Rabu, 28 Nov 2018, 23:15 WIB

Sunan Bayat; Putra bupati pertama Semarang

Sunan Bayat; Putra bupati pertama Semarang
Pintu Gapura Menuju Makam Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah (Sunan Bayat)

Di Kecamatan Bayat, Klaten, tepatnya di kelurahan Paseban, Bayat, Klaten terdapat Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat yang memiliki desain arsitektur gerbang gapura Majapahit. Makam yang memiliki jarak 295 km dan menghabiskan waktu kira-kira 8 jam lebih dari kota Malang ini, adalah salah satu tempat wisata ziarah Wali bagi masyarakat Indonesia, terkhususkan masyarakat yang merupakan penduduk Pulau Jawa. Pengunjung dapat memarkir kendaraan di areal parkir serta halaman Kelurahan yang cukup luas. Sebelum menuju ke Makam, pengunjung melewati Pendopo yang berada di depan Kelurahan Desa Paseban, di sebelah timur Pendopo, Pengunjung dapat membeli berbagai macam oleh-oleh di Pasar Seni sebelum mencapai puncak Jabalkat (makam Sunan Bayat). Setelah mendaki sekitar 250 anak tangga, akan ditemui pelataran dan Masjid yang dijaga atau dirawat oleh para abdi ndalem. Pemandangan dari pelataran akan nampak sangat indah di pagi hari.

Nama asli Sunan Bayat adalah; Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah. Nama lain atau Gelar-gelar Sunan Bayat adalah; 1. Pangeran Mangkubumi, 2. Susuhunan Tembayat, 3. Sunan Pandanaran (II), kata-kata Pandanaran juga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu Pandan arang artinya kota Suci, 4. Wahyu Widayat.

Beliau Hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (Pada abad ke-16 M, di era Kesultanan Demak tersebut, Jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri, Dan Sunan Giri mendirikan Kerajaan di daerah Giri-Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan Kerajaan bagian dari kesultanan Demak)

Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usul beliau, namun semua sepakat bahwa Beliau adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran-ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.

Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk membimbingnya. Ki Ageng Pandanaran yang pada saat itu telah menjadi orang yang selalu mendewakan harta keduniawiaan. Namun berkat bimbingan dan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran bisa disadarkan dari sifatnya yang buruk itu, akhirnya Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga dan menyamar sebagai penjual rumput. Setelah menyadari kelalaiannya, Beliau lantas memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi sebagai bupati dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.

Sunan Kalijaga menyarankan Ki Ageng Pandanaran untuk berpindah ke selatan, tanpa membawa harta, melainkan hanya didampingi isterinya. Beliau melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, dan Wedi. Namun, diam-diam tanpa sepengetahuannya, sang istri membawa tongkat bambu yang di dalamnya dipenuhi permata. Dalam perjalanan mereka dihadang oleh kawanan perampok yang ingin merampas perhiasan itu.

Tak elak, maka terjadilah perkelahian diantara mereka, namun atas pertolongan Allah pasangan suami istri ini berhasil memenangkan perkelahian, tak hanya itu, Allah SWT juga mengutuk pimpinan perampok, sang pemimpin berubah menjadi sesosok mahluk dengan perawakan manusia tetapi berkepala domba. Setelah terjadi demikian, akhirnya pemimpin itu menyadari dan menyesal dengan segala perbuatannya, lantas ia menyatakan diri sebagai pengikut Sunan Pandanaran.

Sunan Pandanaran merasa iba pada pimpinan perampok itu, maka diajaklah dia untuk menemui gurunya yaitu Sunan Kalijaga, kemudian dengan izin Allah, kepala pemimpin perampok tersebut berubah menjadi kepala manusia seperti semula. Karena peristiwa itu beliau akhirnya dikenal dengan sebutan Syekh Domba. Salah satu tugas Syekh Domba setelah kejadian itu adalah mengisi tempat wudhu yang berupa padasan atau gentong pada masjid di puncak bukit Jabalkat, Bayat.

Akhirnya Ki Ageng Pandanaran berhasil sampai dan menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat. Beliau menyiarkan Islam kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya beliau mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu beliau disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat, sesosok wali yang berjasa mengislamkan daerah Bayat.

Banyak orang beranggapan bahwa belumlah sempurna ziarah makam walisongo kalau belum menziarahi makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran yang terletak di puncak Gunung Jabalkat Bayat Klaten ini. Di Yogyakarta nama Sunan Pandanaran sudah terkenal, terlebih bagi masyarakat yang berada di pesantren. Dikarenakan, terdapat sebuah Pondok Pesantren yang terkenal santri tahfidz-nya di daerah kaki gunung Merapi yang didirikan oleh K. H. Mufid Mas’ud. Pondok tersebut diberi nama “Pondok Pesantren Sunan Pandanaran”. Beliau sendiri adalah keturunan ke-14 dari Sunan Pandanaran.

Sunan Bayat  Gunung Jabalkat  Sunan Kalijaga