Rabu, 07 Nov 2018, 10:24 WIB

Peringatan Maulid Nabi dan Pelestarian Nilai Islami

Peringatan Maulid Nabi dan Pelestarian Nilai Islami
KH. M. Baidlowi Muslich (Dok. PPMH)

"Sesungguhnya telah ada pada  Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu  bagi orang yang mengharap  Allah dan  hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS.Al-Ahzab: 21).

Sebagaimana kita yakini kebenarannya, bahwa junjungan kita Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang dipilih oleh Allah SWT sebagai Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir. Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 40: "Muhammad itu bukanlah sekali-kali bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia seorang Rasul dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatunya".

Sesudah Nabi Muhammad SAW, Allah tidak akan mengutus lagi seorang Nabi lain yang membawa syariat baru. Itu artinya, syariat yang dibawa oleh Nabi kita ini berlaku sepanjang zaman sampai hari kiamat.

Kita meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW diutus untuk semua umat manusia, bukan hanya untuk bangsa Arab. Allah SWT menegaskan dalam surat Saba' ayat 28: "Dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada umat manusia seluiruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai peringatan. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". Tentang kepada siapa Rasulullah diturunkan (diutus), beliau sendiri pernah bersabda: ”Aku diutus kepada makhluk yang merah  juga hitam". Para mujtahid dan ahli hadits mengartikan makhluk merah adalah manusia, sedangkan makhluk hitam merupakan perumpamaan bagi golongan jin. Hal ini berarti bahwa syariat Islam ini dimaksudkan untuk semua umat manusia tanpa mengenal batas-batas waktu dan tempat sampai akhir zaman. Adapun maksud utama dari disyariatkannya Islam kepada semua umat manusia adalah untuk kepentingan umat manusia sendiri. Agar mendapatkan kebahagiaan hidup yang abadi, mulai dari hidup di dunia sampai di akhirat nanti.

Memperingati atau merayakan hari kelahiran saat ini merupakan suatu kegiatan yang sering kita laksanakan, berbagai cara yang kita lakukan dalam merayakan ulang tahun kita bahkan sebagian dari kita rela mengeluarkan uang yang cukup banyak guna meratakan hari kelahiran kita. Pun begitu dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dimana kita memperingati hari lahirnya manusia paling mulia, Rasulullah. Jika kita merayakan hari kelahiran kita, saudara, keluarga ataupun sahabat kita maka sudah sepantasnya (bahkan mungkin anjuran) bagi kita untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai panutan kita semua.

Pentingnya Memperingati Maulid Nabi SAW

Dalam tulisan ini akan kami jelaskan sedikit keterangan tentang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tujuan antara lain untuk memotivasi umat Islam agar senantiasa meningkatkan kualitas imannya kepada Allah SWT, dengan rasa Mahabbah (cinta) yang tinggi kepada Rasulullah SAW melebihi cintanya kepada segalanya termasuk dirinya sendiri. Karena yang demikian itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.

Kita maklum bahwa peringatan Maulid Nabi telah memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam. Hal ini ditandai dengan maraknya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW terutama dalam memasuki bulan Robi'ul awal setiap tahunnya. Semua lapisan masyarakat ikut memperingati kelahiran manusia paling mulia dimuka bumi ini. Alhamdulillah, fenomena ini patut kita syukuri bersama dan harus kita lestarikan sampai kapanpun.

Melalui tulisan ini, kami ingin agar peringatan-peringatan hari besar Islam ini semakin melembaga dan kokoh di hati umat, sehingga hasil karya dan jasa para ulama, khususnya walisongo dapat dilestarikan sampai hari kiamat.

Adapun tujuan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada dasarnya adalah:  Pertama, untuk mengetahui sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah bagi kita semua. Kedua,Untuk mengetahui madah (pujian) kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan keagungan beliau melalui pembacaan diba'iyah ataupun kegiatan lain yang senada. Ketiga, memperbanyak sholawat serta salam kepada beliau karena kita semua pasti mengharapkan syafaat beliau di hari kiamat kelak. Keempat, bersedekah dengan makanan kepada sesama dan menggembirakan hati umat Islam.

Pelestarian Nilai Dakwah

Para ulama pendahulu kita sangatlah arif dalam menyampaikan dakwah di muka bumi ini. Mereka sama sekali tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Setiap momen-momen penting mereka gunakan untuk mengajak umat Islam beriman kepada Allah SWT. Hasilnya sudah dapat kita rasakan sampai saat ini, diakui atau tidak mereka telah mencetak prestasi yang luar biasa sehingga sebagian besar bangsa Indonesia memeluk agama Islam dan mengakui kebenaran Islam (disamping faktor lain). Walaupun mungkin kualitas iman sebagian mereka masih harus selalu ditingkatkan. Inilah tugas kita sebagai penerus para ulama untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar kita.

Adapun hal-hal yang harus dilakukan dalam rangka meneruskan dan melestarikan dakwah Nabi adalah:

  1. Meluruskan akidah

Banyak kepercayaan yang telah timbul dan tenggelam sepanjang zaman. Banyak keyakinan yang dipegang, kemudian ditinggalkan. Banyak filsafat yang digali dan dikembangkan, namun akhirnya lenyap dan dilupakan. Karena perkembangan pengetahuan manusia.  Banyak jalan yang boleh ditempuh. Banyak cara yang boleh dilakukan, tetapi sendi-sendi iman atau dikenal dengan rukun iman yang jumlahnya enam itu tidak boleh kendor. Di zaman sekarang, masih banyak orang yang kurang meyakini kebesaran Tuhan dengan alasan Tuhan tidak tampak oleh mata dan tidak kasat mata. Mereka menginginkan Tuhan itu bisa dilihat, sehingga sebagian mereka menuhankan (menganggap sebagai Tuhan) benda dan harta kekayaan sebagai wujud menuruti hawa nafsunya.

Orang-orang yang demikian ini berkeyakinan bahwa yang paling menguntungkan dan menyelamatkan dirinya hanyalah kekayaan dan harta benda. Itu artinya, mereka menganggap hawa nafsunyalah sebagai Tuhan. Orang-orang yang semacam itu akan berhadapan dengan ancaman Allah. Sebab Allah berfirman dalam Al- Quran surat Al Furqon ayat 43: "Terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya".

Golongan manusia yang mengukur keberadaan Tuhan dengan panca indera bukan hanya pada saat ini saja, namun jauh sebelumnya umat Yahudi telah berpendapat seperti itu. Allah menceritakan umat Yahudi yang ingin melihat Tuhannya dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 55: "Dan (ingatlah) ketika berkata: hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan terang. Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya".

  1. Meneruskan amal

Banyak orang yang tidak beramal, mungkin karena mereka belum mengetahui bahwa amal itu akan bermanfaat bagi dirinya atau orang lain. Amal merupakan syarat utama mendapatkan kebahagiaan, disamping iman. Allah berfirman dalam Al Quran surat An-Nahl ayat 97: "Barangsiapa beramal sholeh baik laki-laki maupun perempuan maka dia kami beri kehidupan yang baik". Ada 4 hal yang dianggap sebagai penyakit mental yang berbahaya, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang serba modern sekarang ini. Keempat hal itu adalah: al jahlu (kebodohan terhadap agama), dha'ful iman (lemahnya iman), thulul amal (panjang angan-angan), dan aklul haram (memakan barang haram).

  1. Membersihkan jiwa untuk membentuk akhlakul karimah

Amal-amal lahiriah yang sudah baik, dan mengandung manfaat itu banyak yang rusak, disebabkan penyakit-penyakit hati, seperti sombong, riya', sum'ah, ujub, dan sebagainya. Islam mengajarkan agar manusia mempunyai akhlak yang mulia, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

  1. Mengukuhkan kepribadian

Islam menghendaki kepribadian seseorang berpola pada agama. Sehingga semua aktifitas hidupnya diwarnai dengan nafas agama Islam. Memang, Islam tidak mengenal pemisahan atau sekularisasi antara urusan agama dan keduniawian. Demikian pernyataan Allah dalam Al Quran surat Al–An'am ayat 162: "Katakanlah:  Sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku hanyalah untuk Allah tuhan semesta alam."

  1. Mengokohkan persaudaraan

Islam mengajarkan persaudaraan pada manusia. Bahkan, Allah memerintahkan kita untuk menyelesaikan masalah dan konflik yang terjadi antara sesama muslim. Sepelik apapun masalah itu, maka kita wajib menyelesaikannya. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10: "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu."

Demikianlah tulisan kami. Marilah di bulan kelahiran Nabi ini kita perbaharui semangat kita dalam menjalankan syari'at Islam dengan sempurna. Dan selanjutnya marilah kita ikut menjaga dan meneruskan dakwah nilai-nilai Islam yang ditanamkan oleh Nabi. Dengan itu kita berharap bisa mendapatkan barokah dan syafa'at beliau, terutama kelak di padang mahsyar, Amin Ya Robbal 'alamiin. Wallahu a'lam bis shawab.


*) Penulis adalah ketua MUI kota Malang, kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading Kasri, dan pengasuh Pondok Pesantren Anwarul Huda, Karang Besuki Malang.

Nabi Muhammad SAW  Maulid Nabi Muhammad