Update : Rabu, 11 Juli 2018, 14:28 WIB

Kiai Mas Alwi : Dibuang, Dikucilkan, Namun Hatinya Tetap NU

Kiai Mas Alwi : Dibuang, Dikucilkan, Namun Hatinya Tetap NU

Dibuang, Dikucilkan, Namun Hatinya Tetap NU

Tanggal 31 januari 2018 merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi sebagian umat Islam Indonesia. Pada tangggal tersebut, Nahdlatul Ulama’ merayakan hari kelahirannya yang ke 92. Rasa syukur terucap dari berbagai kalangan, mulai ulama’ hingga masyarakat umum karena NU masih bisa berdiri kokoh ditengah zaman yang sudah mulai kalut ini. Tentu kita sudah paham, jika kita ditanya siapakah para pendiri NU, pasti sebagian besar akan menjawab KH. Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, ataupun KH As’ad Syamsul Arifin. Namun, tidak banyak yang tahu bahkan sering terlupakan, bahwa ada salah satu ulama’ yang juga berperan penting dalam berdirinya NU. Sosok tersebut adalah Kiai Mas Alwi.

Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa Kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah. Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga.

Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jami’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para Kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, “Kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jam’iyah ulama saja? Sayyid Alwi pun menjawab, “Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada Kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah”.

Kiai Mas Alwi memiliki nama lengkap Sayyid Alwi Abdul Aziz al-Azmad, dan merupakan putra ulama’ besar, yakni Kiai Abdul Aziz al-Azmad, bersepupu dengan KH. Mas Mansur dan termasuk dalam keluarga besar Sunan Ampel. Tidak ada data yang pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat di masa itu, yakni Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Mas Alwi adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh jaraknya dalam hal usia. Disebutkan bahwa di awal-awal berdirinya NU yakni tahun 1926, usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahhab 37 tahun dan Kiai Mas Alwi 35 Tahun. Dengan demikian, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1890-an.

Kiai Mas Alwi memulai pendidikan diniahnya dibawah asuhan ayahnya. Kemudian melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kiai Mas Alwi merupakan sosok yang cerdas dan pandai. Hal tersebut dikisahkan oleh Kiai Mujib, yang menerima kisah tersebut dari ayahnya, KH Ridlwan Abdullah. Setelah menempuh pendidikan di pesantren Syaikhona Kholil, Kiai Mas Alwi melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, dan meneruskan ke Mekkah.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, Kiai Mas Alwi kembali ke Indonesia. Bersama sahabat dan sepupunya, yakni KH. Ridlwan Abdullah dan KH. Mas Mansur, beliau membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon dan KH Mas Mansur menjadi kepala sekolah. Namun, setelah tersiar kabar bahwa Kiai Mas Alwi ikut kerja dalam pelayaran, maka beliau dipecat dari sekolah tersebut, akan tetapi sepulang dari Eropa beliau diterima kembali mengajar di Nahdlatul Wathon, dan justru Kiai Mas Mansur yang akhirnya dipecat oleh para Kiai karena telah terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh.

Saat merebaknya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi mempelajarinya ke Mesir, kepada Muhammad Abduh. Maklum, Mas Mansur adalah keluarga yang mampu secara finansial sehingga beliau dapat mencari ilmu ke Mesir. Sementara Kiai Mas Alwi bukan dari keluarga yang kaya. Oleh karenanya Kiai Mas Alwi berkata: “Apa sih yang sebenarnya dicari oleh Adik Mansur ke Mesir? Renaissance atau pembaharuan itu tempatnya di Eropa”. Maka beliau pun berusaha untuk mengetahui apa sebenarnya renaissance ke Eropa, saat itu beliau pergi ke Belanda dan Prancis dengan mengikuti pelayaran.

Di masa itu, orang yang bekerja sebagai pelayaran mendapat stigma yang sangat buruk dan memalukan bagi keluarga, sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan lain sebagainya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.

Setiba di tanah air, Kiai Mas Alwi dikucilkan oleh para sahabat dan tetangganya. Akhirnya Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di daerah Jl. Sasak, dekat wilayah Ampel untuk berjualan memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui beliau datang, Kiai Ridlwan mendatanginya, lalu Kiai Mas Alwi berkata: “Kenapa Kang, sampean datang kesini, nanti sampean akan dicuci pakai debu sama Kiai-Kiai lainnya, sebab warung saya ini sudah dianggap mughalladzah?”

Kiai Ridlwan bertanya: “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi pelayaran ke Eropa?”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke Al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)

Beliau melanjutkan: “Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً ﴿المائدة : ٣﴾

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maidah: 3)

Inti dari perjalanan beliau ke Eropa adalah menemukan hakikat renaissance yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan bertanya: “Dari mana sampean tahu?” Kiai Mas Alwi: “Karena saya berhasil masuk ke tempat-tempat perpustakaan di Belanda”. Kiai Ridlwan bertanya lebih jauh: “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” Kiai Mas Alwi menjawab: “Dengan menikahi wanita Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya”.

Setelah Kiai Mas Alwi menyampaikan perjalanan beliau ke Eropa secara panjang, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini”. Kiai Mas Alwi menjawab: “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam”. Kiai Ridlwan berkata: “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke sekolah Nahdlatul Wathon. Sebab saya sekarang sudah tidak ada yang membantu. Kiai Wahab sekarang lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya”.

Di pagi harinya, sebelum Kiai Ridlwan sampai di sekolah, ternyata Kiai Alwi sudah ada di sekolah Nahdlatul Wathon. Kiai Ridlwan berkata: “Kok sudah ada disini?” Kiai Alwi menjawab: “Ya Kang Ridlwan, tadi malam saya tawarkan warung saya ternyata laku dibeli orang. Makanya uangnya ini kita gunakan untuk sekolah ini”. Kedua Kiai tersebut kemudian kembali membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon.

Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat–bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum. Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut.

Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Aamiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bi showab. (wd)

Kisah Ulama