Rabu, 22 Ags 2018, 08:04 WIB

Idul Adha: Kisah Keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam Cermin keluarga ideal

Idul Adha: Kisah Keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam Cermin keluarga ideal
Maqam Ibrahim Alaihissalam

Kisah - Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah, ‘Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi umat manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam’.” (Q.S. Ali Imran: 95-97)

Saat ini kaum muslimin dari seluruh dunia berkenan menunaikan ibadah haji ke Makkah, berkumpul di Padang Arafah, sementara umat Islam di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia menggemakan suara takbir dan tahmid memuji kebesaran Allah SWT. Di tempat kita ini, kita juga berkumpul mengenang kembali peristiwa yang dialami oleh manusia mulia, yang kisahnya diabadikan di dalam al-Qur’an. Bagi kita umat Islam sangat wajar apabila memperingati peristiwa-peristiwa mulia sebagai sarana mengenang perjuangan beliau-beliau dan juga mengambil pelajaran dari kisah-kisah para Nabi dan Sholihin, terlebih sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apalagi kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang selalu “muncul” setiap hari raya Idul Adha. Mengingat pelaksanaan ibadah haji dan semangat berkurban tidak pernah bisa lepas dari sejarah yang pernah beliau perankan.

Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan pengikutnya dalam al-Qur’an merupakan sejarah yang penuturannya berupa penyampaian pesan-pesan moral agar dapat dikaji dan dijadikan pedoman hidup bagi umat Islam masa kini dan masa mendatang sebagaimana yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 120, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).”

Kita renungkan ulang betapa besar makna sejarah yang telah ditancapkan Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk dijadikan rambu-rambu dalam perjalanan panjang menuju Ridlo Allah SWT dalam kehidupan di dunia maupun kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat nanti.

Kisah keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam tidak hanya teratur dalam rangkaian ayat-ayat al-Qur’an semata, tetapi juga tergambarkan dalam amalan Ibadah Haji, yang diperagakan ulang oleh para jama’ah haji setiap tahunnya.

Di antara puncak keunggulan kepatuhan dan kepasrahan Nabi Ibrahim Alaihissalam kepada Allah SWT telah dibuktikan ketika beliau diperintah oleh Allah SWT membawa keluarganya, yakni Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail yang masih menyusu ke kawasan Hijaz (Jazirah Arab). Nabi Ibrahim Alaihissalam sadar, bahwa Hijaz bukanlah kawasan subur, yang menjanjikan kemakmuran dan kemudahan hidup, namun kepatuhan dan kepasrahan Nabi Ibrahim Alaihissalam mendorongnya untuk menjalankan perintah Allah SWT tersebut, di samping kepercayaannya yang kuat bahwa Allah tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak baik. Menurut para ahli sejarah, perjalanan tersebut diperkirakan terjadi pada tahun 1900 SM.

Asy-Sya’rowi dalam tafsirnya menyatakan, “Lembah ini di luar kemampuan manusiawi untuk menjadikannya tanah pertanian dan menghasilkan buah-buahan, tiada lain yang mampu menjadikan lembah ini sebagai tempat yang memberikan rizki kecuali anugerah Tuhan. Pilihan tempat ini bukanlah kemauan Nabi Ibrahim Alaihissalam, akan tetapi merupakan pilihan Tuhan, dan di sana jugalah Nabi Ibrahim Alaihissalam diperintahkan membangun kembali Ka’bah sebagai kiblat umat Islam dalam beribadah.”

Salah satu kegiatan Ibadah Haji yang mencerminkan kisah keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam antara lain Sa’i, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa. Alkisah Nabi Ibrahim Alaihissalam meninggalkan Istrinya Siti Hajar beserta bayinya yang masih merah Nabi Ismail di sebuah lokasi yang berada di sebuah lembah yang tidak ditumbuhi satu pun tanaman, tidak pula mata air sebagai sumber kehidupan. Tempat yang mengerikan itu adalah Makkah tempo dulu. Namun, hal ini tidak lain berdasarkan pada perhitungan jangka panjang, yakni untuk keselamatan generasi pelanjut risalah. Hanya keyakinan yang menjadikan kemantapan Nabi Ibrahim Alaihissalam bahwa pilihannya tidak keliru, kelak Allah akan mendatangkan dan mencurahkan rahmat dan pertolongan-Nya di tempat tersebut. Atas doa yang disampaikan dan dipanjatkan dengan penuh ketulusan kehadirat Allah SWT, akhirnya tempat pilihan tersebut terbukti telah benar-benar menjanjikan perdamaian dan kemakmuran. Adapun do’a yang diucapkan Nabi Ibrahim Alaihissalam antara lain, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (Q.S. Ibrahim: 37)

Jika saat ini kita mengetahui kota Makkah, kita dapat melihat betapa mustajabnya do’a yang pernah diucapkan Nabi Ibrahim Alaihissalam di atas bekas telapak kaki tempatnya berdo’a seakan-akan telah terkabul dengan sempurna seluruh keinginannya.

Berkat do’a Nabi Ibrahim Alaihissalam yang dikabulkan oleh Allah SWT pula tanah yang sebelumnya kering gersang menjadi subur, lembah sunyi yang mencekam menjadi ramai oleh orang-orang yang datang, baik untuk beribadah atau berdagang dari berbagai penjuru daerah bahkan dunia. Bukan hanya itu, bayi yang tadinya sangat mengkhawatirkan kelanjutan hidupnya karena dipelihara dengan kebutuhan hidup serba kekurangan, bahkan menjadi Nabi manusia pilihan di muka bumi ini.

Oleh karena itu, Ibadah Haji di samping merupakan ibadah yang bersifat ritual dan kemasyarakatan, juga mengabadikan kisah keluarga ideal ini. Seperti Sa’i yang dilakukan antara bukit Shafa dan Marwa melambangkan ketabahan Ibu Hajar dan kasih sayangnya yang tercurah kepada putranya, Nabi Ismail. Sementara ketika sang bayi merintih kehausan, Ibundanya mondar-mandir di antara dua bukit tersebut demi mencari titik-titik kehidupan.

Siti Hajar memulai usahanya dalam mencari air di bukit Shafa diartikan secara harfiah sebagai kesucian dan ketegaran, lambang bahwa mencapai kehidupan harus disertai dengan usaha yang dimulai dari kesucian dan ketegaran. Usaha tersebut pada akhirnya berakhir di bukit Marwa, yang memiliki makna “Idealnya Manusia”, yaitu sikap menghargai, bermurah hati dan memaafkan orang lain. Pada akhirnya ditemukanlah mata air yang jernih lagi menyejukkan, yang kemudian dikenal sebagai air zam-zam yang hingga saat ini terus mengalir dengan derasnya, dapat memberikan kesejukan bagi dahaga para jamaah haji serta siapapun manusia dari seluruh penjuru dunia yang menziarahi Masjidil Haram di Makkah.

Adapun di antara amaliyah lain dalam Ibadah Haji yang mengingatkan kita akan kejadian yang dialami keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam salah satunya, yaitu “Melempar Jumrah”. Hal ini dilakukan Nabi Ibrahim Alaihissalam bersama Istri dan Putranya sewaktu mereka dihalang-halangi oleh Iblis saat akan melaksanakan perintah Allah SWT, yaitu penyembelihan Nabi Ismail Alaihissalam. Dan sebagai usaha dalam menggagalkan perintah penyembelihan dari Allah SWT tersebut, pertama kali Iblis mendatangi Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai pemeran utama ‘Peristiwa Pengorbanan Putranya Nabi Ismail Alaihissalam’.

Dengan kata-kata yang manis Iblis berkata, “Wahai Ibrahim, Apakah engkau tidak melihat ketegapan anakmu, keelokan parasnya, dan cara berjalannya yang pantas, sehingga engkau tega menyembelihnya?”

Nabi Ibrahim Alaihissalam menjawab, “Ya, itu aku. Tapi ini perintah Allah yang harus dijalankan!”

Keteguhan dan ketegaran iman Nabi Ibrahim Alaihissalam pada akhirnya dapat menepis godaan Iblis terlaknat itu. Kemudian, karena gagal membujuk Nabi Ibrahim Alaihissalam, Iblis berusaha memanfaatkan kelembutan dan kasih sayang Siti Hajar agar menghalangi maksud suaminya, Ibrahim.

Iblis berkata, “Hajar, bagaimana engkau berpangku tangan sementara suamimu membawa anakmu dengan pedang dan tali di tangannya?”

Iblis berbicara dengan lembut dengan harapan agar tersentuh sisi keibuan Siti Hajar.

Akan tetapi Siti Hajar menepis rayuan iblis tersebut dengan ucapannya yang tegas, “Jika memang itu perintah Allah, jangankan nyawa anakku, nyawaku pun siap aku korbankan.”

Hingga di usaha terakhir, Iblis lalu berusaha merayu Nabi Ismail dengan berkata, “Wahai Ismail, ayahmu bermaksud menyembelih engkau. Lihat tali dan pedang yang ada di tangannya, dia bermaksud menyengsarakanmu!.”

Dengan tegar nabi Ismail menjawab, “Itu perintah Allah!, aku siap dan ikhlas menjalaninya.”

Pada saat itu Iblis mencoba berkata lagi, Nabi Ismail mengambil batu kerikil dan dilemparkannya batu tersebut ke muka Iblis sehingga matanya buta sebelah. Demikianlah benteng keimanan yang membaja terpatri dalam hati keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam, hingga membuat si terlaknat Iblis merasa putus asa dan kecewa, karena telah menggagalkan rencana penipuannya.

Dari peristiwa tersebut nampak adanya keserasian sikap keagamaan Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai Ayah, Siti Hajar sebagai Istri, dan Nabi Ismail sebagai sebuah keluarga Muslim. Kesadaran agama yang tulus harus dimiliki oleh keluarga, baik sebagai suami/ ayah, istri/ ibu, maupun sebagai seorang anak, lebih-lebih sebagai kepala keluarga yang merupakan Nahkoda yang akan menggerakkan dan mengarahkan kapal kehidupannya akan berlayar ke arah dan tujuan mana.

Sikap berserasi antara suami, istri, ayah, ibu, dan anak akan menumbuhkan kedamaian dan kebahagiaan serta semangat yang mendorong suksesnya perjuangan hidup. Ketaatan suami dalam menjalankan ajaran Agama, apabila didukung kesetiaan istri akan menambah gairah hidup yang diliputi keimanan dan keislaman. Dan tidak sedikit seorang suami yang berhasil memerankan dirinya dalam panggung perjuangan karena pengaruh peranan istri di balik layar. Begitu pula kondisi keimanan anak juga dipengaruhi oleh sikap orang tua dan tingkah lakunya sehari-hari.

Maka, bagi kita seorang Muslim yang mendambakan terwujudnya keluarga bahagia dunia dan akhirat hendaknya mengikuti langkah-langkah yang telah diperankan oleh keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam. Namun, perlu disadari bahwa di antara penyebab terjadinya kerusakan pada sebuah keluarga yang paling dominan adalah peranan Iblis atau syetan, sebagaimana pernah dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam, hanya saja keluarga mulia tersebut mampu bertahan dan menghardik Iblis, sehingga Iblis mengalami kekecewaan dan keputusasaan.

Mengingat begitu gigihnya Iblis dalam merusak keutuhan kehidupan rumah tangga supaya para anggotanya menentang hukum Allah SWT, maka dalam rumah tangga perlu adanya benteng ketahanan yang berpondasi kepada keimanan dan ketaqwaan. Dan benteng ini haruslah benar-benar terus dibina dan dijaga dalam keadaan apapun agar tidak sampai mengalami pergeseran.

Terakhir, berkaca dari kisah peristiwa keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam, mari kita benar-benar mengambil pelajaran dari sana. Tidak dalam keutuhan rumah tangga (keluarga) saja, namun juga keutuhan Bangsa, Negara, dan Keutuhan persaudaraan seiman. Karena bagaimanapun syetan tidak akan tinggal diam apabila umat Rasulullah saw ini rukun, guyub, tentram, dan harmonis. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari godaan syetan. Amin.

Wallahu A’lam bi ash-shawab

*) Penulis Adalah Alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda Gadingkasri Kota Malang dan Pengasuh PP. Tarbiyatul Qur’an Al-Faqihiyah Sonopatik Nganjuk.

Nabi Ibrahim As  Kisah Nabi  Rubrik MIFDA