Sabtu, 03 Nov 2018, 12:50 WIB

ISLAM, Agama Rahmatan Lil Alamin

ISLAM, Agama Rahmatan Lil Alamin
ISLAM, Agama Rahmatan Lil Alamin

“Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk." (QS. Al A’raf [7]: 158)

Agama adalah aturan hidup yang kompleks, selalu mengikuti proses hidup manusia sejak awal ia diciptakan, sejak bernafas diatas dunia. Ketika sejarah dimulai, maka wahyu dari langit langsung turun untuk memberikan pencerahan dan bimbingan pada jalan yang semestinya dilalaui dan menerangi liku-liku kehidupan manusia. Manusia adalah mahluk yang diberi derajat yang lebih tinggi daripada mahluk lain, sekaligus mengemban amanah dari Allah swt. Amanah ini merupakan tanggung jawab perorangan.

Agama merupakan cahaya kehidupan yang membuka jalan dan metode paling mumpuni untuk menegakkan kehidupan manusia di dunia. Agama bertujuan menegakkan risalah kebenaran, menjunjung keadilan, dan menautkan persaudaraan antara sesama. Setiap agama menyampaikan risalah ini kepada manusia dengan berbagai macam cara. Islam, agama yang terakhir serta paling sempurna, datang untuk meletakkan risalah ketuhanan yang sebenarnya pada posisi yang tetap. Islam berusaha meluruskan kerancuan dan pemikiran yang menyimpang pada zaman sebelumnya. Pemikiran salah berasal dari Fir’aun, Namrud, Qarun, dan pemimpin lalim lainnya yang mengajarkan kemungkaran. Islam juga menyempurnakan dan mengoreksi ajaran Majusi, Yahudi, Kristen, dan agama lainnya.

Sebelum manusia dilahirkan, manusia mengadakan perjanjian dengan Allah swt. mengenai keislamannya. Hal itu dinyatakan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf [7] ayat 172. Terhadap pertanyaan Allah swt. tersebut, manusia membenarkan ketuhanan Allah swt. dan menjadi saksi atas pernyataan itu. Perjanjian tersebut seharusnya bisa membuat manusia beriman pada Allah swt. dan mencegahnya bersikap munafik kepada Allah.

Allah SWT berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]:30). Yang dimaksud dengan “fitrah Allah” dalam ayat diatas adalah bahwa manusia diciptakan Allah dengan potensi dan naluri keagamaan, yaitu agama tauhid. Lingkungan sekitar dan kondisi kita sangat mempengaruhi penilaian kita dalam memahami Islam sebagai agama tauhid. Sehingga wajar jika ada banyak orang yang tidak mengakui Islam sebagai jalan kebenaran.

Secara fitrah, manusia mempunyai naluri untuk berfikir, memperhatikan, mendekati, dan sekaligus mengambil manfaat dari sumber daya alam yang disediakan oleh Allah untuk kesejahteraannya. Ajaran Islam mencakup tiga aspek berupa hubungan manusia dengan Tuhan (hablum min Allah), hubungan manusia dengan manusia (hablum min nas) dan hubungan manusia dengan alam. Al-Qur’an menghimpun ajaran-ajaran yang lurus yang bisa mengantarkan manusia menuju keridhaan Allah swt.

Islam selalu berlaku selaras dengan kehidupan dan perkembangan umat manusia sampai akhir zaman. Kerusakan lingkungan, tekanan mental dalam diri manusia dan ujian lainnya merupakan indikasi ketidakselarasan perbuatan manusia dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan kearifan dan kebaikan bagi manusia agar manusia selamat dunia dan akhirat.

Sejak awal munculnya manusia telah mengenal agama dan tuhan. Agama menjadi naluri (fitrah) manusia yang tak dapat dipisahkan dari jiwanya. Setiap jiwa mempercayai adanya kekuatan gaib (tuhan) yang ultimate yang tempat manusia menggantungkan nasibnya. Itulah yang disebut fitrah atau naluri bergama manusia.

Sesuai surat Al-A’raf diatas, setiap unsur kehidupan secara fitrah mengakui Islam sebagai agamanya. Lingkunganlah yang akan merubah fitrah manusia untuk mengingkari Islam (kafir). Nabi pernah menjelaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan cenderung kepada Allah. Orang tuanyalah yang pertama kali akan memperkenalkannya dengan hal-hal baru dan menentukan akan menjadi apa atau beragama apa si bayi tersebut. Karena itulah nabi benar-benar mewanti-wanti agar para orang tua bertindak dengan sangat hati-hati dalam membesarkan dan merawat anak-anak mereka.

Ada faktor internal dan eksternal yang menunggu untuk menggelincirkan kita keluar dari fitrah kita. Berbagai tawaran kemewahan dunia, harta, kekuasaan, dan perempuan merupakan faktor eksternal yang secara dahsyat menipu manusia. Sifat sombong, penuhanan hawa nafsu, dan sifat negative lainnya merupakan faktor internal yang mendorong manusia keluar dari fitrahnya (Islam).

Kedua hal inilah yang membuat manusia memilih jalan yang sebenarnya semakin menyesatkannya dari jalan yang diridhai Allah swt. Ia pun masuk kedalam golongan orang-orang yang rugi dan dimurkai oleh Allah swt. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran [3] ayat 85: ”Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Orang-orang yang mencari agama selain Islam akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatannya berupa siksaan di dunia maupun di akhirat. Banyak sekali orang yang tidak menerima keberadaan Allah swt. seperti yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat diatas. Mereka tidak memahami kekuasaan dan kebesaran-Nya yang abadi. Mereka tidak mau membuka hati untuk menerima nilai dan hikmah pengajaran dari Al-Qur’an.

Islam juga merupakan agama yang sempurna dan diridhai Allah, sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. Al-Maidah [5]:3)

Al-Qur’an memuat berbagai aturan hidup di dunia secara umum dan sekaligus gambaran terhadap tempat kembali yang abadi sebagai balasan atas perbuatan manusia di bumi. Salah satu yang membedakan Al-Qur’an dengan kitab suci lainnya adalah bahwa Al-Qur’an memuat aturan-aturan bidang ekonomi, sosial, politik, hukum, sejarah, dan tata cara berhubungan dengan sang pencipta. Karena bersifat umum, maka muncul banyak penafsiran atas Qur’an. Secara simultan hal itu menyebabkan munculnya berbagai macam aliran-aliran dalam agama Islam.

Manusia dengan akalnya mampu menguasai dunia dan menjadi khalifah (wakil Allah swt.) di muka bumi. Karena itulah ia dikatakan sebagai mahluk yang paling sempurna. Namun, faktanya masih banyak umat manusia yang menggunakan akalnya sebagai alat untuk menentang Allah sehingga jatuh dalam kesesatan. Mereka yang dibutakan oleh dunia tersebut mengatakan bahwa Islam merupakan agama buatan Muhammad dan lahir dari budaya arab. lalu muncullah keinginan berpindah agama, merubah dan memalsukan ajaran Islam, dan kekufuran lainnya.

Dengan akalnya manusia dapat menciptakan kebudayaan, bahkan dengan akalnya manusia mampu mencapai kemajuan yang luar biasa dalam lapangan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi dengan akal ilmu dan teknologi semata, manusia tidak dapat mencapai kebenaran dan kebahagian sejati, ia hanya mampu mencapai kebenaran yang bersifat sementara dan akan bergeser oleh kebenaran lain yang lebih maju dari zamannya. Artinya kebenaran yang selau mengalami perbaikan dan pengikisan sesuai dengan perjalanan waktu dan berputarnya roda kehidupan. Banyak agama-agama buatan manusia yang dulunya berkembang dengan pesat, tetapi hari ini telah menghilang dari muka bumi, contohnya Agama atau kepercayaan dimasa kerajaan Fir’aun, Majusi dan lain-lain, ajaran-ajarannya semakin ditinggalkan oleh para pengikutnya karena tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Kesempurnaan Islam dapat dilihat dari berbagai sudut penafsiran tersendiri, banyak ahli mufasir meleihat kemuliaan ajaran islam lewat ajaran Sufisme, sastra, fiqih ataupun sudut pandang lain dan melahirkan pola jalan menuju Tuhan yang berbeda-beda. tetapi lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semua itu diarahkan untuk lebih menjawab segala macam permasalahan hidup didunia sekaligus menjadi jalan keluar terhadap permasalahan yang ada. Islam selalu mendorong umat manusia untuk selalu selamat di dunia-akhirat, karena dalam Islam kehidupan ini hanyalah sebuah amanat dari Allah, karena itu kita dituntut agar selalu hidup berdampingan secara damai, mensejahterakan umat, meluruskan segala kesalahan-kesalahan yang membawa umat manusia kedalam jurang kehancuran, menyegarkan kebudayaan masyarakat yang telah jauh dari seruan Allah, sehingga Agama Islam selalu selaras dengan zaman dan waktu, Islam tetap eksis dalam segala aspek dan liku-liku kehidupan.

Jika Islam diterapkan secara menyeluruh maka jaminanya ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan lahir dan bathin dan selamat didunia maupun diakhirat. Itulah tujuan hidup yang sebenarnya sebagai seorang khalifah di muka bumi sekaligus wakil Tuhan.

Islam adalah jawaban atas kekosongan dan kebobrokan akibat ulah-ulah tangan manusia manusia yang tidak bertanggungjawab, Islam agama rahmatan lil alamin.


*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.