Jumat, 12 Okt 2018, 02:03 WIB

Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
Walisongo, tokoh penyebar agama Islam di Nusantara - Indonesia

Sejarah Awal

Sejarahwan M.C Ricklefs dalam bukunya yang berjudul sejarah Indonesia modern 1200-1800 berpendapat bahwa penyebaran Islam di Nusantara merupakan peristiwa yang paling penting, tapi juga yang paling tidak jelas. Pernyataan ini menunjukkan betapa rumitnya peristiwa dakwah Islam di Indonesia yang bahkan tidak mudah untuk dipelajari oleh seorang ahli sejarah sekalipun. Berdasarkan sumber berita dari Dinasti Tang tentang kedatangan saudagar Tanzhi (Arab) ke Kalingga pada tahun 674 M adalah petunjuk bahwa Islam telah masuk ke Nusantara dari masa awal kemunculan Islam itu sendiri.

Pada dasawarsa akhir abad ke-13, Marcopolo yang kembali dari Cina melalui laut, mencatat bahwa kapal yang ditumpanginya singgah di Perlak. Di Negeri perlak, Marcopolo melihat penduduk disana dibagi menjadi tiga golongan yaitu kaum muslim Cina, kaum muslim Persia-Arab, dan penduduk pribumi yang memuja roh-roh nenek moyang. Dalam catatan sejarah perjalanan Laksamana Cheng Ho yang singgah di Nusantara disebutkan bahwa ajaran Islam belum dianut oleh penduduk pribumi. Bahkan dari catatan Ma Huan yang ikut dalam perjalanan bersama Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M menyatakan bahwa penduduk disepanjang pantai utara jawa terdiri dari tiga golongan yaitu muslim Cina, kaum muslim Persia-Arab, dan penduduk pribumi yang memuja roh-roh nenek moyang. 

Dari berbagai keterangan tersebut meskipun Islam sudah masuk Nusantara antara tahun 674 M hingga 1433 M atau hampir sekitar delapan ratus tahun, ternyata agama Islam belum dianut oleh penduduk pribumi. Dari catatan tersebut tentu ada tantangan yang sangat besar bagi Islam untuk bisa dianut oleh penduduk pribumi, karena meskipun Islam sudah datang selama hampir delapan ratus tahun, penduduk pribumi masih menganut ajaran nenek moyang.

Namun catatan lain ditulis oleh Tome Pires yang mengunjungi Jawa pada tahun 1515 M dalam bukunya Suma Oriental dituliskan bahwa sepanjang pesisir utara Jawa telah dipimpin oleh adipati-adipati muslim. Catatan yang sama juga ditulis oleh A. Pigafetta yang berkunjung ke Jawa pada tahun 1522 M yang menyatakan pesisir pantai utara telah dipimpin oleh adipati-adipati Islam. Berdasarkan catatan-catatan sejarah tersebut, ada perubahan yang drastis terkait dengan masuknya Islam di Nusantara. 

Berdasarkan catatan Dinasti Tang dan Marcopolo diperoleh fakta bahwa Islam telah ada di Nusantara hampir delapan ratus tahun namun tidak pernah dianut oleh penduduk pribumi secara masif. Namun pada catatan sejarah yang ditulis oleh Tome Pires dan A. Pigafetta menyatakan bahwa pesisir pantai utara Jawa telah dipimpin oleh adipati-adipati muslim. Artinya, dalam kurun tempo kurang dari 100 tahun, Islam sudah dianut oleh penduduk pribumi. Catatan sejarah ini membuat sebagian ahli sejarah bingung. Mengapa hanya dalam tempo kurang dari seratus tahun penduduk pribumi bisa menerima ajaran Islam.

Peran Walisongo

Walisongo adalah tonggak penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Nusantara. Karena meskipun ajaran Islam telah masuk ke Nusantara melalui saudagar-saudagar Arab sejak tahun 674 M tetapi Islam tidak dianut oleh penduduk pribumi. Sebaliknya kedatangan Walisongo pada periode perempat akhir abad ke-15 hingga paruh kedua abad ke-16 telah merubah struktur sosial, politik, budaya dan agama penduduk pribumi. 

Salah satu sebab mengapa ajaran Islam tidak bisa diterima oleh penduduk pribumi pada periode awal adalah karena ajaran Islam dibawa oleh saudagar Arab, yang menurut struktur masyarakat ketika itu masuk kedalam kasta Sudra atau kasta terendah ketika itu. Sedangkan alasan dakwah Walisongo bisa diterima karena Walisongo dipandang oleh penduduk pribumi termasuk kedalam kasta Brahma atau kasta tertinggi ketika itu. 

Dalam sejarahnya, keberadaan Walisongo berkaitan dengan kehadiran muslim Champa ke tanah Jawa yang ditandai dengan kemunculan tokoh Sunan Ampel sebagai sesepuh Walisongo. Kelak dari keluarga dan murid-murid beliaulah ajaran Islam bisa menyebar hingga pelosok Nusantara.

Sejarah mencatat rentang waktu 1446-1471 M sebagaian besar penduduk Champa yang beragama Islam berbondong-bondong mengungsi ke Nusantara. Rentang waktu itu terkait dengan terjadinya proses Islamisasi secara besar-besaran di Nusantara, yang dikenal sebagai masa awal Walisongo. Gerakan dakwah walisongo sendiri menyampaikan ajaran Islam melalui pendekatan bersifat sosio-kultural-religius lewat asimilasi dan sinkretisasi dengan adat budaya keagamaan yang ada di Nusantara. 

Dengan proses tersebut, gerakan dakwah Walisongo lebih bisa diterima oleh para penduduk meskipun cara penyebarannya tidak bisa instan. Hal itu bisa dilihat pada ajaran Islam yang dianut oleh penduduk secara besar-besaran oleh generasi yang lebih muda dibandingkan dengan generasi awal Sunan Ampel.

Walisongo sendiri pada dasarnya adalah semacam lembaga dakwah yang berisi tokoh penyebar agama Islam yang berdakwah secara terorganisir dan sistematis. Berdasarkan karakter dakwah walisongo, ajaran Islam diajarkan melalui kaum sufi yang sangat terbuka, luwes dan adaptif dalam menyikapi ajaran sebelum Islam. 

Usaha dakwah Walisongo yang bersifat asimilatif dan sinkretik secara faktual dapat disimpulkan bahwa Islam di Nusantara tidak mungkin disebarkan oleh saudagar-saudagar Arab maupun ulama fikih yang memiliki banyak mahzab. Salah satu bukti peranan sufisme dalam penyebaran Islam terlihat jejaknya pada sastra-sastra sufistik pasca Walisongo yang ditulis dalam bentuk tembang, kidung, syair dan hikayat. 

Dari uraian diatas, begitu besarnya peranan Walisongo terhadap penyebaran ajaran Islam di Nusantara. Hanya kurang dari seratus tahun ajaran mereka telah merubah struktur sosial, budaya, politik dan agama di Nusantara. Sudah sepatutnya kita sebagai pewaris dari ajaran Walisongo banyak berterima kasih, karena merekalah yang membentuk peradaban baru setelah runtuhnya Majapahit. (ew)

Sumber: Atlas Walisongo

Walisongo  Rubrik MIFDA