Sabtu, 27 Okt 2018, 04:23 WIB

Konsep Istighfar: Sebuah Kekuatan Dibalik Kelemahan

Konsep Istighfar: Sebuah Kekuatan Dibalik Kelemahan
Meraih Rahmat dengan Bersegera Meminta Ampun Kepada Allah

Esensi Istighfar

Tempat melakukan kesalahan dan memiliki sifat lupa adalah salah satu ciri manusia (Al-insaanu mahallul khoto’ wan nisyaan). Itulah gambaran hadis Rosulullah SAW tentang sosok kholifah bumi yang bernama manusia ini. Sifat ini merupakan salah satu sifat dasar manusia yang memiliki berbagai nafsu hewani yang bersemayam dalam hatinya. Nafsu hewani ini sering mengajak manusia untuk berperilaku buruk daripada berperilaku baik. Meskipun demikian, dalam hadis lain Rosulullah juga sudah mengatakan bahwa walaupun seluruh anak Adam AS pasti melakukan kesalahan, tetapi sebaik-baik mereka adalah yang mau bertaubat. Bertaubat banyak caranya, diantaranya kita dianjurkan sebanyak-banyaknya membaca kalimat istighfarAstagfirullahal ‘Adzim, itulah salah satu kalimat istighfar yang sering kita dengar atau kita ucapkan. Namun ucapan ini diharapkan tidak hanya sekedar menjadi ucapan lisan saja melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan baik supaya bisa membekas dalam hati dan tidak mengulangi perbuatan buruk lagi. Jika istighfar ini hanya menjadi kebiasaan mulut saja atau seberapapun kalimat istighfar ini kita ucapkan yang hanya mandek di tenggorokan saja dan tidak menempel dalam hati, maka itu akan sia-sia dan akan sama dengan orang-orang yang melakukan kebohongan, apa yang diucapkan berbeda dengan yang dilakukan, dan itulah yang dinamakan sebuah kemunafikan (yaitu tidak adanya kesamaan antara ucapan dan perbuatan). Oleh karena itu, marilah kita mengangkat derajat kita sebagai manusia yang lemah dengan cara mengamalkan ajaran agama dengan baik supaya kita mampu menggunakan kelemahan-kelemahan kemanusiaan kita sebagai kekuatan yang luar biasa yang bisa menuntun kita pada derajat kaum ‘illiyien atau derajat orang-orang yang luhur sebagai makhluk mulia di sisiNya.

Urgensi Istighfar Sebagai Terapi Jiwa

Banyak di antara kita yang sering meremehkan hal-hal sederhana yang dianggapnya jika hal tersebut tidak mengandung unsur tantangan adalah sesuatu yang sepele, tidak perlu diperhatikan dan sebagainya, termasuk juga kita mungkin sering meremehkan anjuran membaca kalimat istighfar yang kita anggap sudah familiar di telinga kita dan kemungkinan kita menganggap pula tidak akan bisa memberikan manfaat sama sekali kecuali hanya mendapatkan pahala dari membacanya itu saja (meskipun mendapatkan pahala itu pun sebenarnya sudah merupakan sesuatu yang luar biasa) karena biasanya kita akan semakin tekun dan senang jika disuruh membaca wiridan dengan jumlah bacaan ratusan atau bahkan ribuan kali dengan tujuan tertentu dan sebagainya, padahal terlepas dari jumlah dan tujuannya, dengan sering membaca kalimat Istighfar bisa menjadi obat yang manjur untuk semua penyakit, istighfar adalah terapi bagi jiwa yang resah dan gundah. Oleh karena itu, supaya istighfar yang telah diucapkan benar-benar meresap dalam jiwa kita dan benar-benar menjadi sebuah penawar hati yang mujarab, marilah kita menghayati dengan baik aspek terapi istighfar sebagaimana yang disampaikan oleh Sayyidina Ali bin Abi Tholib. Beliau berkata, bahwa kata istighfar itu mengandung beberapa unsur perilaku baik (good character and good performace), diantaranya adalah: 

Petama: konsep istighfar mengandung unsur taubat atau pengakuan atas kesalahan yang telah dilakukannya. Taubat di sini adalah sebenar-benarnya taubat (taubatan nashuhah) yang dapat diartikan sebagai perilaku yang kembali pada jalan yang benar,  meninggalkan perbuatan dosa dan selalu berbuat kebaikan. 

Kedua, kalimat istighfar mengandung keyakinan untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya tersebut. Dalam hal ini mengandung arti penyesalan diri yang lambat-laun akan memunculkan perilaku kesadaran diri (self awareness). Kesadaran ini pulalah yang akan membuat sikap tekad bulat kita untuk tidak mengulangi hal negatif yang sama. 

Ketiga, konsep istighfar mengandung unsur penyucian diri sebelum bertemu sang Pencipta supaya ia bisa bersih dari kotoran badaniah maupun ruhaniyah. Pada aspek ini bisa kita ketahui bahwa sejatinya manusia pada awal penciptaannya sampai tidak melakukan dosa adalah makhluk yang suci. Ketika berbuat dosa itulah cermin kesuciannya menjadi kotor dan tidak bisa dibuat untuk mengoreksi diri karena banyak ‘karat’ yang menempel pada ‘cermin’ atau ‘kaca’ tersebut. Oleh karena itu, dengan mengamalkan bacaan istighfar ini diharapkan kita bisa kembali pada kesucian kita dan bisa menemui Dzat Yang Maha Suci. 

Keempat, dalam konsep istighfar terkandung adanya perilaku mengganti kebaikan yang pernah ia tinggal pada saat melakukan kesalahan. Perilaku ini akan muncul jika motor penggerak dalam tubuh kita (qolbu) ini  sehat dan berjalan dengan baik, sehingga keseimbangan kerja antara sensorik dan motorik bisa berjalan dengan baik pula yang mampu membawa kita pada perenungan diri untuk selalu berbuat kebaikan. 

Kelima, kalimat istighfar mampu membuat tubuh ikut merasakan kesengsaraan dan kepedihan menjalankan kebaikan atau ketaatan sebagaimana saat itu tubuh tersebut ikut merasakan nikmatnya melakukan kesesatan, sehingga tubuh bisa berfungsi sebagaimana mestinya sebagai ‘kendaraan’ ruh tanpa terjerumus dalam perbuatan salah selamanya, karena dalam kaitannya ini terkandung kesadaran pula bahwa kesengsaraan bukan selamanya diartikan sebagai ketidak-nikmatan atau kesengsaraan itu sendiri, tetapi kesengsaraan justru perwujudan kenikmatan dalam bentuk lain atau bahkan kesengsaraan itu merupakan hekekat dari kenikmatan itu sendiri.

Pelajaran inilah yang kita harapkan dari ritualitas kita dalam mebaca istighfar yang bisa kita jadikan sebagai terapi jiwa yang bisa masuk dalam relung-relung hati yang banyak didiami oleh nafsu-nafsu syaithoniah dan bahimiyyah (nafsu hewani) sehingga mampu membawa pada keseimbangan hidup tanpa banyak merugikan diri kita dengan perbuatan-perbuatan dosa atau negatif sekaligus sebagai bekal mengarungi kehidupan yang penuh dengan tipuan dan rekayasa ini, karena siapapun dan apapun kedudukannya, manusia harus memahami hakikat diri dan kehidupannya dengan segala tanggungjawab, resiko dan konsekuensinya.

Keajaiban Istighfar

Selain penjelasan konsep istighfar di atas, kita juga bisa belajar memahami kekuatan istighfar ini dari sebuah cerita salah satu waliyullah bernama Syekh Hasan Basri yang bermula dari ketika beliau didatangi beberapa tamu untuk meminta nasehat sebagai bekal kehidupannya, sementara di sebelah sang wali ada salah satu santrinya sebagai juru saji yang siap sedia kapan pun untuk menyajikan minuman dan hidangan pada tamu-tamu beliau. Suatu ketika datang seorang tamu yang mengadu permasalahan keluarganya sambil mengatakan,” wahai syekh (salah satu julukan pada seorang guru), saya itu memiliki keluarga yang tentram dan harmonis, tapi kenapa rejeki dan ekonomi kita kurang terus, apa yang harus saya lakukan?” sang wali menjawab "alaika bil istighfar (perbanyaklah kamu membaca istighfar)". Pada lain hari datang lagi tamu sambil mencurhatkan masalah keluarganya juga sambil berkata, “wahai syekh, secara ekonomi keluarga saya mapan dan bahkan tidak kekurangan apapun, tapi kenapa dalam berkeluarga selalu ada cek-cok dengan istri sehingga terkadang kurang harmonis, apa yang harus saya lakukan agar kami sebagai suami istri bisa tentram dan harmonis terus?”, sang wali pun menjawab "alaika bil istighfar (perbanyaklah kamu membaca istighfar)". Tamu yang ketiga pun akhirnya datang dan mengeluhkan masalah keluarganya juga yang sering terkena musibah, secara materiil dan keharmonisan tidak ada masalah, akan tetapi dari aspek kesehatan terdapat sedikit kendala, dalam kehidupannya, jika tidak si suami yang sakit, sang istri yang sakit, seakan-akan sakit itu bergulir menghampiri hidupnya. Dan ternyata jawaban yang sama pun diberikan oleh sang wali "alaika bil istighfar (perbanyaklah kamu membaca istighfar)". Lalu karena merasa penasaran, si santri yang tiap hari duduk menemani sang wali memberanikan diri untuk menanyakan jawaban yang sama atas masalah yang berbeda-beda itu sambil mengatakan, “Wahai Syekh, kenapa semua tamu yang ada disuruh untuk selalu ber-istighfar padahal permasalahn yang mereka hadapi berbeda-beda, misalkan orang pertama dengan keluhan ekonomi keluarga, orang kedua dengan masalah keharmonisan keluarga dan yang ketiga dengan keluhan musibah sakit yang bergantian, tapi kenapa obatnya cuma satu yaitu beristighfar, kok tidak berbeda-beda?”. Akhirnya sang wali pun menjawab bahwa permasalahan hidup yang menimpa kita apapun bentuknya (termasuk permasalahan keluarga) juga bermuara dari perilaku kita yang merasa sombong dengan merasa mampu mengatasi semua masalah yang ada atau bahkan juga adanya perasaan bahwa dengan tidak pernah tertimpah masalah sedikitpun itu karena usaha kita yang menghindari masalah-masalah tersebut, padahal itu semua adalah berkat bantuan, rahmat dan kasih sayang Allah yang kita lupakan, sehingga saya menyarankan pada semuanya untuk beristighfar dan meminta ampun kepadaNya, sehingga ketika merasa diri kita kosong (zero point) dengan mengakui kesalahan-kesalahan kita, maka Allah akan mengisi kebaikan-kebaikan pada diri kita, sehingga kita bisa hidup dengan keberkahan di bawah tuntunan dan naunganNya, akan tetapi jika kita merasa penuh dengan kesombongan kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, maka Allah akan meninggalkan kita sehingga masalah itu akan datang bertubi-tubi menghampiri kehidupan kita (Na'udzubillah).

Pemaparan kisah di atas menujukkan bahwa istighfar pastinya juga merupakan obat atas penyakit yang kita alami sebagai keteledoran perilaku yang kita lakukan selama ini. Jika tubuh kita terkena penyakit maka obatnya adalah vitamin, sementara jika ruh kita terkena penyakit berupa dosa-dosa, maka obatnya adalah istighfarIstighfar adalah metode untuk mengosongkan atau membersihkan hati dari limbah yang kotor (zero point). Istighfar adalah sebuah afirmasi yang mengisi dan menghiasi kekosongan diri. Istighfar adalah kunci meraih sukses di dunia dan akhirat. Istighfar adalah media pengontrol kita terhadap perilaku tercelah. Istighfar adalah tehnik aktifasi berbagai mutiara hati yang bersemayam di dasar samudera jiwa. Dengan beristighfar kita bisa mengurai semua permasalahan yang kita hadapi, dengan beristighfar kita bisa keluar dari kesempitan hidup, dengan beristighfar kita bisa meraih keutamaan dan kesenangan hidup yang baik, dengan beristighfar kekuatan hidup kita bisa bertambah seiring dengan meningkatnya motivasi hidup yang ada dalam diri kita. Hal inilah sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT dan RosulNya dalam Alquran dan Hadis, “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (Q.S. Hud:3)” dan “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka”.

Inilah buah dari istighfar yang tidak hanya terucapkan dalam lisan melainkan tertancapkan dalam sanubari jiwa yang bisa memancarkan berbagai perilaku terpuji dalam kehidupan sekaligus sebagai solusi atas seribu satu masalah kita sehari-hari. Oleh karena itu, mari kita obati berbagai keluhan hidup kita ini dengan memperbanyak bacaan istighfar dengan tulus dan sepenuh hati dengan cara mengosongkan perilaku buruk kita dan mengisi atau menghiasi diri kita dengan perilaku-perilaku baik sehingga keberkahan hidup selalu menyertai kita selamanya dengan selalu berjalan di bawah lindungan dan bimbingaNya. Amin.Wallahu A'lam bis showaab.


*) Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi UIN MALIKI Malang dan PPMH Malang

Keajaiban Istighfar  Esensi Istighfar