Selasa, 24 Apr 2018, 11:17 WIB

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

Sejarah - Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang atau yang lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Gading Malang didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. Pondok ini lebih masyhur dengan sebutan Pondok Gading karena tempatnya berada di kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Pondok Pesantren Gading Malang merupakan pondok pesantren tertua di Malang dan yang ke tiga di Indonesia setelah Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur (1718 M) dan Jamsaren, Jawa Tengah (1750M).

KH. Hasan Munadi wafat pada usia 125 tahun. Beliau mengasuh pondok pesantren ini selama hampir 90 tahun. Beliau meninggalkan empat orang putra yaitu: KH. Isma'il, KH. Muhyini, KH. Ma'sum dan Nyai Mujannah. Pada masa itu, Pondok Gading belum mengalami perkembangan yang signifikan.

Setelah KH. Hasan Munadi wafat, Pondok Gading diasuh oleh putera pertama beliau yang bernama KH. Ismail. Dalam menjalankan tugasnya yaitu membina dan mengembangkan pondok pesantren, generasi kedua ini dibantu oleh keponakannya sendiri yaitu KH Abdul Majid. Karena tidak mempunyai keturunan, maka KH. Ismail mengambil salah seorang puteri KH. Abdul Majid yang bernama Nyai Siti Khodijah sebagai anak angkat. Puteri angkat ini kemudian beliau nikahkan dengan salah seorang alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda, Jampes Kediri Yaitu KH. Moh. Yahya yang berasal dari daerah Jetis Malang.

Kepada KH Moh. Yahya inilah KH. Isma'il menyerahkan pembinaan dan pengembangan Pondok Gading. KH. Ismail kemudian wafat pada usia 75 tahun setelah mengasuh Pondok Gading selama 50 tahun. Sebagai pengasuh generasi ketiga, KH. Moh. Yahya memberi nama pondok pesantren gading dengan nama "Pondok Pesantren Miftahul Huda". Beliau mengizinkan para santrinya untuk menuntut ilmu di lembaga formal di luar pesantren. Sebuah kebijakan yang cukup berani dan tergolong langka saat itu. Ternyata dengan kebijakan ini, Pondok Gading berkembang semakin pesat.

Selama mengasuh Pondok Gading ini, Beliau selalau mewanti-wanti para santrinya agar tidak keliru dalam niatnya. Pesan beliau yang sampai kini dteruskan oleh putra-putra beliau dalam membina para santri adalah "Niatmu ojo keliru. Nomer siji niat ngaji, nomer loro niat sekolah. Insya Allah bakal hasil karo-karone" (Niatmu jangan sampai keliru. Yang pertama adalah niat mengaji dan niat yang kedua adalah niat sekolah/kuliah, Insya Allah akan berhasil kedua-duanya).

Pada tanggal 4 Syawal 1391 H atau 23 November 1971 M, KH. Moh. Yahya pulang ke Rahmatullah, tepat 37 hari setelah meninggalnya putra pertama beliau yang bernama Kyai Ahmad Dimyathi Ayatullah Yahya. Setelah KH. Moh. Yahya wafat Pondok Pesantren Miftahul Huda ini diasuh oleh putera-putera beliau secara kolektif (bersama-sama). Putera-putera beliau itu adalah KH. Abdurrohim Amrullah Yahya, KH. Abdurrahman Yahya dan KH. Ahmad Arief Yahya. Di samping itu juga dibantu oleh para menantu beliau yaitu KH. Muhammad Baidlowi Muslich dan Ust. Drs. HM. Shohibul Kahfi, M.Pd.

KH. Baidlowi Muslich  KH. Ahmad Arif Yahya  KH. Abdurrahman Yahya  KH. Muhammad Yahya  KH. Shohibul Kahfi, M.Pd