenangan batin juga akan timbul ketika dianugerahi buah hati yang dirindu-rindukan. Keyakinan akan keadilan Allah dalam menanggung rizki kepada kita, anak dan istri kita serta seluruh makhluknya harus kita tanamkan dalam hati, agar kita tidak ragu-ragu dalam melangkah, membangun dan bertanggungjawab terhadap keluarga, “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Ankabut: 60).


Tanggungjawab Pernikahan

Sesuatu yang mempunyai manfaat banyak, tentunya mempunyai resiko dan konsekuensi yang besar pula. Begitu juga dengan ikatan pernikahan yang dalam Al-Quran di ibaratkan dengan kata-kata mitsaqon gholidlon (perjanjian yang kuat). "…Dan mereka (istri-istrimu) telah mengmbil dari kamu perjanjian yang kuat" (QS. An-Nisa: 21). Kata mitsaqon gholidlon ini hanya terdapat pada tiga tempat dalam Al-Quran yaitu berhubungan dengan perjanjian para Nabi untuk mengemban risalahnya, perjanjian kaum Bani Israil, dan perjanjian/ikatan yang kuat dalam pernikahan. Hal ini mengisyaratkan bahwa pernikahan bukanlah hal yang sepele. Ikatan pernikahan merupakan ikatan suci yang membutuhkan persiapan yang matang baik jasmani maupun rohani.

Agar bangunan rumah tangga dapat kokoh dan sejalan dengan harapan agama, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya: mempersiapkan umur pernikahan. Menurut Ali bin Abi Thalib ra, “Pertumbuhan tinggi badan seseorang itu menjadi maksimal pada usia 25 tahun, sedangkan akal dapat sempurna (dapat mengimbangi nafsu) jika usia seseorang telah mencapai 28 tahun.” Oleh karena itu agar pertimbangan untuk menikah dapat lebih jernih sebaiknya seseorang menikah ketika kondisi akalnya sudah dapat mengimbangi nafsunya atau sekitar usia 28 tahun. Selain umur, faktor agama dari pasangannya adalah sesuatu yang sangat penting karena Nabi sendiri pernah bersabda, “Wanita itu dapat dinikahi karena empat faktor: karena kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan karena agamanya. Maka dapatkanlah wanita yang kuat agamanya, niscaya kamu akan beruntung” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika agama dan akhlak tidak dijadikan prioritas utama, maka selain berdosa juga akan timbul musibah, “Janganlah kamu menikahi wanita-wanita itu karena kecantikannya, karena kecantikannya itu boleh jadi akan membinasakannya; dan jangan kamu kawini mereka karena hartanya, karena boleh jadi harta bendanya itu  akan membuat mereka aniaya (congkak). Akan tetapi kawinilah mereka itu atas dasar ketaatannya terhadap agama” (HR. Ibnu Majah). Ilmu-ilmu tentang nikah dan segala hal ihwalnya juga sangat penting diketahui oleh setiap pasangan, karena dengan ilmu itulah kita dapat melangkah sesuai dengan yang digariskan oleh agama.

Namun bagi sebagian orang, disamping persiapan utama tersebut (agama dan akhlak) juga diperlukan persiapan materi sebelum menikah. Seseorang yang sudah cukup umur (khususnya kaum laki-laki sebagai calon suami) akan menikah jika sudah mempunyai “sangu” berupa materi atau pekerjaan yang dijadikan sumber rizki. Bahkan hampir semua orang tua menanyakan pekerjaan calon suami ketika menyampaikan maksud ingin menikah dengan putrinya karena menganggap dengan pekerjaan yang sudah mapan maka kebutuhan materi akan tercukupi selama menjalani bahtera rumah tangga. Anggapan ini juga tentunya tidak salah.

Setelah menikah, maka janganlah dengan mudah mengucapkan kata-kata cerai/talak, sebab talak merupakan perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah SWT. Padahal pernikahan itu sendiri pada hakikatnya adalah untuk mencapai keridhoan Ilahi. Semoga keluarga-keluarga yang terbentuk oleh umat Islam menjadi keluarga yang senantiasa diridhoi Allah dan melahirkan generasi-genersai Islam yang handal dan diberi kemampuan untuk mensyiarkan agama Islam sebagai rahmatan lil ’alamin, menjadi khalifah-khalifah dibumi yang dapat mewujudkan kemaslahatan  bagi sesama, amien.


*) Penulis adalah Alumni Fak. Tarbiyah UIN Malang dan Santri PPMH Gading Malang.

Arti Nikah