Rabu, 17 Okt 2018, 12:27 WIB

Secarik Pesan KH. Abdurrahman Yahya dalam Bai'at Thoriqoh Qodiriyah

Secarik Pesan KH. Abdurrahman Yahya dalam Bai'at Thoriqoh Qodiriyah
Masayikh Pondok Pesantren Gading Malang. (Dok. PPMH)

“Sak ngalim ngalim e wong, lek durung mlebu thoriqoh iku, iman e mung separuh”
(Sealim alimnya manusia, kalau belum masuk thoriqoh itu imannya hanya separuh/ setengah)

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barang siapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Pengasih di dalam dunia dan akhirat, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka padanya setan sebagai teman yang selalu menyertainya”. (Az Zukhruf :36)

Setan tidak akan rela sebelum hati manusia lupa kepada Allah. Ketika hati seorang hamba lupa kepada Allah, barulah setan akan tenang, sebab di neraka kelak, akan ditemani oleh orang orang yang hati-nya seringkali lupa kepada Allah. Memang itulah tujuan setan dibumi, seperti dijelaskan pada Surah An-Naas ayat 4-5

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ// الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

Kalau kita mengingat kembali, ketika Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah. Setan tak mau bersujud kepada beliau saat diperintah oleh Allah. Dengan sombongnya setan berkata : “kok kulo kengken tunduk niku pripun gusti?” kulo njenengan ciptaaken saking api, wong nabi Adam niku lo namung saking tanah, saking lempung” Inilah setan, dia hanya memikirkan asal kejadiannya, dia melupakan siapa yang memerintah, siapa yang memberikan mandat.

“Sing diiling mung asal kedadiane, ora iling sopo sing ngongkon hurmat.”

Dia keluar dari ketaatan kepada Allah dengan sengaja, membangkang dan penuh kesombongan dari mengerjakan perintahNya karena dia memang memiliki tabiat yang buruk karena dia tercipta dari api, Singkat cerita, ia memohon kepada Allah untuk diberi kehidupan yang kekal hingga kiamat. Allah memperkenankan permohonannya itu. Iblis mengancam akan menyesatkan Adam sehingga ia terusir dari surga. Ia juga bersumpah akan membujuk anak cucunya dari segala arah untuk meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat bersamanya. Setan berhasil, Nabi Adam di turunkan ke bumi setelah keduanya hanyut dalam tipu daya. Sehingga melanggar wasiat / perintah Allah kepada mereka berdua. Dipisahkan dengan jarak yang begitu jauh. Sehingga bertemu di Jabal Rahmah, Padang Arafah. Setelah beratas-ratus tahun saling mencari. Apa doa yang dilantunkan nabi Adam saat itu sehingga bertemu dengan ibu hawa?

ربنا ظلمنا أنفسنا \ وان لم تغفر لنا \ وترحمنا لنكونن من الخاسرين

(QS. Al-A'raaf.:23)

Terdapat hikmah dari diturunkannya Nabi Adam dan Ibu Hawa. Dimulainya kehidupan manusia sebagai hamba Allah di bumi. Dimulainya kehidupan saling mencintai, antara makhluk dengan Khaliq, antara makhluk dengan makhluk di muka bumi. Beratus tahun Nabi Adam dengan ikhtiyarnya, dengan penyesalannya, barulah beliau diampuni dan ditemukan dengan Ibu Hawa. Hanya satu kesalahan Nabi Adam sehingga diturunkan ke bumi. Bagaimana dengan kita, umat Nabi Muhammad SAW yang tak pernah luput dari kesalahan. Ingatkah kita, sempatkah kita didalam keseharian menyempatkan melafalkan istighfar, dengan penyesalan memohon ampunan dari Allah Al Ghofur. Maka, dalam suatu riwayatnya, nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk beristighfar minimal 70 kali setiap harinya.

ber-Bai’at adalah berjanji setia, layaknya yang terjadi pada zaman Rosulullah SAW. Salah satu keuntungan orang yang telah berbaiat adalah orang tersebut telah memegang syarat utama masuk surga.

من كان اخر الكلام لااله الا الله دخل الجنه

Lafadz Laailaaha illallah adalah Miftahul Jannah. Kunci surga. Dengan berbaiat, mengikuti suatu thoriqoh al mu’tabaroh, layaknya Qodiriyah wa Naqsabandiyah, para abid (kawula/hamba allah) akan selalu dan selalu memegang kunci surga. Setidaknya, sepanjang 5 waktu dalam sehari, mulutnya tidak lepas dari lantunan lafadz laaailaaha illallah. Dengan dzikir yang kontinyu/yang rutin, hati akan terjaga. Hati akan dicuci dibersihkan dari penyakit penyakit hati yang berbahaya. Seperti sifat hasud yang memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar, sifat iri, drengki, yang kesemuanya bermuara pada kemunafikan. Tiada tempat yang lebih buruk dari orang-orang munafiq.

وعن إبي هريرة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلًّمَ قَالَ : " إِيَّاكُمْ وَالحَسَدَ ، فَإِنَّ الحَسَدَ يَأْكُلُ الحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الحَطَبَ ." أَوْ قَالَ " العُشْبَ (1

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (2

(An Nisa’ - 145)

Penyakit hati disebabkan lupa akan mengingat Allah. Yang lama kelamaan membentuk penyakit hati. Hati akan berkarat, ketika pemilik tidak menjaga hati dengan jalan mengingat Allah. Diibaratkan dengan “Paku cilik karatenae mbahayani lek mlebu sikil. Opo maneh atine sing karaten”. Salah satu cara mengobati karat hati yaitu dengan berdzikir yang terdapat guru didalamnya (mursyid), yang mana akan bersanad, bersambung hingga Rosulullah SAW.

Terakhir dalam kalamnya, *KH Abdurrahman Yahya menuturkan “surgo iku rijik, ora pantes wong sing duwe karat ati, akeh rusuh rusuh e kok mlebu surgone pengeran”

 

*) KH Abdurrahman Yahya merupakan pengasuh PP.Miftahul Huda Gading Malang dan secara istiqomah memberikan kajian kitab kuning kepada para santri seperti Ihya Ulumuddin, Risalatul Muawwanah dan Nihayatuz zain.

Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah  Pesan Kyai  KH. Abdurrahman Yahya