Selasa, 02 Okt 2018, 23:18 WIB

Pejuang Feminis yang Tidak Feminis

Oleh: Abdan
Pejuang Feminis yang Tidak Feminis
Feminist (Dok. Ilustrasi)

CerCer - Pagi itu ketika Cak Bejo sedang sarapan di warung sebelah pondok, pandangan matanya tak bisa lepas dari penyiar berita di televisi si empu-nya warung. Bukan karena paras manis presenter-nya, tapi karena berita yang sedang diliput oleh presenter tersebut. Cak Bejo melihat berita itu sambil sesekali senyum-senyum sendiri. Bahkan terkadang sampai terdengar suara cekikikan diiringi ucapan lirih “untung, untung, hehehe” dari mulutnya. Cak Paijo, teman sekamar Cak Bejo, yang kebetulan juga sedang sarapan disebelahnya pun merasa penasaran.

“Nonton berita orang demo kok sampai senyam-senyum gak jelas gitu Cak. Awas kesambet lho nanti sampeyan.” Ucap Cak Paijo sambil njawil tangan karibnya itu.

“Hehehe, ini lho Cak Jo. Kok ada ya demo yang aneh kayak gini. Hihihi.” Jawab Cak Bejo sambil berusaha ngempet ketawanya.

Semakin tidak paham dengan maksud karibnya, Cak Paijo lalu berkomentar, “Aneh gimana to Cak? Itu kan demo memperingati hari perempuan internasional. Mereka kan kaum feminis yang mau menuntut kesetaraan hak-hak perempuan karena selama ini merasa diremehkan dan dianggap lebih rendah dari kaum laki-laki. Masak dibilang aneh, malah bagus tho.”

Mendengar pendapat sahabatnya itu, Cak Bejo langsung menukas “Lha dalah, pengen menuntut kesetaraan perempuan kok malah ga peduli sama diri sendiri. Kan ya aneh tho. Kalau udah ga peduli sama diri sendiri, gimana mau memperjuangkan hak-haknya?”

Wajah Cak Paijo mrengut tidak karuan. Pandangan matanya mengelilingi setiap sudut warung Mbok Pah. Pendengarannya fokus pada berita di televisi. Cak Paijo berpikir sembari memahami maksud dari perkataan karibnya itu.

“Aku ga paham maksudmu Cak. Tak pikir-pikir kok tambah ngelu.” Ucap Cak Paijo sambil menggaruk kepalanya yang sudah seminggu tidak keramas.

Cak Bejo hanya mesem. Kopi hitam yang dipesannya masih ngepul-ngepul. Sembari menyeruput kopi kesukaannya itu, tak lupa pula ia mengambil sebatang udut dari saku kemejanya.

“Mau rokok ta Cak?” tanya Cak Bejo kepada karibnya.

“Sampeyan aja Cak. Aku perokok pasif, hehe.” Jawab Cak Paijo.

Buru-buru Cak Paijo meneruskan perkataannya. “Aku bener-bener penasaran Cak Jo, maksud dari pendapat sampeyan yang bilang para demonstran feminis itu ga peduli dengan diri mereka sendiri. Kok bisa Cak?.”

Mengerti kalau rasa penasaran temannya semakin memuncak, Cak Bejo mencoba menjelaskan maksudnya itu.

“Gini lho Cak. Mereka kan katanya para pejuang feminis yang menolak berbagai macam kekerasan terhadap perempuan, tapi coba lihat banner yang mereka bawa. Apa kata-kata semacam itu yang disebut memperjuangkan hak-hak perempuan?.” Ucap Cak Bejo sambil jari telunjuk kanannya mengarah ke salah satu banner demo di televisi.

“Aurat gue bukan urusan loe. Yang porno otak loe bukan baju gue.” Cak Paijo membaca beberapa slogan demo yang dimaksud karibnya itu.

Cak Paijo manggut-manggut, mulai paham dengan apa yang dimaksud sabahatnya.

“Kalau kita pikir-pikir Cak, slogan semacam itu kan tidak mencerminkan kepedulian terhadap diri mereka sendiri. Sekaligus tidak mau tau dengan kondisi orang lain. Apakah orang lain merasa terganggu atau tidak dengan penampilan mereka. Katanya ingin memperjuangkan kesetaraan hak, tapi tanpa disadari slogan-slogan yang dibawa malah terkesan acuh tak acuh dan sepenuhnya  menyalahkan orang lain atas segala macam pelanggaran hak dan kekerasan yang terjadi pada diri mereka sendiri.” Kata Cak Bejo dengan gaya bicara layaknya akademisi.

Penjelasan Cak Bejo belum selesai, kemudian ia melanjutkan.

“Setiap bagian tubuh kita kan anugerah dari Allah. Eman-eman kalau tidak dijaga dengan baik. Apalagi kalau sampai diumbar di depan umum. Eman banget Cak.” Tambah Cak Bejo dengan ekspresi prihatin.

“Selain eman-eman buat kaum hawa, juga bikin dilematis kaum adam. Kalau sampai tergoda pasti disalahkan, tapi kalau mau mengingatkan malah dianggap mengganggu hak mereka. Aduh-aduh repot.” Cak Paijo menimpali sambil menepuk-nepuk dahinya yang lebar.

Cak Bejo mantuk-mantuk tanda setuju dengan tanggapan Cak Paijo.

“Terus yang bikin sampeyan mesem-mesem sendiri sambil bilang ‘untung,untung’ itu apa Cak Jo?.” Tanya Cak Paijo yang masih penasaran kenapa karibnya tadi senyum-senyum  sendiri.

“Oh itu aku cuma bayangin kalau mereka demonya lebih ekstrem lagi Cak. Hehehe. Malah tambah bahaya jadinya.” Ucap Cak Bejo sembari nyruput kopinya yang sudah tinggal letek.

“Lebih ekstrem kayak gimana Cak maksudnya?” tanya Cak Paijo.

“Coba kalau mereka demonya ote-ote. Wah, bisa memicu kecelakaan lalu lintas nanti. Tambah bahaya kan kalau gitu. Untung aja demonya ga ote-ote. Haha.” Kelakar Cak Bejo yang sudah siap-siap membayar sarapannya tadi.

“Haha. Aneh-aneh aja pikiran sampeyan Cak. Kalau sudah tidak peduli dengan diri sendiri dan kelewat batas kayak gitu, namanya apa cak?” tanya Cak Paijo sembari ikut membayar sarapan.

“Ya sebut saja ‘pejuang feminis yang tidak feminis’ Cak.” Jawab Cak Bejo santai. (ab)

Cerita Ceria