Selasa, 04 Des 2018, 13:53 WIB

Mbah Bungkuk; Sang Waliyullah di Rumah Ken Arok

Mbah Bungkuk; Sang Waliyullah di Rumah Ken Arok
Mbah Bungkuk (KH. M. Thohir) Singosari.

Makam KH. Mohammad Thohir atau Mbah Bungkuk ini terletak sekitar 20 km dari pusat Kota Malang, tepatnya di daerah Bungkuk, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Sebenarnya apabila jalan tidak macet, perjalanan dari kota untuk sampai ke area makam bungkuk hanya membutuhkan waktu 20 menit. Namun saat tim redaksi khabar el-Fath melakukan perjalanan ke sana, dengan waktu 20 menit kami masih tiba di Arjosari, karena kami berangkat pada waktu weekend, hari sabtu (14/05/16), Saat weekend sering terjadi macet di pertigaan Arjosari dan pertigaan Karangploso. Namun kemacetan kala itu tidak mematahkan semangat kami untuk terus melanjutkan ziarah ke makam Mbah Thohir Bungkuk.

Makam Mbah Thohir tidak terlalu sulit untuk ditemukan, sebab telah terpampang tulisan yang menunjukkan makam Mbah Thohir pada gapura yang terletak di mulut Gang, jalannya pun bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari ujung Gang kita bisa melihat dengan jelas masjid Atthohiriyah yang berdiri kokoh dan megah. Makam Mbah Thohir berada tepat di sebelah barat Masjid tersebut. Selain makam Mbah Thohir, di area makam ini juga terdapat makam Mbah Kyai Hamimuddin selaku pendiri Pondok Pesantren Miftahul Falah atau yang terkenal dengan pondok Bungkuk.

Pondok Pesantren Miftahul Falah terletak di sebelah selatan Makam Mbah Bugkuk. Dulu, semasa Mbah Thohir masih hidup dan menjadi pengasuh, beliau tidak begitu saja menerima calon santri sebagai muridnya. Kyai Thohir memilih sendiri calon santrinya. Beliau menyuruh calon santrinya terlebih dahulu untuk istikharah, sementara pada saat yang bersamaan Kyai Thohir juga beristikharah. Hasil istikharah itu yang menentukan seseorang diterima/ tidak sebagai santri thariqah. Salah satu santri beliau yang juga seorang waliyullah sekaligus mursyid jam’iyah Ahli Thoriqoh Qodriyah Wanaqsabandiyah adalah guru kita, Romo KH. Muhammad Yahya, Gading, Malang.

Salah satu hal keistimewaan Kyai Thohir dari informasi yang kami dapatkan di sekitar makam yaitu ketika beliau dan rombongan hendak menunaikan ibadah haji. Menurut cerita dari Syekh Siddiq Asy’ari di makkah, keberangkatan Kyai Thohir ke Makkah tersebut cukup menguras perhatian pemerintah Belanda waktu itu. Dilakukanlah persiapan pengamanan dan pengendalian massa dalam jumlah besar yang diduga akan terjadi sewaktu keberangkatan Kyai Thohir bersama rombongan. Ternyata dugaan tersebut benar-benar terjadi. Dikisahkan oleh Syeikh Siddiq bahwa sepanjang jalan mulai Singosari sampai Tanjung Perak Surabaya, jalanan dipenuhi masyarakat yang mengelu-elukan dan melepas keberangkatan Kyai Thohir beserta rombongan. Pemerintah Belanda juga menyediakan kendaraannya untuk keberangkatan rombongan tersebut. Sesampainya di Tanjung Perak, ternyata dermaga telah penuh sesak oleh masyarakat yang ingin melepas keberangkatan beliau, mulai halaman depan pelabuhan sampai ke kapal yang hendak dinaiki sehingga tidak bisa lewat. Akhirnya, diambil jalan keluar dengan menyiapkan tandu untuk Kyai Thohir dan tandu itu diusung di atas kepala kerumunan massa, meluncur perlahan hingga naik kapal.

Setelah masyarakat mengetahui kealiman dan karamah Kyai Thohir, maka tidak heran setelah beliau wafat pada hari Selasa Pon tanggal 3 Dzulqo’dah 1351 Hijriyah, makam Mbah Thohir Bungkuk banyak diziarahi masyarakat dari penjuru daerah terutama Jawa Timur. Ketika tim redaksi melihat buku tamu, tercatat nama peziarah dari Malang Raya, Tulungagung, Ponorogo, sampai Sumedang Jawa Barat.

Menurut penjaga makam, untuk warga sekitar Malang ketika hendak melaksanakan ziarah wali sembilan dan lain sebagainya, terlebih dahulu ziarah ke makam Mbah Thohir untuk berpamitan. Area makam ini dibuka selama 24 jam penuh, jadi kita bisa datang untuk berziarah kapan saja dan apabila ada peziarah yang datang dari daerah yang cukup jauh maka diperkenankan untuk menginap disekitar pesantren.

Saat tim redaksi memasuki makam Mbah Tohir Bungkuk untuk membaca Tahlil dan do’a, kami melihat anak-anak kecil berseragam SD yang sedang membaca tahlil bersama guru mereka, menurut penjaga makam, hal itu sudah lumrah, banyak penziarah dari sekolah yang datang ke Makam Mbah Thohir untuk membaca tahlil dan mengharap keberkahan do’a terutama ketika akan menghadapi Ujian Nasional (UNAS), baik itu dari tingkat SD, SMP atau SMA. Selain itu makam Mbah Thohir akan sangat ramai peziarah pada waktu malam Jum’at dan Hari Jum’at tepatnya ba’da sholat jum’at.

Akhirnya kami undur diri setelah melaksanakan shalat dzuhur berjama’ah di masjid Attohoriyyah, semoga pengalaman sejarah dan spiritual serta informasi yang kami sajikan dari ziarah ke makam guru dari guru kita, bisa memberikan manfaat. Wassalam. (fhn/Red)