Kamis, 01 Nov 2018, 12:12 WIB

Perlunya Khusyu dan Hadirnya Hati dalam Melaksanakan Shalat

Perlunya Khusyu dan Hadirnya Hati dalam Melaksanakan Shalat
Sholat berjamaah di Masjid Baiturrahman - PP. Miftahul Huda Gading Malang. (Foto: Dok. PPMH)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.  (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (Q. S. Al-Baqarah : 45-46)


Perlunya Khusyu’ dan Hadirnya Hati

Banyak ayat Al-quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan hal tersebut, termasuk diantaranya ayat Al-Quran yang menyatakan, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku..” (QS. Thaha: 14)

Perintah ini jelas merupakan kewajiban. Karena lalai bertolak belakang dengan mengingat (dzikir), bagaimana mungkin seorang yang lalai dapat melakukan shalat dengan tujuan untuk mengingat Allah SWT? Allah SWT telah berfirman, “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai..” (QS. Al-A’raf: 205). Ayat itu menunjukkan secara gamblang bahwa kita dilarang keras (haram) untuk tidak termasuk golongan orang lalai. Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun..” (QS. An-Nisa: 43). Ayat ini menjelaskan mengenai alasan larangan bagi orang mabuk (untuk masik ke masjid). Akan tetapi pengertian mabuk tersebut telah diperluas, yaitu tentang kesangsian dan memikirkan duniawiyyah. Dan ketika Nabi Mauhammad SAW bersabda, “Shalat bukan sesuatu yang lain kecuali berserah diri dan berendah hati…” di sini menggunakan konstruksi bahasa Arab yang jelas secara khusus dan tegas (empatik, pasti).

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila shalat seseorang tidak mencegahnya dari perbuatan yang keji dan mungkar, maka ia tidak dapat apapun kecuali semakin bertambah jauh dari-Nya.” Dan shalat orang yang lalai memang tidak akan mencegahnya dari perbuatan keji dan kemungkaran.

Dalam Hadits Rasulullah SAW dinyatakan, “Banyak orang yang melaksanakan shalat, tetapi yang diperolehnya tiada lain hanyalah letih dan payah, karena melaksanakan shalat itu sendiri.” (HR. An-Nasai). Pada keterangan yang lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Tiada diperoleh seorang hamba dari shalatnya, kecuali apa yag ada dalam pikirannya pada saat melaksanakan shalat.” (HR. Abu Dawud, An-Nasai). Hal ini ternyata juga diperkuat oleh sebuah Hadits, “Ketika ia melaksanakan shalat, seorang hamba telah bercakap mesra dan akrab dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari-Muslim). Berbicara dengan Tuhan tanpa adanya kesadaran tentu bukan yang dimaksudakan dengan “mesra dan akrab dengan-Nya”.


Pelaksanaan shalat di antara ibadah yang lain

Untuk mengklarifikasi atau memperjelas persoalan-persoalan ini, marilah kita bandingkan antara shalat dengan zakat, puasa, haji dan lain-lainnya. Apabila seseorang mengeluarkan zakat tanpa kesadaran, tentu akan terasa amat berat, karena hal itu bertentangan dengan hawa nafsunya. Demikian pula seseorang yang berpuasa; karena ibadah itu dianggapnya akan menguras tenaga dan kekuatan (jasmaniyah) manusia. Juga mengendalikan hawa nafsu yang biasa diperalat oleh musuh nyata terlaknat, yakni setan. Tujuan dan tindakan seperti itu tentu tidak akan dapat dicapai dan dilakukan oleh orang yang lalai. Demikian juga dalam ibadah haji, ia merupakan ibadah yang tampak amat sulit berat, dan butuh perjuangan yang melelahkan. Mungkinkah ibadah-ibadah seperti itu dapat dilaksanakan tanpa diiringi dengan kesadaran penuh?

Berbeda dengan kewajiban-kewajiban lainnya, ibadah shalat memiliki unsur-unsur utama di dalamnya, dimana unsur-unsur itu adalah mengingat Allah (dzikrullah), membaca (Al-Quran), rukuk, sujud, berdiri, dan duduk. Dzikir dilakukan dengan berbicara dan bermunajat kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Mulia, dan menyatu dengan-Nya. Apabila pembicaraan tidak dapat berlangsung, maka yang terjadi tentu hanya oleh kata dan suara. Sekaligus merupakan ujian bagi lidah, sebagaimana perut dan kemaluan yang diuji dengan ibadah puasa (shaum), atau jasmani yang diuji dengan ibadah haji. Sedang rasa cinta kita terhadap harta diuji dengan perintah untuk menunaikan zakat. Tanpa diragukan lagi tentu ada kekeliruan pada bagian terakhir ini. Karena tidak ada yang teramat mudah bagi orang yang lalai kecuali dengan menggerak-gerakkan lidah. Oleh karena itu, hal tersebut tidak dapat dipandang sebagai olah jasmani yang teramat sederhana. Suara yang dilahirkan hanya akan bermakna apabila membentuk artikulasi ucapan. Dan artikulasi ini harus mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran dan hati, tentu saja hal tersebut tidak akan mungkin tanpa disertai dengan kesadaran pikiran dan batin (hati).


Manfaat Shalat

Apa yang bisa dipetik dari ibadah shalat, “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku jalan yang lurus” (Ihdinash shiraathal mustaqiim), apabila hati kita dalam keadaan lalai? Kalau hal tersebut tidak dimaksudkan sebagai ungkapan merendahkan diri dan doa ke hadapan Allah SWT, mengapa harus menggerk-gerakkan bibir tanpa tujuan, khususnya apabila telah menjadi kebiasaan?

Tujuan bacaan Al-Quran dan dzikir (dalam beberapa tingkat ibadah shalat) tiada lain kecuali dimaksudkan untuk memuji, mengagungkan, memohon, dan merendahkan diri, semata-mata hanya ditujukan kepada Allah SWT Yang Maha Besa dan Maha Agung. Hanya saja sering kali terjadi, hati tertabiri kelalaian kepada-Nya, bahkan mereka tidak mengetahui dan tidak menyadari kepada siapa doa tersebut ditujukan. Tentu akan merasa, betapa jauh hal tersebut dari tujuan shalat, yang mewajibkan dan dijadikan sarana penyucian hati, memperbaharui ingatan kepada Ilahi (dzikir) dan juga untuk menjaga simpul iman!

Kita telah mendiskusikan atau membahas tentang masalah tersebut, yakni bacaan Al-Quran dan dzikir kepada Allah SWT namun demikian pembahasan kita dalam masalah ini masih terlalu menitikberatkan pada unsur ucapan dalam shalat, belum pada unsur gerak. Bahwa (ternyata) tujuan rukuk dan sujud semata-mata dimaksudkan untuk mengagungkan Allah SWT semata. Apabila ada seseorang, lewat gerakan shalat yang dilakukannya bermaksud mengagungkan-Nya, maka orang semacam itu juga tidak akan pernah sadar apakah yang di hadapi sekedar patung atau tembok belaka. Dalam keadaan seperti itu, maka tujuan pengagungan Asma Tuhan kemudian merosot menjadi sekedar gerakan punggung dan kepala, dan makna sulitnya suatu ujian menjadi hilang.

 
Kewajiban shalat

Asshalatu ‘Imaadu Addin, bahwa shalat telah menjadi tiang (pilar) utama agama kita, dan tentunya juga merupakan kriteria paling mencolok sebagai pembeda antara muslim atau kafir. Ibadah shalat ini lebih didahulukan ketimbang haji dan bentuk ibadah lainnya. Dan telah ditetapkan bagi mereka yang sengaja mengabaikan shalat, akan mendapat hukuman yang teramat berat, yaitu hukuman “mati”. Al-faqir melihat ibadah shalat yang dilakukan dengan gerakan jasmani mempunyai kedudukan istimewa, karena ibadah ini merupakan sarana bagi hamba untuk berbicara akrab dengan Tuhannya. Inilah sebab, mengapa shalat mendapatkan prioritas lebih dibanding puasa, zakat, haji, dan ibadah lain; bahkan terhadap segala macam bentuk pengorbanan, yang berarti pula pengekangan hawa nafsu lewat pengurangan harta. Sebagaimana firman Allah SWT: ” Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik..” (QS. Al-Hajj: 37). Apa yang dimaksudkan dengan taqwa, sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Quran tersebut, adalah suatu pengendalian terhadap hati, sehingga mampu dan mau mengikuti segala perintah yang diberikan. Lalu apa makna shalat itu sendiri jika gerakan-gerakannya tidak memiliki tujuan? Mungkin pembaca akan berpendapat bahwa apa yang telah al-faqir kemukakan (ini) akan bertentangan atau berbeda dengan kesepakatan ulama fiqih (fuqaha’). Apabila saya menetapkan (menekankan) perlunya kesadaran penuh dalam setiap gerakan shalat sebagai syarat sahnya shalat, sementara mereka (fuqaha’) tersebut hanya mensyaratkannya pada saat melakukan takbiratul ihram, “Allahu Akbar”. Perlu pembaca pahami bahwa para ahli fiqih tersebut tidak meninjau hal-hal yang berkaitan dengan urusan batin atau (mungkin) betapa penting dan halusnya persoalan ukhrawi. Karena memang bidang serta perhatian para ahli fiqih bertumpu pada aspek lahiriyah hukum agama, dengan merujuk pada perbuatan fisik anggota badan semata… Mengenai manfaat ukhrawi (bagi dikehidupan akhirat kelak) dari masing-masing perbuatan tersebut, jelas diluar jangkauan dan pembahasan ilmu fiqih, sehingga tidak pernah ada konsesus tentang hal tersebut.

Sufyan Ats-Tsauri, seorang ahli fiqih periode awal Islam, pernah berkata, “Sesungguhnya tidak sah shalat yang tidak dilakukan secara khusyu’ dan disertai kesadaran hati.” Diriwayatkan pula bahwa Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Shalat yang dilaksanakan tanpa disertai kesadaran hati, akan mendekatkan (kita) pada siksaan.” Dikatakan pula oleh Mu’adz bin Jabal, “Barangsiapa sampai mengenal orang yang di sisi kanan dan kirinya, sementara ia tengah shalat, maka tiada (nilai) shalat baginya.” Junjungan kita baginda Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Walau seseorang melaksanakan shalat, tetapi mungkin pahala atau kebaikan yang diperolehnya hanya seperenam atau sepersepuluh shalat. Manusia hanya memperoleh bagian-bagian yang dilakukannya dengan kesadaran hati.” (HR. Abu Dawud, An-Nasai). Apabila hal ini diriwayatkan melalui orang yang lebih sedikit lagi, tentunya sudah menjadi sebuah madzhab (dogma). Kalau demikian, mengapa tidak pernah dijadikan pegangan secara serius?

Dikatakan oleh Abdul Wahid bin Zaid, “Para ulama telah sepakat bahwa manusia akan memperoleh kebaikan dari shalatnya hanya dari bagian-bagian yang dilakukannya dengan kesadaran.”


Kesimpulan

Singkat penulis, kesadaran hati merupakan inti ibadah shalat dan sekaligus penentu nilai shalat itu sendiri. Perhatian dan kesadaran pada takbir pertama (Takbiratul ihram) merupakan syarat minimum untuk menjaga agar inti tersebut tetap hidup.

Insyaallah pada kesempatan lain, al-faqir selanjutnya akan membahas lanjutan dari masalah diatas, tentang “Keadaan Batin Yang Kondusif Terhadap Penyempurnaan Makna Dalam Shalat”, yaitu: aspek kesadaran, pemahaman, pengagungan, kedahsyatan, harapan, dan rasa malu”.

Pembaca rahimakumullah, dengan mengakui segala kelemahan dan kehinaan kita semua sebagai makhluk berlumuran dosa serta mengakui dengan sepenuh hati akan kemuliaan dan sifat Rahman Rahim Allah SWT, mari kita berdoa semoga Allah SWT senantiasa mengulurkan kasih sayang dan rahmat-Nya kepada kita semua. Sehingga kita dijadikan-Nya menjadi orang yang beruntung sesuai yang termaktub dalam Firman-Nya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Allahumma Amin…

Wallahu A’lam


*) Penulis adalah staf Pengajar IAIN Sunan Ampel Surabaya

Sholat  Manfaat Shalat