Kamis, 08 Nov 2018, 19:32 WIB

Rabu Wekasan; KH. Ahmad Arif Yahya Tekankan Pentingnya Shalat

Rabu Wekasan; KH. Ahmad Arif Yahya Tekankan Pentingnya Shalat
KH. Ahmad Arif Yahya dalam rangkaian Acara Haul dan Manaqib Kubra Syekh Abdul Qodir Al-Jailani RA. (Dok. PPMH)

Malang. Hari ini, 6 November 2018 pas bertepatan dengan hari Rabu di bulan Safar yang berposisi sebagai ‘pungkasan’ (baca: akhir bulan). Sudah menjadi tradisi di Nusantara, wabilkhusus warga nahdliyin melakukan amalan-amalan di hari Rabu terakhir bulan Safar, atau yang lebih familiar dengan istilah ‘Rabu Wekasan’. Tak terkecuali juga di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading Malang yang selalu mengadakan amalan Rabu Wekasan pada setiap tahunnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ini, amaliah Rabu Wekasan di Pondok Gading dilaksanakan pada pagi hari. Dimulai dari sekitar pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 sebelum duhur. Para santri bersama-sama warga masayrakat gading dan sekitarnya berbondong-bondong menuju masjid pondok, Baiturrahman. Uniknya, meskipun hari ini adalah hari Rabu, tapi suasana masjid serasa seperti hari Jum’at karena banyaknya jamaah yang memenuhi masjid hingga melebar ke depan nDalem K.H. Muhammad Sohibul Kahfi.

Sebelum sholat sunnah mutlak menolak balak didirikan, K.H. Ahmad Arif Yahya memberikan bebera penjelasan penting. Diantaranya sebagai berikut:

Pertama, beliau menyampaikan bahwa di hari ini, Allah menurunkan 320ribu bala’. Takdir Allah dibagi menjadi dua: yakni takdir mubram dan takdir muallaq. Takdir mubram, memang sudah kepastian dan kita tidak dapat mengelaknya. Namun, kita bisa berdo’a kepada Allah agar dihindarkan dari bala’. Selain berdo’a, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. karena “ashodaqotu lidafil bala’”. Sedekah itu dapat menangkal bala’.

Kedua, beliau menjelaskan bahwa amaliah sholat sunnah ini penting. Kalau ada orang beranggapan: saya sudah sholat, tapi kog masih tetap saja terkena musibah, kalau begitu sama saja dong, sholat atau gak sholat tetap terkena musibah. Beliau dengan tegas menyatakan : “Lho… ampun salah paham” (jangan keliru). Cara berpikir kita itu harus dirubah: “wong sing sholat mawon kenek musibah, nopo malih sing mboten”. (orang yang sholat saja terkena musibah, apalagi yang tidak sholat). Kalau pun ada orang yang tidak pernah sholat tapi aman-aman saja (tidak terkena musibah), awas…. .! Jangan-jangan itu merupakan istidraj dari Allah. Istidraj lebih berat tanggungannya di akhirat, karena ketika di dunia ia ibarat “dimanja” (dalam arti dijarno : dibiarkan) sama Allah. Jadi siksaanya menumpuk sekalian nanti di akhirat. Lho… itu kan lebih ngeri. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa dengan sholat setidaknya hal itu menjadi ikhtiar kita untuk berdoa kepada Allah. Bala’ dari Allah memag sudah pasti diturunkan, namun kita kan bisa berdo’a semoga dihindarkan dari bala’ tersebut. Atau jika pun kita ditakdirkan terkena musibah, setidaknya memohon untuk diringankan. Maka dari itu, marilah kita bertaubat, mohon ampunan dan belas kasihan Allah, karena banyak dari musibah itu datang sebab dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Ketiga, Kiai menjelaskan pentingnya menjaga sholat lima waktu. Sebab perbedaan antara orang muslim/mukmin dengan orang kafir cuman satu. Apa itu? Ia tidak meninggalkan sholat. Sholat adalah sarana mi’raj kita kepada Allah. Ia adalah imadu ad-din (tiang agama). Ia dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Sebegitu pentingnya sholat, sampai-sampai Allah sendiri yang langsung memberikan perintah ini kepada Baginda Nabi Muhammad saw, tanpa melalui perantara malaikat Jibril.

Kiai menegaskan: jangan sampai kita ini meninggalkan sholat. Bahasa beliau kira-kira seperti ini: “Ampun ngeremehaken sholat! lek wonten sing ngimutaken: ayo sholat. Ojok malah dijawab ‘ngko ndisek ah’. Sholat.e diundur-undur akhire malah ketileman. Lek pun ngoten akhire diqodho. Lho… ngodho’ sholat lantaran ngeriaken sholat kelawan disengojo iku duso gede. Berarti wong mau sampun ngeremehaken sholat! Nopo malih lek sampun dinasehati ojok ngremehaken sholat lan ninggalaken sholat, kog jawabane malah “gak popo” , lho berarti tiyang niku sampun murtad! Anggite sholat iku gak penting opo?. Padahal niku perintah wajib, langsung saking gusti Allah. Lha lek wis murtad yaknopo? berarti kumpulan suami istri nggih dadi zino”.

(Jangan meremehkan sholat! Kalau ada yang mengingatkan kita: ‘ayo sholat’. Jangan malah dijawab: ‘nanti dulu ah’. Sholatnya diundur-undur, akhirnya malah ketiduran. Kalau sudah begitu, akhirnya sholatnya diqodho’. Lho… menqodho’ sholat sebab mengakhirkan sholat dengan sengaja itu dosa besar. Berarti orang itu sudah meremehkan sholat! Apalagi kalau sudah dinasehati jangan meremehkan sholat dan meninggalkannya, kog malah dijawab : ‘tidak apa-apa’, lho berarti orang itu sudah murtad! dia pikir sholat itu tidak penting apa? Padahal itu perintah wajib, langsung dari gusti Allah. Nah kalau sudah murtad bagaimana? Berarti kumpul suami istri ya menjadi zina)

Kiai Ahmad juga menekankan kepada jama’ah: “ampun sampe’ nggih, keluarga kita, dulur-dulur kito kados mekaten. Lek pengen ngertos sepinten gedene dusone wong kang ninggalaken sholat kelawan sengojo, monggo kito wangsul ten riwayat kisahe pun Nabi Musa a.s”.

(jangan sampai ya, keluarga kita, saudara kita menjadi seperti itu. Kalau ingin tahu seberapa besarnya dosanya orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja, mari kita kembali pada kisahnya Nabi Musa a.s)

Kemudain Romo Yai pun melanjutkan hikayah Nabi Musa a.s bahwa suatu hari ketika Nabi Musa sedang memberikan pengajian di depan umatnya, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang kepada beliau dan langsung memotong pembicaraan, sembari ia berkata : “wahai Nabi Musa, sesungguhnya aku telah melakukan dosa yang sangat besar, apakah aku bisa diampuni?”

Lalu dijawab oleh Nabi Musa : “bisa”. Nabi Musa pun melanjutkan kembali pengajiannya. Kemudian si wanita itu kembali memotong pembicaraan dan bertanya dengan pertanyaan yang sama : “wahai Nabi Musa, sesungguhnya aku telah melakukan dosa yang sangat besar, apakah aku bisa diampuni?”, begitu seterusnya sampai tiga kali ia memotong dan bertanya.

Akhirnya Nabi Musa bertanya balik : “memangnya dosa apa yang telah kau lakukan?” Wanita itu menjawab : “aku malu mengatakannya wahai Nabi, dosaku sangat besar”. Lalu ditanya lagi oleh Nabi : “Memangnya dosa apa yang telah kau lakukan?” ,

Akhirnya wanita itu pun mau menjawab : “sesungguhnya aku telah berbuat zina kepada seorang laki-laki”. Nabi Musa kembali bertanya : “terus?” , si wanita melanjutkan : “terus aku mengandung dan melahirkan seorang anak”. Ditanya lagi oleh Nabi Musa: “terus?” , si wanita menjawab : “aku bunuh bayi itu wahai Nabi”. Sontak, Nabi Musa menjawab : “Pergilah kau wahai wanita, cepat pulang lah dan pergi dari tempat ini!”

Akhirnya wanita tersebut meninggalkan tempat itu dengan menangis sejadi-jadinya, melewati padang pasir yang gersang sembari terus menangis menyesali perbuatannya. Tidak lama kemudian malaikat Jibril diutus Allah untuk turun menemui dan menegur Nabi Musa. Malaikat Jibril berkata : “Wahai Nabi, mengapa engkau usir wanita itu? Padahal dia ingin bertaubat”. Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya wanita itu telah melakukan dosa yang sangat besar, aku khawatir sebab dosanya, Allah akan menurunkan bala’ kepada umatku, nanti orang yang tidak salah pun ikut terkena imbasnya. Maka, mumpung Allah belum menurunkan bala’-Nya, aku segera mengusirnya jauh-jauh”.

Kemudian Malaikat Jibril pun berkata : “wahai Nabi Musa, sesungguhnya ada dosa yang lebih besar daripada perbuatan yang telah dilakukan wanita itu”. Nabi Musa kaget, lalu bertanya kepada malaikat Jibril : “Dosa apakah itu ya Jibril?” Malaikat jibril menjawab : “Yaitu dosanya orang-orang yang dengan sengaja meninggalkan (meremehkan) sholat”.

Bisa dibayangkan betapa besarnya dosa orang yang sengaja meninggalkan sholat. Kiai Ahmad kembali menekankan bahaya perbuatan tersebut melalui hikayah ini. Di akhir wejanganya, Kiai Ahmad mendo’akan kepada seluruh jama’ah semoga diri kita, keluarga kita semuanya, diberikan keselamatan oleh Allah. Kemudian beliau menjelaskan kaifiah tata cara sholat sunnah mutlak tolak bala’.

Hal yang cukup menarik dalam amalan rabu wekasan di pondok gading adalah setelah selesai sholat dan do’a, semua santri dan jamaah saling ber-musofahah dengan Kiai. Hal ini mengandung nilai filosofis yang cukup tinggi: yakni kita harus saling memafkan antar sesama. Setelah mengakui kesalahan kepada Allah (taubatan nasuha), selanjutnya kita juga mengakui kesalahan kepada sesama manusia. Setelah itu, para santri dan jama’ah berebut air rajah untuk ngalap barokah.*

Sholat  Shalat Rabu Wekasan  KH. Ahmad Arif Yahya