Thoriqoh

Share Button

Sekilas Tentang Thoriqoh

 

Secara sederhana, thoriqoh merupakan sebuah cara untuk mendekatkan diri (taqarrub)kepada Allah Swt. Dengan demikian thoriqoh merupakan amaliyah tasawuf yang cukup berkembang di dunia Islam, terbukti dengan banyak munculnya jam’iyah-jam’iyah thoriqoh. Tujuan dibentukkan jam’iyah tersebut tiada lain kecuali mendekatkan diri dan mencari ridho Allah Swt. Dalam al-Qur’an dinyatakan: “Dan bahwa jika mereka tetap (istiqomah) menempuh jalan itu (thoriqoh), sesungguhnya akan Kami berikan rizki/rahmat yang berlimpah-limpah” (QS. Al-Jin:16).

Pada dasarnya, thoriqoh merupakan ilmu yang digunakan untuk mengetahui hal, ihwal atau pertingkah nafsu dan sifat-sifat hati. Dengan thoriqoh dapat diketahui mana sifat yang madzmumah(sifat yang tercela menurut syara’) kemudian dijauhinya, dan mana sifat yang mahmudah (sifat terpuji menurut syara’) kemudian diamalkannya.

Dengan melakukan ilmu thoriqoh, seorang Salik (orang yang menetapkan hati menempuh jalan akhirat dangan selamat) berupaya semaksimal mungkin untuk bisa sampai pada derajat mengosongkan hati dari sifat-sifat yang menipu.

Thoriqoh Kyai Yahya

Kyai Yahya yang merupakan mursyid thoriqoh mempelajari ilmu tasawuf dan thoriqoh sejak berusia muda. Ketika menyantri di Pesantren Mbungkuk, Singosari, beliau mendalami ilmu tasawuf kepada Al-Allamah Al-Masyhur bi Waliyillah Kyai Thohir, sekaligus bait Thoriqoh Kholidiyah. Merasa belum cukup, beliau belajar lagi kepada seorang ahli fiqh dan tasawuf, yakni Al-Allamah Kyai Abbas, yang juga pengasuh Pondok Cempaka, Blitar. Namun pendidikan tasawuf paling lama, beliau peroleh di Pondok Jampes yang diasuh oleh KH. Dahlan, Kediri.

Suatu ketika Kyai Yahya sowan kepada Kyai Dahlan untuk meminta ijazah dzikir untuk menambah amaliyah thoriqohnya. Namun, Kyai Dahlan tidak memberi, justru mengatakan kelak guru thoriqoh akan datang sendiri. Selang waktu 30 tahun, datanglah seorang guru thoriqoh yaitu KH. Zainal Makarim, seorang ulama’ dari Boyolali. Beliau mengatakan: “Ilmuku tak wehno sampeyan kabeh” (ilmuku saya berikan kepadamu semua). Disitulah Kyai Yahya mendapat ijazah sebagai khalifah dan Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Jabatan tersebut dikuatkan oleh pimpinan thoriqoh Mu’tabaroh Indonesia waktu itu, yakni Al-Mukarrom Romo KH. Muslih Mranggen, Semarang, pada 30 Oktober 1967.

Setelah Kyai Yahya wafat, Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah diteruskan oleh putra beliau, dan sampai saat ini Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah diteruskan oleh KH. Abdurrahman Yahya.

Share Button